"Akhirnya ketemu juga DVDnya!" ujar Rafli seketika dia menemukan DVD di dalam tasnya.
"Kak Rafli! Kakak bawa flash disk gak?" tanya Sadha.
"Loh, emang lo gak bawa?" tanya Rafli balik.
"Enggak, kak!"
"Oooh... gue bawa kok!" ujar Rafli sambil mengambil flash disk di dalam tasnya lalu memberikannya pada Sadha, "Nih"
Dengan cepat Sadha menyalin isi pada DVD itu ke flash disk milik Rafli. Setelah selesai menyalin, Sadha buru-buru mengajak Rafli pergi ke rumahnya. "Ayo cepat kita pergi dari sini kak"
"Loh, kok buru-buru? Gak jadi copy DVD trainingnya?"
"Ada hal penting yang harus aku kasih tau ke Om aku, kak. Jadi bisa lain kali aja kan, kak? Maaf banget sebelumnya"
"Yaudah, gapapa. Terus kita mau kemana?"
"Ke rumahku kak! Ayo"
"Oke"
~
Kyle dan Stefan memasuki sebuah toko buku terbesar setempat. Mereka mencoba mencari buku untuk bahan resensi mereka.
"Kamu mau beli buku apa, Fan? Biar aku bantu cariin" tanya Kyle lembut.
Tentunya hal itu membuat Stefan terperangah dengan sikap Kyle barusan. "Tumben banget pake aku-kamu nih. Biasanya juga gue-elo"
Kyle hanya menyunggingkan senyumnya pada Stefan.
"Seriusan deh! Ini ada apa sih sebenernya? Kok lu bisa jadi baik begini?" tanya Stefan.
Kyle lagi-lagi hanya tersenyum. Lalu dia menggeleng.
Stefan malah semakin menyengir, "Iihh Kyle, lu jangan bikin gue ngakak deh. Gak lucu tau"
"Iya. Terus jadinya mau beli buku apa nih, Fan?" tanya Kyle.
"Gak tau juga nih, bingung" ujar Stefan.
"Mending kita ke rak novel remaja dulu" ajak Kyle.
"Boleh! Yuk!"
Stefan dan Kyle menghampiri rak novel remaja pada toko buku tersebut, tanpa mereka tahu bahwa Devon sejak tadi tengah mengikutinya dari belakang.
Devon memicingkan matanya ke arah Stefan dan Kyle yang sudah di area toko buku. Devon pun turut menghampiri toko buku tersebut dan masuk ke dalam dengan hati-hati, agar tidak ketahuan oleh Stefan.
Sementara Stefan masih bingung untuk memilih-milih buku yang ingin dia beli, Kyle sejujurnya sudah malas berlama-lama disini. Dia tidak biasa berada di area yang penuh warna dan terang sekali, sehingga membuat kepalanya sedikit pusing.
"Duh, yang mana ya, Kyle?" tanya Stefan, "Gue bingung"
Kyle pura-pura peduli, "Menurutku sih, yang bacaannya ringan-ringan aja. Supaya nanti resensinya bisa keburu"
"Bener juga sih! Lu gak beli?"
"Aku sih pengennya kamu yang milihin, Fan" ujar Kyle.
Stefan menyunggingkan senyum, "Dasar! Coba deh kita ke rak bagian teenlit!"
Kyle memaksakan senyumnya. Kapan pulangnya sih, anjiiiing!
Stefan berjalan menghampiri rak buku tersebut, dan Kyle turut berjalan di belakangnya sambil mendumal. Namun seketika Kyle terkejut sembari sedikit panik kala seseorang tengah menarik bagian belakang bajunya dan membawanya ke rak lain dan terpisah dari Stefan. Kyle sedikit berteriak, "Apa-apaan sih lu???"
Namun ekspresi wajah Kyle berubah menjadi sedikit panik dan gelagapan kala dia tahu orang yang menariknya itu adalah Devon. Devon memasang senyuman jijik pada Kyle.

KAMU SEDANG MEMBACA
MISTAKES SEASON 2 (END 21+)
Teen FictionCerita ini mengandung unsur LGBT. Homphobic, please start to out, thanks. Stefan atau memiliki panggilan sayangnya, Epan, lelaki berusia 18 tahun itu kini tengah mencoba menata kehidupannya dengan baik, berdua bersama Devon, atau panggilan sayangnya...