Oma menawarkan Shana untuk tinggal di rumahnya sementara waktu karena Shana selalu terlihat sedih di rumah, terutama ketika Shana melihat kamar ayahnya, ruang kerja ayahnya dan ayunan halaman belakang. Sebelum oma dan opa tiba, Shana sempat masuk ke kamar ayahnya. Ia memandang keseluruhan kamar, sisi hingga sisi. Pandangan Shana terhenti pada sebuah kotak yang terlihat asing, terletak di antara foto ayah dan bundanya serta foto ia dan ayahnya. Shana mendekat dan mengambil kotak tersebut. Di dalam kotak tersebut terdapat selembar surat. Shana membacanya dan tak lama meneteskan air matanya. Surat tersebut merupakan surat yang ditulis Nada sehari sebelum ia melahirkan Shana.
Sam, kalo terjadi sesuatu sama aku kamu jagain putri kita terus ya. Jangan sampai ia sekalipun merasakan kehilangan seperti yang sering aku rasakan. Pastikan ia selalu tersenyum bahagia dan tak satu tetes air mata pernah menetes dari mata indahnya.
I love you.
-Nada-
"Kenapa ayah pergi? Padahal bunda bilang jangan sampai Shana pernah ngerasain kehilangan. Kenapa yah?," ucap Shana sambil memegang surat di tangannya dan menatap foto ia dan ayahnya.
--------------------------------------------------------------
Kesedihan rupanya masih dirasakan oleh Izzan. Sudah hampir 10 menit Izzan hanya mengaduk-aduk makan siang di hadapannya tanpa semangat.
"Bi," panggil Isyraf.
Izzan masih melamun, tidak mendengar panggilan putra sulungnya.
"Bi," panggil Ikram lebih keras.
Akhirnya Izzan melihat ke arah suara, menatap bingung 3 wajah di depannya. Ia bahkan tidak sadar mereka bertiga telah menghabiskan makan siang dan menyisakan piring kosong di atas meja makan.
"Abi yang selalu ngajarin kita berdua buat selalu menghadapi masalah dengan kepala dingin," ucap Isyraf.
"Abi juga yang bilang kalo Allah itu selalu mendengar doa umatnya," tambah Ikram.
"Abi sampai kapan mau kaya gini?" tanya Isyraf.
"Kalo abi aja ga kuat gimana kita mau nguatin Shana," ujar Ikram.
"Maafin abi," ucap Izzan akhirnya.
"Jangan minta maaf sama kita bi," jawab Ikram.
"Shana butuh kita bi," ucap Isyraf.
Izzan jadi teringat malam dimana ia sangat marah kepada abinya. Ia juga mempertanyakan semua yang abinya pernah ajarkan. Ia bahkan menyalahkan pencipta-Nya atas apa yang menimpa Shana dan keluarganya. Izzan lalu membenarkan perkataan dua putranya. Mereka benar, Izzan sendiri harus kuat agar bisa menguatkan Shana.
Hal yang sama juga terjadi pada Gege. Hampir setiap malam Gege duduk di halaman belakang dan hanya melamun menatap langit.
"Dad, c'mon," ucap Jef mendekati Gege.
"Yang Shana butuhin sekarang bukan dad dengan wajah sedihnya yang kerjaannya cuma ngelamun tiap hari di sini," tambahnya.
"Tapi dad yang suka jailin Shana, yang selalu bikin Shana ketawa," tambah Rev yang tak lama muncul.
"Gimana Shana mau berhenti sedih kalo dad juga sedih terus?" tanya Jef.
"Shana butuh kita dad, kita yang kuat biar Shana juga kuat," sambung Rev.
Gege menatap Jef dan Rev bergantian, tidak menyangka mereka lebih dewasa daripada dirinya. Ia tersenyum singkat.
"Sorry," ucap Gege.
--------------------------------------------------------------
Shana perlahan mulai menunjukkan keceriaannya, meskipun tanpa ada yang tau Shana suka ke rooftop kampus dan sesekali menangis ketika merindukan ayahnya, sama seperti hari ini. Shana seharian hanya duduk di rooftop, ia sedang tidak ingin berada di kelas dan memperhatikan dosen mengajar.
Bintang yang selama ini satu kampus dengan Shana juga sudah mengetahui kabar kepergian ayahnya. Dan sepertinya Bintang lah satu-satunya yang mengetahui tempat favorit Shana di kampusnya ini. Ya, dari dulu hingga sekarang Bintang hanya memperhatikan Shana dari jauh.
Hari ini hari terakhir Bintang di Indonesia, karena besok ia akan meneruskan pendidikannya di US, seperti yang telah ia rencanakan. Setelah perdebatan panjang dengan dirinya sendiri, Bintang akhirnya memutuskan untuk menghampiri Shana. Ia menatap Shana yang duduk di pinggir rooftop lama sebelum akhirnya berjalan mendekat.
"Jangan nangis lagi," ucap Bintang seraya memberikan sapu tangannya.
Shana sedikit terkejut lalu mengambil saputangan tersebut. Shana berbalik dan hendak berterimakasih, namun Bintang sudah menjauh dan menuruni tangga. Bintang langsung pergi setelah Shana mengambil sapu tangannya. Shana hanya memandang punggung Bintang yang makin lama tak terlihat lagi.
Ia melanjutkan tangisnya dan sesekali menghapus air matanya dengan sapu tangan tersebut. Yang tidak ia sadari sisi lain sapu tangan itu memiliki ukiran gambar bintang, persis dengan gambar yang ada di sepatu Bintang waktu itu. Shana juga tidak sadar, selama ini Bintang selalu ada di dekatnya namun berusaha tak terlihat oleh Shana.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHANA
LosoweKisah gadis 20 tahun yang kembali harus merasakan pahitnya kehilangan orang yang ia cintai, satu-satunya anggota keluarga yang ia punya. Sejak kejadian itu Nada pun mulai berubah. Nada turut kehilangan rasa percaya nya terhadap orang lain. Nada menj...
