Minhee merapikan rambutnya sambil berkaca pada layar ponselnya sambil tersenyum kecil, membuat sang kakak yang baru saja masuk ke ruang makan jadi menatapnya heran. Apalagi ditambah dengan penampilannya yang rapi—seperti akan keluar. Padahal, belakangan ini, ia tak ke mana-mana. Bekerjapun tidak, lalu mau ke mana ia hari ini?
“Mau ke mana lo?”
“Karangasem,” jawab Minhee santai—masih dengan tangan yang sibuk merapikan rambutnya.
“Hah? Tumben,” sang kakak jelas terlihat kaget dengan jawaban sang adik, “Ada angin apa nih sampe lo mau kerja ke Karangasem.”
“Dih, siapa yang mau kerja?”
“Terus, lo ngapain ke Karangasem.”
“Jagain jodoh gue,” si manis menjawab cepat, lalu meletakan ponselnya ke atas meja. Ia jadi menoleh dan menatap sang kakak dengan senyuman paling lebar.
“Lo mabok?”
Si kakak jelas tidak percaya. Jadinya, malah mengajukan pertanyaan itu dengan nada mengejek. Tapi kali ini, Minhee benar-benar tidak peduli. Ia justru semakin merekahkan senyumnya sebelum meraih gelas susu miliknya dan menghabiskan isinya dengan cepat. Selanjutnya, ia meletakan gelas ke atas meja dan meraih ponselnya lagi.
“Gue gak mabok, kakak sayang. Gue beneran mau jagain jodoh gue, kok. Hari ini dia mau jalan-jalan ke Karangasem. Kalo lo penasaran, tunggu aja ya, dalam beberapa hari ke depan dia bakal ke sini, kok,” sambil beranjak, pemilik marga Kang itu lalu berucap demikian pada sang kakak, “Dah ya, gue mau pergi dulu. Bye!”
~
Tiba di Karangasem, Minhee tidak tahu jika Yunseong memilih taman Edelweis sebagai tujuan wisata pertamanya. Sehingga yang terjadi di sana saat mereka tiba di pukul empat sore adalah dirinya yang tak berhenti mendumel kecil karena kedinginan.
Demi apapun, Minhee tidak kuat dingin. Tapi, kenapa Yunseong malah memilih taman Edelweis—yang sudah jelas suasana di sana dingin karena berada di ketinggian? Minhee mau marah. Tidak bisakah Yunseong bilang dulu padanya agar ia bisa mempersiapkan amunisi sebelum ke sini? Setidaknya ia bisa mengenakan jaket yang lebih tebal karena sadar diri tidak kuat dingin.
“Kenapa kamu?”
Yunseong yang sedang asyik memotret pemadangan jadi menoleh ke arah Minhee yang berdiri di belakangnya. Sementara si manis masih sibuk menggosok kedua tangannya dengan wajah merana luar biasa.
“Dingin, mas.”
“Kamu pake jaket.”
“Tapi, saya gak kuat dingin,” Minhee menjawab cepat, “Mas kenapa sih pake acara ngajak ke sini? Kayak gak ada tempat lain aja.”
“Saya gak ngajak kamu,” Yunseong menyahut cepat dan itu sukses membuat Minhee menatapnya kesal, “Kamu sendiri yang mau ikut.”
“Tapi seengaknya bilang-bilang dong, mas. Kan saya bisa pake jaket yang lebih tebal. Gimana sih, jodoh sendiri juga masa gak bisa dijagain?”
Minhee berucap cepat dengan tangan yang kini berpindah memeluk tubuhnya sendiri. Maniknya masih terpaku pada Yunseong—hendak melihat reaksi lelaki itu. Tapi hingga detik kesekian, Yunseong hanya diam—menatapnya tanpa ekspresi apapun. Sepertinya, bersama Minhee selama beberapa hari belakangan—walau mereka baru kenal—Yunseong sudah tahu bagaimana menghadapi bocah itu.
“Mas, saya butuh kehangatan,” Minhee berucap lagi, kini sudah menatap Yunseong dengan tatapan memelasnya.
Membuat Yunseong yang melihatnya jadi mendengus malas, “Mau apa kamu?” tanyanya kemudian sambil sibuk lagi dengan kameranya.
“Peluk, mas.”
“Jangan aneh-aneh,” lalu, saat Minhee menjawab dengan santai, Yunseong juga menyahut sama santainya, “Di sini lagi rame.”
“Ya emang, kenapa kalau rame? Kalau mereka mau lihat pas mas peluk saya kan itu terserah mereka, mata-mata mereka juga. Kalau mereka julid, ya bodoh amat. Itu tandanya mereka iri.”
Yunseong kembali mendengus keras begitu Minhee selesai dengan ucapan tidak jelasnya. Detik berikutnya, ia kembali menatap Minhee sebelum melangkah begitu saja, mencari tempat lain yang bagus untuk dijadikan objek foto.
“Mas bule, saya butuh kehangatan!”
Bodoh amat jika memalukan. Minhee hanya sudah terlalu dingin. Bukan bermaksud meminta pelukan dari Yunseong. Ia juga masih tahu diri jika mereka tengah berada di tempat umum saat ini. Ia hanya ingin Yunseong sedikit lebih peduli, setidaknya berikan ia jaketnya. Karena Minhee tahu, Yunseong sebenarnya punya jaket lain yang tadi lelaki itu masukan di bagasi motor Minhee.
Seperti Minhee yang tidak peduli dengan tingkah memalukannya, Yunseong juga tidak peduli dengan tingkah Minhee. Ah, bukan tidak peduli—ia hanya melarikan diri dari efek lain keberadaan Minhee di sekitarnya. Jadi, yang ia lakukan adalah terus melangkah seakan Minhee tidak ada bersamanya saat ini. Biar sajalah. Ini lebih baik dari pada ia diam dan menatap wajah manis Minhee yang semakin lama semakin membuatnya...
Ah sudahlah!
Yunseong terus melangkah dan Minhee berbalik begitu saja. Si manis melangkahkan kakinya lebar-lebar untuk keluar dari taman itu.
“Bodo amat, gue butuh pop mie. Dingin banget, sial!”
Setelah keluar dari taman, langkah Minhee semakin cepat menuju salah satu warung kecil yang ada di sekitar taman itu. Tak menunggu lama, ia langsung memesan se-cup pop mie. Sambil menunggu pesanannya jadi, ia tak berhenti meringis dan mengeluh betapa dinginnya tempat itu. Masa bodoh dengan orang-orang yang melihatnya, ia tidak peduli.
Setelah pesanannya jadi, Minhee sedikit bernapas lega saat rasa hangat menjalar di telapak tangannya kala ia menerima cup pop mie yang diberikan padanya. Ia diam beberapa saat, membiarkan rasa hangat itu terus menyelimuti tangannya sambil menunggu mie-nya jadi.
Saat mienya sudah jadi, ia meraih garpu, membuka tutup cup dan sebelum mengaduk isinya perlahan. Selanjutnya, ia mulai menikmati makanan hangat itu. Namun, baru suapan pertama sesuatu tiba-tiba jatuh dipundaknya—membuatnya tidak jadi mengunyah karena kaget. Lalu, saat ia melirik ke pundaknya, sebuah jaket sudah tersampir di sana. Ia langsung menggerakan kepalanya, menoleh ke belakang dan menemukan Yunseong yang berdiri di sana.
“Kenapa kamu ke sini gak bilang sama saya?”
Pertanyaan itu membuat Minhee mengerjap, tapi ia tak langsung menjawab. Sementara Yunseong sudah bergerak dan jadi mengambil tempat di sampingnya.
“Kalau tadi saya pulang, kamu bakal saya tinggal di sini.”
“Ya, jangan dong, mas. Nanti saya gak bisa jagain jodoh saya.”
Yunseong terlihat mendengus, jawaban Minhee di luar bayangannya. Jika orang lain akan khawatir dengan apa mereka pulang, Minhee lebih khawatir tidak bisa menjaga Yunseong dari orang-orang yang berpotensi mengambil jodohnya. Ajaib memang.
“Tapi, tadi kamu ninggalin saya di dalam sendirian. Itu yang kamu sebut mau jagain jodoh? Kalau saya diambil orang, gimana?”
“Gak bisa gitu dong!” jawab Minhee cepat. Ia sudah melupakan pop mienya kini, “Saya udah susah-susah nemuin mas, main diambil aja. Emangnya mereka pikir, mereka siapa?”
“Kalau tahu kayak gitu, jangan ninggalin saya.”
Minhee sudah akan membuka mulutnya untuk menjawab ucapan Yunseong, tapi begitu maniknya bertatapan dengan manik Yunseong—yang kini menatapnya lembut—jawaban yang sudah ia pikirkan mendadak hilang begitu saja.
“Hah?”
“Jangan tinggalin saya lagi, Kang Minhee,” jawab Yunseong pelan, “Emang kamu mau saya diambil orang?”
Sialan!
Bukan seperti ini caranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LIKE ALWAYS || HWANGMINI
Fanfiction"You're the prettiest when you smile. I'll always stand with you." A Collaboration Project By Hwangmini's Authors Oneshoot or twoshoots story. Enjoy! ❣️ ⚠️ bxb Dom! Yunseong Sub! Minhee
