"Cewek apa cowok sih? Tadi gue malah nabrak cowok."
"Maksud lo.. lo salah nabrak orang?"
"Gue juga gak tau bakal salah tabrak. Itu cowok tiba tiba dateng nyelamatin target kita!"
"TOLOL! Harusnya lo kerja yang bener!"
"Nakyung denger dul-"
Sayang sekali, Nakyung lebih dulu menutup teleponnya karena kepikiran sesuatu.
"Cowok? Nyelamatin Nara? Jangan bilang itu..Renjun?" pikir Nakyung. Mata nya mulai berkaca kaca, tubuh nya ambruk begitu saja. "Gak..hhh..NGGAK!! NGGAK!!" teriak Nakyung sambil menyingkirkan barang barang yang ada di meja riasnya.
Terdengar suara pintu digebrak dengan keras, itu adalah ayahnya. "BUKAIN PINTUNYA ANAK BANGSAT!!" Karena pintunya dikunci, ayahnya Nakyung mendobrak pintu tersebut. Dan berhasil.
Di ambang pintu, ada ayahnya sedang berdiri sambil membawa rotan panjang. Benda itu selalu menyentuh tubuh Nakyung dan meninggalkan memar. Bisa dibilang Nakyung ini diperlakukan gak baik setelah ibunya meninggal.
Ayahnya Nakyung suka mabuk dan menjadi pemarah, terkadang emosi ayahnya selalu diluapkan kepadanya. Karena itulah Nakyung berpikir gak ada orang yang menyayanginya sepenuh hati.
Sedangkan di sekolah, selalu ada Renjun yang memperlakukan dia layaknya manusia. Hal itu membuat Nakyung merasa bahwa Renjun adalah satu satunya orang yang bisa menyayanginya. Dia berusaha mendekati Renjun untuk mendapatkannya. Tanpa sadar Nakyung menjadi terobsesi pada Renjun.
Menurutnya, rumah adalah neraka. Tiada hari tanpa dipukul ayahnya tapi Nakyung gak pernah ngelawan sama sekali.
Tanpa aba aba, ayahnya memukul Nakyung menggunakan rotan panjang. Gak hanya satu kali tapi beberapa kali. "Makanya jangan berisik! Ganggu orang tidur!"
Sekali saja, Nakyung ingin melawannya walaupun itu mustahil dilakukan. Tapi sekali saja..
Kebetulan ada botol parfum yang tergeletak di bawah lantai. Nakyung mengambil parfum itu dan menyemprotkannya pada ayahnya. Ketika ayahnya lengah, Nakyung berlari keluar dari rumah tanpa membawa apapun. Entah kemana dia pergi, yang terpenting dia menjauh dari rumah ini.
"Rumah Jiheon.." gumamnya.
Letak rumahnya dengan rumah Jiheon gak jauh, hanya lima menit saja Nakyung sudah sampai di depan rumah Jiheon.
Jari Nakyung menekan bel rumah ini, pintu pun terbuka. "Nakyung? Lo di siksa lagi?" tanya Jiheon yang dijawab anggukan kepala oleh Nakyung. Jiheon memang tau kisah hidup Nakyung seperti apa karena mereka berteman.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Disinilah Nara menunggu, di depan ruang operasi. Tak hanya Nara yang menunggu tapi ada squadnya dan squad Renjun. Sebenarnya ada Mark juga karena dari tadi sore, Nara susah banget disuruh makan.
"Ra.. makan dulu yuk?" ajak Siyeon tapi Nara gak mengindahkan, dia cuma bengong.
"Ra kalo lo sakit, siapa yang ngasih Renjun semangat? Lo nya aja loyo begini," ucap Haechan yang disela candaan.
"..." tak ada jawaban dari Nara. Biasanya dia akan memberi respon sama candaan Haechan yang garing krenyes krenyes.
"Mana anak saya?!" tanya seorang wanita yang tiba tiba datang memperlihatkan wajah paniknya. Kedatangannya disusul oleh dua orang pria yang terlihat seperti anak dan ayah.
Meskipun Nara belum pernah bertemu keluarga Renjun, tapi dia tau kalo mereka bertiga ada keluarga Renjun.
"Renjun sedang dioperasi tante," jawab Jaemin membuat Wendy membekap mulutnya.
"Kenapa? Kok bisa?" tanya Chanyeol.
Nara bertekuk lutut di hadapan Chanyeol dan Wendy, "Dia mengalami kecelakaan karena menyelamatkan saya. Maaf om, tante, saya yang membuat Renjun jadi seperti ini.." lirihnya.
Somi mendekati Nara dan membantu Nara berdiri.
Tiba tiba dokter keluar dari ruang operasi, "Apakah ada keluarga dari saudara Renjun?" tanya dokter itu, Wendy dan Chanyeol pun menghampiri dokter itu.
"Pendarahan di otaknya sangat parah," Sang dokter menghela napas, "Mohon maaf, kami sudah berusaha semampu kami tapi pasien tidak dapat kami selamatkan."
Wendy membalikkan badannya dan berjalan menuju Nara lalu menampar wajah Nara dengan keras, "Kenapa harus anak saya?! KENAPA?!" bentaknya
Semua orang terkejut dengan pernyataan dokter dikejutkan lagi dengan tindakan Wendy. Sedangkan Nara terkejut bukan karena ditampar ibu Renjun melainkan karena mendengar pernyataan dari dokter.
"JAWAABBB!!" teriak Wendy sambil mengguncang tubuh Nara, Chanyeol berusaha menghentikan Wendy dan tiba tiba saja Wendy pingsan. Sedangkan Nara ambruk di tempat, dia mulai menangis, lagi.
Tangisannya sampe gak ngeluarin suara dan itu membuat dadanya sesak. Nara memukul dadanya. Mark yang melihat itu pun, mencoba menenangkan Nara.
"Bang..hiks gue..gak akan pernah..hiks maafin diri gue.."
"Ssttt jangan ngomong gitu. Ini bukan salah lo dek. Ini takdir."
Selagi Nara menangis, dia teringat kenangan terakhir bareng Renjun.
Renjun..
Seandainya lo gak nyelamatin gue, lo pasti gak akan pergi ninggalin gue..
Sekarang gue harus gimana?
THE END
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.