Hujan mengguyur. Angin menampar-nampar jendela kaca di kamar Annawi dan kilatan petir terlihat berakar di luar sana. Annawi meletakkan boneka terakhir yang sudah selesai ia kerjakan. Kelelahan membuatnya urung mengemas benda itu ke dalam plastik baru. Mungkin masih bisa besok. Ia turun dari tempat tidurnya, memperhatikan malam yang terlihat bagai kiamat yang sedang menyusul. Ia berpikir, apakah kelak ia akan mati di saat malam diterjang hujan badai seperti ini? Seperti apa rasanya? Ibunya tak punya sanak keluarga yang sering datang berkunjung apalagi melihat bagaimana ia berhasil hidup sampai pada detik ini. Namun jika benar ia kelak bakal mati di situasi yang mengerikan tetapi dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya, mungkin itu lebih baik ketimbang ia mati dalam keadaan kesepian dan menyendiri.
Ia keluar dari kamarnya dan mendapati ibunya sedang duduk di sofa ruang tengah bersama tivi yang padam dan secangkir teh jahe. Annawi melihat jam dinding, jam sembilan, dan ia tahu ibunya selalu tepat waktu untuk menyeduh teh jahenya di jam tersebut. Ruangan itu tidak benderang, lampu nordik yang menempel di dinding adalah penerangan redup yang selalu seperti itu di saat malam.
"Ann?" panggil ibunya.
Gadis itu duduk di sebelah Asti. Wajah lesu jatuh ke pangkuan ibunya dan ia tidur meringkuk.
"Kenapa? Ada yang sakit?" Annawi menggeleng. "Badai membuat Ann tidak bisa tidur?" Ia menggeleng juga. Saat ibunya mengelus kepala polosnya, ia melihat wajah Asti yang tanpa senyum itu benderang tiba-tiba karena efek cahaya petir. Gemuruh petir menendang telinganya kemudian.
"Sejak Ann kecil, sejak sebelas tahun kita menempati rumah ini, kenapa tidak ada keluarga yang datang menjenguk kita bahkan di hari-hari besar?"
"Memangnya kenapa?" Asti merangkul tubuh Annawi menunggu tanggapan selanjutnya, tetapi yang ia dapatkan hanya wajah murung dari anak itu. "Kenapa tiba-tiba berpikir seperti itu? Ann punya Bukde Yani, Bukde Rasti, ada Dila juga yang sering ajak main, dan anak-anak tetangga sini juga sayang sama Ann."
Tapi mereka hanya tetangga, ujar Annawi dalam hati. Tetangga tak sepenuhnya paham dengan kesulitan mereka, kesulitan dirinya. Justru ia lebih sering iri pada tetangganya sebab di hari libur, perayaan hari besar dan pesta tertentu, mereka dikerumuni sanak keluarga yang sebagian diundang khusus dan sebagian lagi datang secara sukarela. Memenuhi rumah, memenuhi hari dengan suara tawa, obrolan menyenangkan dan nyanyian yang tak seirama tapi bahagia. Sedangkan Annawi hanya bisa melihat kumpulan orang-orang penuh tawa itu di balik gorden jendela. Sepi dan tak diperbolehkan keluar rumah.
Annawi menepuk-nepuk paha ibunya, merasakan aroma khas kulit lemon merasuki dadanya. "Ibu tahu Ann merasa sangat kesepian, iri dengan anak-anak lain yang bisa bermain dan bergaul dengan leluasa. Tapi mereka tidak punya sesuatu yang spesial dan hal-hal seperti itu berada dalam golongan besar yang tak punya arti. Ann spesial, menjadi orang yang spesial itu terkadang memang meyedihkan, tapi banyak orang di luar sana yang menyayangimu melebihi keluarga sendiri." Annawi tersenyum ketika ibunya mencium punggung tangannya lalu mengelusnya penuh kasih. "Bagi ibu, melihat Ann seperti ini dan tetap berjuang bersama Ibu sudah jauh lebih dari cukup. Ingat siapa prajurit sejati di rumah ini?"
"Ibu adalah prajurti sejati Ann."
"Itu tanggapan yang bagus dan akan lebih baik jika Ann membantu Ibu untuk membuat segalanya berjalan normal."
Normal, bagi ibunya adalah membiarkan Annawi tetap berada di rumah dan keluar hanya untuk mendapatkan sinar matahari pagi atau ke rumah sakit. Normal menurut ibunya adalah aktivitas bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan terbaik untuknya, memandikannya, mengajarinya berbagai pelajaran sekolah yang tak pernah didapatkan sejak kecil. Ibunya menyalakan TV yang menayangkan drama Korea dari VCD Player meski Dila--anak Bukde Yani yang merupakan tetangga sebelah rumahnya--bilang kalau benda itu sudah sangat ketinggalan zaman, Annawi tetap merasa beruntung bisa melihat pemandangan indah dari para aktor drama tersebut. Ia tidak akan pernah diperkenankan memegang apalagi memiliki handphone android dengan alasan radiasi dapat menimbulkan efek samping serius pada penderita kanker.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENUBA [Tamat]
Mystery / ThrillerAnnawi pernah bertanya pada ibunya mengapa ia dilahirkan dalam keadaan terdoktrin untuk mati perlahan-lahan. Namun ibunya tak memiliki jawaban spesifik mengenai itu. Leukemia yang dideritanya sejak berusia lima tahun jelas menjadi penghambat perkem...
![MENUBA [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/242304939-64-k770067.jpg)