22. zweiundzwanzig

566 91 4
                                        

Budayakan VOTE sebelum membaca🙃

Ryujin menyodorkan sebungkus roti sobek, "Nih dimakan," dengan senang hati gue terima.

Kalo lagi sakit enaknya gini, diperhatiin hehe:))

Mereka yang nemuin gue udah tergeletak di lantai kamar mandi cewek. Kebetulan saat itu Jaemin lewat, jadi mereka minta bantuan sama Jaemin bawa gue ke UKS. Somi sama Ryujin juga pada beliin gue makanan sebelum gue siuman.

"Ra, masih kerasa pusing gak?" tanya Somi, gue menganggukan kepala.

Selagi makan roti, gue perhatiin Somi sama Ryujin malah diem disini, "Kenapa masih pada disini? Bukannya udah masuk ya? Mending kalian ke kelas aja."

Somi menggelengkan kepalanya, "Ntar lo sendirian, gimana kalo misalnya mereka gangguin lo lagi?"

Udah gue kasih tau tentang kejadian tadi, mereka juga sempet tercengang sama kelakuan Nakyung. Apalagi Siyeon yang notabene nya temen sekelas gue.

"Gak akan Som.. Mana mungkin mereka berani gangguin gue di UKS?"

"Perlu gue kasih tau Renjun gak?" tawar Ryujin.

Sejenak gue berpikir, kalo Renjun tau mungkin masalahnya tambah runyam. Gue yakin, gue bisa mengatasi masalah ini sendirian tanpa Renjun. "Gak usah.."

"Biar gue aja yang jagain Nara," ucap Jaemin.

"Biar gue aja yang jagain Nara," ucap Jaemin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selama dia nemenin gue, kita ngobrol.

.







.


.

Mau gimana pun, Renjun tetep tau keadaan gue sekarang. Malah dia dateng ke UKS pas lagi ada kegiatan belajar mengajar di kelas, kena omelan guru deh. Gak nyangka dia bisa bar bar juga.

Sedangkan Jaemin, dia udah balik ke kelasnya karena ada Renjun disini.

Diliat dari wajahnya Renjun kayak keliatan khawatir, "Kepala lo kok dibalut kayak gini? Kenapa lo gak ngasih tau gue tentang hal ini sih?" gue diem aja "Jawab Ra," sama, gue masih diem sambil nunduk.

"Ra, kok lo diem aja sih waktu gue tanya? Masih punya mulut kan? Tinggal jawab aja kok susah amat? Gue disini khawatir sama lo, ngerti gak?!" bentak Renjun.

Harus banget ya bentak gue kayak gitu?

Ini namanya berlebihan gak sih?!

Gak bisa ditahan lagi, mata gue udah berkaca kaca tapi gue memberanikan diri buat natap mata Renjun. "Gue diganggu dan ini semua gara gara lo. Puas?!" bentak gue yang gak kalah kerasnya membuat raut wajah Renjun berubah sendu.

Gue membuka perban yang melilit di kepala gue dan beranjak dari ranjang pasien hendak pergi dari sini. Namun, Renjun nahan tangan gue.

"Maksud lo?"

"Ada cewek yang suka sama lo, dia orang yang gangguin gue. Dia pengen kita putus."

"Siapa? Nakyung?"

Loh? Renjun tau? Dan dia nyadar siapa orang yang suka sama dia?

Kayaknya dia bisa membaca raut wajah gue yang penuh tanya, "Sebenarnya waktu itu, gue liat Nakyung ngunciin lo di gudang. Besoknya dia nembak gue tapi gue tolak. Alasannya karena gue sukanya sama lo, dan lagi.. gue benci orang munafik."

Mungkinkah Nakyung tau kita pacaran karena Renjun sendiri yang ngasih tau?

"Renjun, lo beneran suka sama gue? Lo gak mau gue terluka kayak gini lagi kan?" tanya gue, Renjun ngangguk. "Kalo gitu hari ini kita putus. Gue pengen hidup gue tenang tanpa ada gangguan dari mereka, apalagi karena masalah cowok."

Hati gue belum sepenuhnya buat Renjun karena gue masih ragu. Bisa aja dia cuma mainin gue, ya kan?

Usai bilang itu, gue pergi ninggalin Renjun. Udah lebih dari sepuluh langkah tapi dia gak ngejar gue. Bodo amat, gue gak ngarep dikejar.

Gue membuka pintu kelas dan mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam," dijawab sama semua penghuni kelas ini. Gue menatap tajam ke arah Siyeon, tuh orang malah mendelik. Kek gak ada rasa bersalah nya. Hhh

"Lho? Nara? Bukannya kamu lagi sakit?" tanya Bu Seulgi.

"Udah sembuh kok, Bu. Saya izin duduk."

"Oh ya silahkan. Kalo kamu masih kerasa sakit jangan dipaksain ya, bilang aja." gue ngangguk doang.

Somi nepuk pundak gue membuat gue meringis kesakitan. Cuma acting doang kok, tepukannya gak bertenaga sih. "Kenapa lo malah kesini bukannya istirahat aja!" bisiknya.

"Som.. Renjun udah tau, tadi gue bilang sama dia. Kita sempet berantem dan hari ini kita putus."

"Kok udah putus sih? Kan baru beberapa hari. Ngasih pj aja belom kalian mah!"

Ngarepin pj anjir-_-

"Gue gak mau punya masalah sampe gue lulus SMA nanti."

"Yaelah kalo masa SMA lo gitu gitu aja, ngebosenin tau. Hidup itu pasti ada rintangannya, Ra. Kalo ada masalah, jangan menghindar apalagi kabur, lebih baik hadapi."

Iya juga ya?

Lari dari masalah bukanlah solusi terbaik.

Ayo Nara, lo gak cemen.

"Tumben lo bijak, Som," puji gue bikin orangnya malah nyengir gaje.

Tapi gak mungkin juga kalo gue narik ucapan gue tadi. Masa gue yang udah minta putus malah minta balikan lagi? Gengsi ah.

Nara mah mau mau tapi malu😆

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nara mah mau mau tapi malu😆

ephemeral +renjunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang