Aku ingat saat pertama kali melihatmu, kau tersenyum manis kepadaku. Setelah itu, kau secara perlahan masuk kedalam hidupku. Entah kenapa kau begitu mudah masuk dan membangun sesuatu di sana. Sesuatu itu kau sebut " rumah " tempat kau merasa nyaman dan tinggal.
Aku ingat hari hari dimana semesta merawat dan menumbuhkan rasa yang kita punya. Tak perlu waktu lama, rasa itu seiring waktu terus tumbuh Hingga mencipta sebuah masa dimana Aku dan kau menjadi kita. Menjadi "sepasang" katamu.
Semenjak saat itu, waktu untuk kita bersama semakin banyak. Begitu pun waktu untuk berdialog semakin tak punya batas. Chat yang dulu jarang kini semakin sering, telfon yang biasanya semenit menjadi sejam. Kau yang biasa hanya bertanya dimana. Kini bertambah menjadi sama siapa dan lagi apa. Kita menyebut waktu itu adalah fase " merawat rasa"
Aku ingat di suatu waktu di sebuah kedai, kita pernah lama berdiskusi hingga kedai menyisahkan kita berdua sebagai tamunya.
Kita sering banyak bertukar pikiran terkait kapitalisme dan sosialisme. Kita banyak bertukar pikiran terkait bagaimana perjuangan kaum bani Israil lepas dari perbudakan di zaman Fir'aun yang di pelopori oleh Nabi Musa dan saudaranya Nabi harun, kita membahas tentang bagaimana Hitler berkuasa sampai membahas tentang bagaimana orang orang pemberani di masanya di hilangkan oleh negara. Sebut saja Marsinah, wiji Thukul sampai munir sang aktivis Ham.
Kita memang banyak menghabiskan waktu di kedai, bukan di bioskop dan pasar pasar modern. Kita lebih memilih menyeduh kopi pahit dan pisang goreng, di banding makanan makanan serba instan produk luar negeri yang di jual dengan harga selangit.
Kita lebih memilih membeli buku karya pram, Soe Hoe Gie, Tan Malaka dan buku buku best seller lainnya di toko buku di banding harus menghabiskan waktu untuk ke bioskop menonton film layaknya mereka yang tengah memadu rasa.
Aku mengingat banyak hal tentangmu, tentang kita yang pernah mencoba merawat rasa hingga lupa merawat asa. Tentang kita yang sering membahas orang lain sampai lupa membahas diri sendiri. Kita yang sering berdiskusi tentang sejarah masa lalu sampai lupa membahas bagaimana masa depan. Kita banyak membaca kisah romantis di dalam dongeng dan hikayat sampai lupa membaca bagaimana kita di masa yang akan datang.
Dan pada akhirnya, waktu menjelma menjadi rupa yang baru. Kita yang dulu rekat kini tiba tiba tak lagi dekat, kita yang dulu sering sama kini tak lagi punya waktu untuk saling sapa. Kita yang pernah mencipta asa, pernah merawat rasa sampai pernah bermimpi membangun cita. Kini harus rela merasa luka yang sama.
Kita tidak pernah tau, bagaimana Tuhan membolak-balikan hati manusia. Rasa yang istimewa bisa seketika menjadi biasa biasa saja. Dan kita berada di fase tersebut. Fase dimana kita merasa baik baik saja tapi tak lagi ingin bersama. Fase dimana bahagia bisa kita dapat di mana saja dan bukan saat kita bersama. Sebut saja kita sudah "dewasa".
Pada akhirnya, apa yang pernah kita cipta. Biarlah menjadi cerita. Kita yang pernah sejalan biarlah kini jadi kenangan. Terima kasih untuk semuanya. Semoga kita baik baik saja dengan rasa yang sudah beda. Kelak akan ku ceritakan banyak hal tentang mu. Tentang kau yang pernah menyebutku "rumah".
Selamat malam😀😀
