Entah kenakalan apalagi yang Shana lakukan kali ini sehingga sekarang ia berdiri di tengah lapangan dan memberikan hormat kepada bendera merah-putih di depannya selama 2 jam pelajaran penuh. Lima belas menit pertama Bu Ani mengawasi Shana dari dekat, setelah cukup yakin Shana akan terus hormat hingga jam pelajarannya berakhir, Bu Ani kemudian masuk kembali ke kelasnya dan melanjutkan pelajarannya yang terpotong karena harus memarahi dan menghukum Shana. Semua siswa di kelas Shana yang tadi mengintip langsung duduk rapi di bangkunya masing-masing sebelum disuruh berjemur menemani Shana.
Bu Ani, guru Kimia super killer yang terkenal di seluruh sekolah. Tahun ini sialnya kelas Shana kebagian diajarkan oleh beliau. Shana mengira Bu Ani akan sama saja dengan semua gurunya saat kelas 10 kemarin, yang awalnya marah dengan kelakuannya kemudian lama-lama akan mengabaikan Shana, meskipun Shana telah mendengar banyak rumor mengenai kekilleran beliau. Ternyata keyakinan Shana meleset kali ini. Shana tidak sengaja tertidur di kelas beliau karena semalam Shana begadang nonton film. Teman di samping dan belakang tempat duduk Shana sudah berusaha membangunkannya namun tidak berhasil hingga akhirnya Bu Ani tiba-tiba berjalan menuju meja Shana dan menjewer kupingnya. Shana tersentak dan seketika terbangun.
"Siapa yang nyuruh kamu tidur di kelas saya?" bentak Bu Ani.
"Maaf Bu, semalam saya begadang bacain semua materi kimia. Eh taunya yang saya baca buku kelas 12 makanya saya ga ngerti-ngerti sampe pagi Bu," jawab Shana sambil berdiri kemudian menunduk seraya memohon maaf.
Jawaban berani Shana mengundang keributan kecil di kelas, ada yang tertawa singkat, tersenyum geli hingga memelototi Shana seolah berkata "Lo mau mati ya?". Shana mengedarkan pandangan ke seluruh kelas dan hanya memberikan cengiran. Bu Ani langsung menyeret Shana ke lapangan dan menyuruhnya hormat kepada bendera. Teman-teman sekelas Shana berdecak kagum dengan keberanian Shana menjawab guru killer tersebut, tak sedikit pula yang menunggu aksi Shana selanjutnya setelah diberi hukuman.
Setelah memastikan Bu Ani sudah masuk ke dalam kelas dan mengajar tanpa melirik-lirik Shana lagi, Shana mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
"Mang, Shana nih," sapa Shana dengan sebelah tangan masih hormat pada bendera.
"Biasa mang, di depan bendera ya, nanti Shana bayar disini," lanjutnya.
"Siap neng Shana," jawab mang Ujang, pedagang siomay di kantin sekolahnya.
Tak sampai 5 menit mang Ujang berjalan keluar kantin membawa seporsi siomay super pedas dan sebungkus es jeruk tanpa gula, pesanan Shana yang sudah mang Ujang di luar kepalanya. Dari kejauhan terlihat Shana yang melambaikan tangan memanggil mang Ujang untuk mendekat.
"Siapa lagi neng sekarang?" tanya mang Ujang sambil memberikan pesanan Shana dan menerima uang darinya.
Mang Ujang tidak heran lagi jika Shana dihukum, ia akan heran jika Shana berubah menjadi siswi teladan.
"Bu Ani mang," jawab Shana sambil melahap siomaynya.
Shhana sangat kelaparan karena tadi pagi Shana juga tidak sempat sarapan karena sudah terlambat. Mang Ujang hanya menggelengkan kepalanya dan pergi seraya memberi semangat pada Shana.
Shana makan sambil duduk dengan santainya, menikmati siomay pedas dan es jeruk segar, kombinasi yang pas di jam 10 pagi ini. Salah satu siswa kelas Shana yang duduk dekat jendela kemudian menyenggol pelan teman di sebelahnya, mengisyaratkan temannya untuk menghadap ke arah Shana. Mereka berdua tertawa kecil, takjub dengan kelakuan Shana dan kembali menatap papan tulis, pura-pura memahami apa yang dijelaskan Bu Ani.
Di sebrang kelas Shana, Bintang yang kebetulan juga duduk persis di sebelah jendela tak sengaja menghadap ke luar, tepatnya ke arah lapangan. Ia melihat Shana dari awal ia hormat kepada bendera, menelepon seseorang hingga akhirnya duduk tanpa ragu menikmati makanannya. Aldo yang juga memilih mengikuti arah pandang Bintang yang terlihat lebih menarik daripada tulisan asing di papan tulis yang membosankan kemudian berbicara pelan.
"Wah gila tu cewek, padahal Bu Ani lho," celetuk Aldo.
"Dan lo masih suka sama dia, dan masih tetep diem aja, heran gue," lanjutnya.
Bintang tidak menanggapi omongan Aldo namun malah tersenyum melihat Shana.
She is unique, batinnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHANA
SonstigesKisah gadis 20 tahun yang kembali harus merasakan pahitnya kehilangan orang yang ia cintai, satu-satunya anggota keluarga yang ia punya. Sejak kejadian itu Nada pun mulai berubah. Nada turut kehilangan rasa percaya nya terhadap orang lain. Nada menj...
