#24 Kecelakaan

124 23 61
                                    

Pikiran soal Syifa semakin menjadi. Jungkook seolah tak bisa jika sedetik saja tak menempatkan nama itu di dalam pikirannya. Niatnya soal memperbaiki semuanya hanya berakhir sebagai ucapan saja. Nyatanya hingga saat ini dia masih belum memperbaiki apapun.

Taehyung berdiri diambang pintu, menatap Jungkook yang kini fokus pada ponselnya. "Kau masih belum memberitahu semuanya?"

Jungkook menghembuskan napasnya. Dia tahu Taehyung memang mengkhawatirkannya. Tapi dengan terus bertanya seperti ini hanya membuatnya merasa kesal saja. Haruskah dia membocorkan semuanya? rasanya tidak untuk saat ini.

"Menyesalmu tak berguna," gumam Taehyung yang kemudian duduk di sebelah Jungkook. Tatapan mereka bertemu, sehingga Jungkook bisa melihat tatapan lain dari Taehyung. "Bukan apa-apa, tapi dia juga punya keluarga. Tidak mungkin jika dia terus menerus berada di sini tanpa tahu identitas aslinya. Bagaimana jika kita pergi ke Amerika? apa kau akan membiarkan dia tetap di sini?"

"Hyung-"

Taehyung memberikan secarik kertas. "Temui dia dan jelaskan semuanya."

Jungkook memang menerima kertas itu. Namun dia tak langsung membaca alamat yang Taehyung tulis. Jika seperti ini, dia lebih baik tak menemui Syifa daripada dia harus menjelaskan semuanya.

"Aera, hari ini aku harus pergi ke kampus ada reunian. Kamu gak apa-apa di sini sendirian?" tanya Aksa yang tentu saja tak ingin Syifa jawab. "Enggak lama kok, kunci aja pintunya."

"Aera gak enak kalo di sini sendiri. Gimana kalo tiba-tiba ada keluarga kamu?"

Aksa hanya tersenyum lalu menggeleng. "Gak bakal, aku yakin deh. Aku udah kasih makan June jadi dia gak akan kenapa-kenapa aku simpen di dalem kamar."

"Gak bakal keluar 'kan?"

Aksa terkekeh mendengar pertanyaan dari Syifa. "Ya enggaklah, udah aku tutup pintunya."

"Oke deh." Syifa memberikan gestur oke dengan jarinya, membuat Aksa tersenyum dan dengan segera berlalu.

Syifa langsung saja mengunci pintu sesaat setelah Aksa pergi. Dia juga tak bisa ambil risiko jika nantinya seseorang akan masuk karena dia tak mengunci pintunya. Dia perlu berjaga-jaga, bukan?

*
*
*

Dengan jaket hitam dan masker berawarna putihnya, Jungkook berdiri di depan salah satu rumah. Sekali lagi dia menatap alamat yang Taehyung tulis, untuk memastikan jika dirinya tak salah alamat. Tapi dia sungguh belum siap jika harus menjelaskan semuanya pada Syifa.

Jungkook menghembuskan napasnya mengingat bagaimana perjuangannya sampai di rumah itu. Dia harus menghadapi beberapa penggemarnya dan yang paling parah adalah sasaeng yang juga mengincarnya. Jadi tak mungkin jika dia tidak menjelaskan semuanya pada Syifa saat ini.

Aku masih tak ingin melakukannya.

Jungkook sudah meraih bel rumah itu, tapi raganya seolah menolak apa yang diperintahkan otaknya. Dia tak percaya jika hati, pikiran, dan raganya sedanh bertentangan sekarang, membuat Jungkook lagi-lagi berniat untuk mengurungkan niatnya itu.

Aku rasa untuk saat ini aku tidak akan menjelaskannya.

Jungkook memilih berlalu, meninggalkan rumah yang menjadi tempat tinggal Syifa saat ini. Dia memutuskan untuk menemui Tzuyu saja, tak peduli jika nanti sasaeng fansnya tahu soal dirinya yang kini berkencan.

Jungkook meletakan ponselnya ke telinga setelah menemukan kontak milik Tzuyu. "Tzuyu-ya, aku dalam perjalanan menuju sungai Han. Aku ingin menemuimu."

Ini memang terdengar seperti Jungkook yang seolah menjadikan Tzuyu sebagai obatnya sedangkan saat dia tersembuhkan, dia kembali memikirkan Syifa.

Jungkook terlalu asyik berbincang dalam telpon hingga dia tak terlalu memperhatikan jalanan. Dia menyebrang saat lampu lalu lintas sudah berganti menjadi hijau, membuat salah satu mobil berhasil menabraknya.

"Oppa? kau baik-baik saja? apa yang terjadi?"

Jungkook berusaha meraih ponselnya untuk memastikan pada Tzuyu jika dia baik-baik saja. Tapi rasa ngilu yang dia rasakan di tulang rusuknya dan rasa berkedut di kepalanya, membuatnya kesulitan untuk sekedar meraih benda pipih itu. Bahkan saat ini dia merasa ada cairan dingin di dahinya.

Sang penabrak sangat terkejut begitu mendapati Jungkooklah yang baru saja tertabrak olehnya. Dia sungguh tak melihat Jungkook sebab dia menyalip mobil lain tadi.

"Dia kecelakaan, aku akan kirim alamat rumah sakitnya padamu nanti," ujar penabrak itu setelah dia meraih ponsel Jungkook yang tergeletak dengan keadaan yang masih tersambung dengan ponsel lain.



Tzuyu menutup mulutnya tak percaya mendengar pernyataan itu. Apalagi setelah suara klakson yang diiringi dengan suara tabrakan, membuatnya bertambah khawatir soal kekasihnya itu.

Dia meraih jaket, topi dan juga maskernya. Dia perlu menemui kekasihnya itu tak peduli dengan media ataupun sasaeng yang mungkin saja menangkapnya. Dia sudah siap jika pada akhirnya akan ada skandal kencan mengenai dirinya.

"Kau mau kemana?" tanya Jihyo yang kemudian membuat Tzuyu menghentikan langkahnya.

"Aku harus-"

"Bukankah kita perlu latihan untuk comeback?"

Ya, Tzuyu lupa soal latihannya. Terlebih karena beberapa hari lagi dia harus menghadiri beberapa acara musik untuk promosi album terbaru yang akan mereka keluarkan.

"Ini urusan yang sangat penting," ujar Tzuyu yang membuat Sana menaikan sebelah alisnya.

"Lebih penting dari latihan kita?"

Tzuyu berada pada pilihan sulit dimana dia harus memilih diantara 2 hal yang penting. Satu sisi dia yakin jika Jungkook hanya pergi sendiri karena yang mengangkat telponnya merupakan orang lain. Tapi sisi lain dia juga tak bisa jika harus meninggalkan jadwal latihan Twice di saat tanggal comeback sudah berada di depan mata.

"Aku hanya pergi sebentar. Setelah semuanya selesai aku akan segera kembali." Tzuyu sepertinya memilih untuk memastikan keadaan Jungkook terlebih dahulu. Dia yakin dia bisa menyusul untuk berlatih nanti.

Dia tahu, hal ini merupakan pelanggaran, mengingat dia sudah berjanji pada agensi jika kencan tak akan mengganggu jadwalnya sama sekali. Tapi saat ini keadaannya sedang sangat genting. Jadi dia tak punya pilihan lain selain menemui kekasihnya itu.

Aku harap oppa baik-baik saja. Aku tidak ingin oppa kembali terpuruk karena tak bisa tampil maksimal pada konser oppa.

Tzuyu ingat betul saat kaki Jungkook terluka dan memaksanya harus duduk selama konser berlangsung. Saat itu Jungkook sering menghubunginya tengah malam sambil menangis, membuat Tzuyu akhirnya tetap terjaga mendengar segala keluhan dari kekasihnya itu hingga kekasihnya itu tertidur pulas.

*
*
*

"Kamsahamnida." Tzuyu menerima ponsel milik Jungkook yang diberikan oleh orang yang menabrak kekasihnya itu tanpa melepas topi dan juga maskernya. Dia tak mungkin membuka penyamarannya dan membuat heboh seisi rumah sakit.

"Kau juga idol ternyata. Dia baik-baik saja, hanya tulang rusuknya mengalami memar," ujar wanita itu yang hanya membuat Tzuyu tersenyum. "Aku sudah menghubungi managernya, tapi tak ada yang datang. Aku ingin mengatakan jika aku sudah salah karena menabraknya."

"Aku bisa sampaikan itu pada managernya nanti, bisa kau tulis nomormu di ponselku?" tanya Tzuyu yang membuat wanita itu mengangguk.

"Tapi aku rasa, aku perlu bicara secara langsung."

* * * * *

TBC🖤

15 Aug 2020

Paper Hearts✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang