28. Ending? I Think So

614 77 14
                                        

⋐𝐇𝐨𝐌⋑

Hari ini hari kelam.

Dijelaskan secara detail melalui bunyi nyaring dari roda kecil dibawah brankar salah satu rumah sakit yang bergesekan dengan lantai marmer lorong menuju 2 ruang hybrid. Dua gadis yang dibaringkan diatas benda berjalan itu memiliki keadaan tidak jauh berbeda atau bahkan bisa dikatakan sama persis. Darah bersimpuh di baju bagian atas serta permukaan kulit hitam brankar tersebut.

Dipisahkan di dua ruang berbeda, keadaan mereka setelah diperiksa kilat untuk menentukan langkah selanjutnya ternyata jauh dari kata 'mirip'. Di ruang sebelah kiri para dokter dan perawat menghembuskan nafas agak lega lalu kembali mendorong brankar ke ruang operasi supaya bisa menutup luka sayatan cukup lebar di leher. Sementara itu, orang - orang di sisi kanan terlihat lebih panik dan tergesa; seolah ada hal nan harus segera diselesaikan. Maka tak lama, mereka menyusul pasukan pertama, mendorong cepat ranjang berjalan itu ke ruang operasi lain.

Masih di depan ruangan berbataskan kaca buram dengan tulisan hybrid room diatas pintu, Irene menatap kedua tangannya.

Merah. Darah.

Tapi Ia sedikit menoleh ke sosok di sebelah yang menunjukkan tanda - tanda keterkejutan lebih besar daripada dia sendiri. Bahkan bercak darah di baju orang ini sangat banyak dibanding  dirinya.

"Rosé, pakai ini dan pulanglah. Aku akan menjaganya. Dia akan baik - baik saja."

Irene melepaskan jaket hitam miliknya lantas menyampirkan kain itu ke bahu Rosé disusul menarik tudung untuk menutupi kepala gadis tersebut; masih ingat bahwa yang ada di hadapan adalah seorang artis paling dikenal sama seperti adiknya.

"Unnie "

"Pulang, Rosé. Aku disini bersama dia."

Singkat namun tegas. Tak bisa dibantah sehingga sang gadis muda memilih untuk memakai kembali maskernya dan keluar bersama Chorong menuju mobil.

Waktu penanganan di ruang operasi pun berbeda. Satu gadis sudah terlebih dahulu keluar lantas langsung diarahkan ke ruang rawat VIP lantai 3 dan dua jam setelahnya disusul gadis lain nan diletakkan di ruang terisolasi; ICU. tak boleh ada satupun yang masuk.

Sayangnya, gadis yang berada di ruang intensif adalah seseorang nan 3 hari lalu menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk menunggu Irene membukakan pintu supaya Ia bisa berkemas dan pergi.

Miris. Menahan Joy supaya tidak meninggalkannya, Irene menyesal tidak mencoba mencari Joy setelah 2 hari berlalu tanpa gedoran di pintu. Dan kini, Irene takut jika Joy memilih 'pergi' dengan artian lebih jauh dan mengerikan dari yang Ia pikirkan.

Lalu siapa gadis satu lagi jika bukan anak yang memiliki predikat sama dengan Joy alias Kim Yerim?

Entah hanya kebetulan atau memang rencana Tuhan, dua pihak sama sekali tak mengerti bagaimana bisa hal ini terjadi bersamaan.

"Joohyun–ah."

"Berhenti disitu. Aku tidak ingin lagi berdekatan dengan kesialan."

Yap. Irene memang tidak pernah berpikir dua kali mengenai kata - katanya jika sudah dikuasai amarah. Masalahnya, saat ini bukan hanya murka; namun semua emosi buruk di hati seolah bekerja sama untuk menghancurkan Irene dari dalam.

"Joohyun, Appa min —"

"Tidak. Kau boleh pergi. Kumohon pergi sejauh - jauhnya, aku tidak lagi punya orang tua. Sekarang kami yatim piatu."

Diam - diam gadis berambut coklat sebahu menopang beban tubuh diatas tongkat jalan tengah memperhatikan percakapan mereka dengan ekspresi tak dapat ditafsirkan. Namun yang jelas tak ada hal positif di sorot mata coklat terangnya.

"Sungguh. Appa minta maaf, Joohyun–ah."

"Kau tidak lihat? Sooyoung sekarat!! Kenapa? Kenapa harus kami yang menanggung konsekuensi kesalahan kalian di masa lalu?"

Irene jatuh terduduk di lantai dingin depan ruang ICU dengan kedua tangan menutup wajah dan bahu berguncang hebat. Yang lebih tak bisa disangka adalah Wendy nan dalam hitungan detik sudah ikut merendahkan tubuh untuk mengusap dua lengan Irene. Gadis itu memutar sedikit lantas mengikuti jejak si sulung; menatap tajam pada lelaki paruh baya di hadapan.

"Ahjussi, aku mohon. Pergi saja."

⋐𝐇𝐨𝐌⋑

Yang ini gajelas & mendadak. Sorry.

Regards
- C

Half of Mine ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang