Alice berjalan memasuki satu cafe. Sejak tadi ia mengikuti seseorang yang membuat hatinya tidak tenang beberapa hari ini.
Alice mengambil tempat tidak jauh dari orang itu. Saat orang itu memesan makanan, Alice juga ikut memesan makanan sama seperti yang di pesan orang yang sedang di ikuti Alice.
Alice terus memerhatikannya, sampai ia tak sadar makanannya sudah datang.
Pelayan itu meletakan secangkir coklat hangat di hadapan Alice.
Alice tersenyum pait, sebenarnya dia tidak terlalu suka dengan coklat, tapi karena ini sebuah perjuangan, dia harus bisa meminumnya.
Alice mengambil secangkir coklat hangat itu dari tempat duduknya dan membawanya ke arah seseorang itu.
Alice menggeser kursi di hadapan orang itu, membuatnya terkesiap ketika melihat kehadiran Alice.
"Hai Jen, kita bertemu lagi." sapa Alice mencoba menjadi ramah.
Kini dia sudah duduk di depan Jennie.
Jennie menatap Alice tak suka, matanya menusuk tajam.
"Ayolah, bukannya kita sudah bermaafan? Aku tau aku salah." ujar Alice.
"Jika kau tau kau salah kenapa kau melakukannya?" kini emosi Jennie sedikit naik.
Moodnya berubah tiba tiba.
Alice meraih tangan Jennie, tapi dengan cepat Jennie menepisnya.
"Semarah itukah kau denganku?" Alice memasang wajah sedihnya.
Bahkan wajahnya sekarang terlihat sangat imut dan menggemaskan.
Jennie dengan cepat membuang pandangannya, dia tak menyukai keberadaan Alice.
Alice mendengus pelan, usahannya sia sia. Kini Alice memasang kembali wajah angkuhnya. Alice menyeruput coklat hangat di hadapannya.
"Ternyata selera kita sama yah," ujar Alice, setelah itu dia meletakan cangkirnya dan mengambil milik Jennie.
Jennie membulatkan matanya ketika Alice meminum coklat hangat miliknya.
"Kita sama sama memesan coklat, tapi kenapa rasa coklat milikmu lebih manis?" tanya Alice mengerutkan dahinya.
Jennie langsung merebut cangkirnya, membuat sedikit coklat hangat itu tumpah ke atas meja.
Alice tersenyum kecil, "Kau kenapa? Wajahmu memerah." ujar Alice.
Yah benar, kini wajah Jennie memerah. Alice meminum dari bekas cangkir miliknya.
Kini Jennie menatap kearah Alice tajam, "Kau gila yah!" ketus Jennie.
"Hei tenanglah, aku hanya meminum minumanmu bukan menciummu." ujar Alice, kini Alice mencoba menggoda Jennie.
Wajah Jennie semakin memerah, emosinya naik turun.
"Kau tau? Ketika seseorang minum dalam satu cangkir, berarti mereka sedang berciuman." Alice menunjukan senyum smirknya.
Jennie menatap sengit kearah Alice, bahkan Jennie hampir menyiramnya dengan coklat hangat itu.
Jika Jennie tidak memiliki hati, mungkin sekarang dia sudah melakukannya.
"Hei tenanglah, bukannya kita pernah melakukannya kemarin." goda Alice lagi.
Kini emosi Jennie tidak bisa tertahan, Jennie berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Alice.
Jennie memukul badan Alice dengan tas kecil yang ia bawak.
Bukannya kesakitan, Alice malah tertawa. Alice hanya menutupi wajahnya dengan tangannya lalu tertawa pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ICE
Teen FictionWarning!!! GxG 🔞🔞 (Bijaklah memilih cerita) Rank #1 Chaeso (19/08/2020) #26 anaksma (28/08/2020) #21 getaran (26/08/2020) #15 keren (28/08/2020) #11 jk (28/08/2020) #40 chaelisa (20/08/2020) #24 ganteng (28/08/2020) #17 tampan (28/08/2020) #86 je...
