03

6.9K 846 157
                                        

Taehyung tidak menyangka jika gadis di hadapannya adalah gadis yang muncul dalam meeting-nya beberapa hari yang lalu. Model cantik yang menjadi incaran sebagian besar industri hiburan negaranya. Beberapa tawaran untuk menjadi bintang film pun ditolak tegas oleh gadis ini. Taehyung tahu semuanya. Dan itu yang menjadikan Jiyeon layak menempati salah satu gadis yang paling diincar oleh agency besar di Korea Selatan.

Jiyeon jauh dari kata anggun. Presensinya mampu menjerat Taehyung di awal pertemuan mereka, bukan karena cantik. Karena Taehyung pun kelewat sering bertemu dengan wanita cantik seumur hidupnya. Jiyeon nyaris sempurna, semua yang melekat di wajah kecilnya begitu sesuai pada porsinya. Sepasang mata yang tajam yang menyembunyikan iris cokelat pudar di balik bulu mata lentiknya. Hidung mancung yang tipis pun berakhir pada ranum sewarna kelopak bunga azalea.

Bunyi benturan stainless steel pada piring kaca beriringan dengan musik klasik yang diputar restoran mewah ini. Menambah suasana nyaman yang membungkus di antara keduanya kendati baru saja berkenalan. Sebab, Jiyeon berbeda. Jika biasanya yang Taehyung temukan hanyalah wanita yang menatap dirinya dengan pandangan memuja. Jiyeon bukan salah satu di antaranya, gadis itu tidak terbaca. Sifat dinginnya mampu menahan Taehyung dari pemikiran jika gadis ini bisa ditundukan dengan mudah.

"Kau tidak makan?"

Entah dari kapan, Jiyeon berhenti pada suapannya dan membalas tatapan Taehyung. Tangan ramping itu meraih wine yang masih utuh dalam gelas dan menyesapnya sedikit.

"Aku kenyang hanya dengan memandangmu," balas Taehyung menyematkan senyum ramah.

Gadis itu diam untuk sejenak sebelum mengambil serbet di sisi kanan dan membersihkan noda pada bibirnya. Berdeham pelan guna membersihkan tenggorokannya, Jiyeon membalas tatapan mata sekelam malam itu.

"Oke... Aku rasa kita harus membahas kontrak kerja itu sekarang." Jiyeon semakin menyamankan posisi duduknya.

Taehyung tidak bisa untuk menahan kekehannya. Jiyeon terlihat ingin mempercepat konversasi setelah menangkap maksud Taehyung yang di luar konteks yang akan mereka kemukakan. Dan Taehyung mengakui itu.

Memang awalnya Taehyung hanya berencana membawa Jiyeon untuk bekerja sama dengan majalahnya. Namun, beberapa menit yang lalu gadis itu mampu merubah rencana awal dengan menjerat Taehyung pada seribu pesona yang bahkan tidak berniat Jiyeon tunjukan. Murni dan terlalu lembut dalam mengikat Taehyung dari dalam.

"Kita akan membicarakannya, dan membicarakan hal yang lainnya juga."

Jiyeon kembali bergerak tak nyaman kendati posisi duduknya tidak banyak berubah. "Maaf, aku hanya berniat membahas kontrak kerja kita."

"Tidak perlu terburu-buru. Kita akan mencapai kesepakatan masalah itu."

Alis kanan Jiyeon terangkat naik, kemudian mata itu melirik ke arah lain guna memberanikan dirinya untuk mengungkapkan hal yang dirasa sensitif dibahas saat ini.

"Apa aku bisa mengajukan satu syarat?" tanyanya penuh harap. Demi sang ayah, Jiyeon akan melakukan apapun selama itu bisa membuat ayahnya hidup lebih lama.

"Akan aku dengarkan," sahut Taehyung. Ia akan mengabulkan syarat apa saja yang diajukan Jiyeon kecuali syarat yang akan membuat gadis itu menjauh darinya. Karena jujur saja, Taehyung sekarang terjebak dengan perasaan tidak nyaman memikirkan kerja sama ini berujung gagal dan pertemuan ini menjadi akhir dari segala yang belum dimulai.

"Bisakah gajiku dibayar dimuka?" Jiyeon meremat sedikit kuat serbet yang masih berada dalam genggamannya. Biarlah untuk kali ini Jiyeon terjatuh setelah menjujung tinggi harga dirinya selama ini. Hanya ini pilihan yang cepat untuk membantu ayahnya. "Maaf, aku tidak bermaksud lancang. Kau bisa percaya padaku, aku tidak akan lari dari tanggung jawab kerja sama ini."

Vespertine✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang