Alunan musik itu turut menemani ratusan Army yang saat ini sudah berada di lokasi konser musik itu akan digelar. Hal ini tentu saja membuat hati ketujuh pria itu berdegup kencang apalagi saat mendengar ratusan penggemarnya itu bernyanyi bersama.
"Ini sungguh membuatku gugup."
Jungkook. Pria itu sejak tadi hanya berjalan bolak-balik. Dia tak mengerti kenapa dia sangat gugup meskipun ini bukanlah kali pertamanya menyapa Army di Indonesia.
"Aku harus ke toilet dulu," gumam Jungkook namun sayangnya tak satupun yang di sana menyadari hilangnya Jungkook dari sana.
Dia mempercepat langkahnya agar segera sampai ke kamar mandi. Namun dia langsung saja menghentikan langkahnya ketika seorang gadis berdiri tepat di hadapannya. Dengan berkalungkan name tag khas staf di lehernya, dia berdeham dan menghalangi jalan Jungkook.
"Kau kemari bukan untuk kabur."
Jungkook mengerutkan dahinya, tak mengerti dengan apa yang gadis itu katakan.
"Kau tidak boleh kemanapun."
Jungkook hanya menghela napasnya lalu memutuskan untuk kembali ke backstage. Dia tidak ingin sesuatu terjadi jika seandainya staf dihadapannya itu melapor pada manager hyungnya.
"Apa kalian tahu? aku selalu senang jika mengadakan konser di Indonesia," jelas Hoseok yang membuat Yoongi menyetujuinya.
"Banyak wanita berhijab dan entah kenapa itu membuatku senang melihatnya."
"Aku setuju, mereka seperti memiliki aura yang berbeda."
Jungkook hanya terdiam mendengarkan percakapan ringan dari hyung-hyungnya itu. Sebenarnya Jungkook sudah sering melihat wanita berhijab, tapi dia merasa sampai saat ini hatinya belum pernah tertarik pada mereka seperti halnya Hoseok. Dia cenderung segan untuk menatap mereka. Bahkan saat fansign saja, dia sungguh canggung dan tak berani melakukan apapun.
"Semuanya sudah bersiap? hanya tinggal 5 menit lagi," jelas salah satu staf yang kemudian membuat BTS mulai mempersiapkan diri mereka.
Jungkook menghembuskan napasnya sebelum kakinya berpijak pada anak tangga yang menjadi penghubung antara backstage dan panggung utama.
Dentuman musik itu menjadi pembuka konser tersebut. Mata Jungkook langsung tertuju pada seorang gadis berhijab yang berdiri di barisan paling depan sambil memegang banner namanya.
Manis.
Itulah yang kini ada dipikiran Jungkook. Dia malah merasa tertarik dan sangat penasaran pada gadis itu. Namun dia yakin, hingga kapanpun dia tak akan pernah bisa mengenal ataupun mendekati gadis itu.
"Ini milik gadis itu," jelas manager hyung yang kemudian Jungkook terima. Dia yakin pasti dalam tas itu terdapat kartu identitas dari gadis itu. Benar saja, dia menemukan dompet, ponsel, serta passport gadis itu.
Syifa Daf'atunnisa
Jungkook tersenyum begitu mengetahui nama gadis itu. Setelah bertahun-tahun berlalu dan akhirnya takdir mau mempertemukan kembali dia dan juga gadis itu. Meskipun dalam keadaan yang sangat tak terduga seperti saat ini.
Pandangannya kini menyapu lorong rumah sakit yang nampak sepi itu. Wajar saja karena manager hyungnya sengaja memilih rumah sakit ini agar tak terjadi masalah apapun.
Jungkook membungkukan tubuhnya saat beberapa polisi tiba disana. Dia tahu hal ini pasti akan membuatnya terseret dalam masalah. Tapi bukankah dia harus jujur? dia hanya perlu meminta polisi-polisi itu tidak membuka hal ini pada media karena mereka terlalu berbahaya.
"Kookie, kau pulang saja."
"Aniyo, hyung. Aku akan tetap disini. Lagipula tak ada jadwal latihan atau apapun untuk besok, 'kan?"
*
*
*"Eh, aku baru sadar Syifa kemana?" tanya Salfa yang membuat seisi kamar itu terbangun.
"Beneran?" tanya Nafa dengan nada tak percayanya.
"Di kamar mandi gak ada?" tanya Fira yang ternyata membuat Salfa menggeleng.
"Masa iya ketinggalan," celetuk Salwaa yang membuat Salfa langsung saja memukul pelan lengannya. Dia lantas memutuskan untuk menemui Yena. Dia yakin Yena tahu dimana Syifa.
"Bukannya semalem juga Syifa gak ada pas kita sampe sini?" tanya Cici.
"Jangan-jangan Syifa ketemuan sama Kookie?" Salwaa menutup mulutnya tak percaya setelah kalimat itu keluar dari mulutnya. Selanjutnya dia menghela napasnya kesal dan membuat kadar kebingungan yang ada di benak mereka tiba-tiba saja naik.
"Kenapa?"
"Tau gitu semalem aku gak usah tidur di mobil."
"Kirain apaan," kata Fira yang diiringi delikannya.
"Eh Syifa beneran gak ada." Salfa yang kini baru saja kembali dengan napas tersenggalnya karena harus naik turun tangga. "Yena bilang semalem Syifa turun di supermarket."
"Lah terus gimana itu?"
"Masa di culik?"
"Terus nanti pulangnya gimana? bilang ke mamanya gimana?"
Mari tinggalkan sejenak suasana kepanikan yang kini terjadi di kediaman Yena itu. Beralih ke tempat dimana Syifa masih terbaring lemah dan menutup matanya dengan Jungkook yang masih berada di sampingnya. Pria itu sejak semalam terus terjaga berharap gadis yang tertabrak oleh mobil yang dia tumpangi semalam itu bisa secepatnya sadar dan tak membuatnya cemas.
Jungkook kembali membuka tas yang Syifa kenakan kemarin. Dia menemukan ponselnya yang ternyata sudah kehabisan daya itu. Dia sedikit menyesal karena tidak membawa power bank di sakunya. Padahal selama ini benda itu pasti selalu ikut serta bersamanya.
Jungkook tersenyum kala menemukan case ponsel Syifa merupakan kumpulan foto-fotonya yang dijadikan satu. Dia beralih ke passport milik Syifa. Dia berpikir apa dia perlu mengantar Syifa ke kedutaan Indonesia? tapi sepertinya hal itu akan sangat rumit. Terlebih karena Syifa adalah korban kecelakaan. Tapi sisi lain dia juga tidak bisa menyembunyikan Syifa terus-menerus. Dia memikirkan bagaimana perasaan keluarganya.
"Kookie, dia sungguh belum bangun?"
"Aku rasa akan butuh waktu untuk dia bangun," jelasnya yang kemudian melirik Syifa. Dia lantas berdiri, meregangkan ototnya. "Aku harus pulang, boleh ku–"
"Tidak, aku akan mengantarmu."
"Oh ayolah, hyung. Aku sudah punya Surat Izin Mengemudi. Apa yang harus kau khawatirkan?"
"Tidak, aku akan tetap mengantarmu."
"Lalu dia?" tanya Jungkook sambil menunjuk Syifa.
"Dia tidak akan pergi kemanapun. Aku akan mengantarmu lalu kembali secepatnya ke sini," jelas manager hyung yang membuat Jungkook mencebikan bibirnya. Dia sudah dewasa dan bahkan dia sudah terbiasa mengemudikan mobil. Tapi saat ini manager hyung malah tak percaya padanya.
"Aku akan hati-hati."
"Tidak, keputusanku sudah bulat. Aku akan mengantarmu."
Jungkook menghela napasnya jengah sebelum akhirnya mengangguk setuju meskipun sebenarnya dengan berat hati dia harus meninggalkan Syifa di sana.
"Nomornya gak aktif." Kini mereka mulai panik mencari keberadaan Syifa. Terlebih karena Yena mengatakan jika Syifa meminta diturunkan di supermarket.
"Enggak, aku gak mau berpikiran negatif," gumam Salfa.
"Apa kita harus lapor polisi?" tanya Salwaa yang membuat mereka langsung saja setuju.
"Kenapa baru ngomong sekarang?" gemas Cici.
"Yena, kau bisa membantu kami, 'kan?" tanya Salwaa yang langsung membuat gadis asal Korea itu langsung saja mengangguk.
"Baiklah, ayo pergi ke kantor polisi dan temukan Syifa. Aku yakin dia baik-baik saja."
TBC🖤
27 Jun 2020

KAMU SEDANG MEMBACA
Paper Hearts✔️
Fanfiction"Aku sadar, perasaanku hanya sebatas goresan pena di atas kertas yang telah usang."