Ini pertama kalinya Annawi ketakutan setengah mati sebelum mengkonsumsi obat. Gelagat ibunya, ketidaksesuaian rasa di tubuhnya dengan kebutuhan penawar sakit, juga kecemasan yang berlebihan, mau tak mau Annawi harus melarikan diri.
Ia mencoba membuka pintu depan, sayangnya, pintu itu terkunci dan Annawi tak tahu harus bersembunyi di mana lagi selain di dalam kamar mandi. Langkahnya mengendap. Beruntung kakinya yang ringan tidak menimbulkan jejak suara. Di dalam kamar mandi, Annawi langsung memasukkan pengait pintu berbahan fiber itu, berdiri dengan tubuh gemetar serta napas yang berusaha ditenang-tenangkan.
Tak ada cara bagus untuk meredakan gemetar dari perasaan takut. Manakala ia mendengar ibunya melaungkan namanya, jantung Annawi semakin mengentak-entak. Pintu digedor. Ibunya terus memintanya keluar sementara air matanya meluruh. Ia ketakutan.
"Ann! Buka pintunya, Nak. Ini Ibu ... ayolah keluar dari sana."
Sulit dipercaya, bagaimana bisa Annawi bersikap seperti orang yang hendak diburu. Ibunya bagai monster yang mencari santapan. Annawi merapatkan punggungnya ke dinding bawah shower yang tergantung, berupaya untuk meredakan rasa cemas. Meski yang lebih terasa berikutnya adalah pandangannya yang berubah seperti tampilan berbayang. Sesuatu di dalam kepalanya menangkap hal lain, gemetaran di tubuhnya berangsur hilang, tubuhnya lemas dan rasanya tak berdaya dalam segi pertahanan diri.
Sialan, ibunya pasti sudah mencampurkan obat penenang ke dalam spageti yang disantapnya.
"Buka pintunya, Ann ... jangan membuat Ibu cemas. Apa yang terjadi di dalam sana?"
Ibunya justru bertanya apa yang terjadi? Annawi bahkan tak mengerti kenapa ibunya mengalihkan keadaan yang sesungguhnya. Seolah-olah Annawilah yang membuat masalah sedangkan ibunya yang berhak menginterogasi.
"Ibu tahu, Ann sudah lelah dengan penyakit itu. Tapi Ann tidak bisa membiarkan leukemia terus bersarang di dalam tubuhmu, Ibu akan menyudahinya, Nak. Ibu akan menyembuhkanmu. Percayalah pada Ibu."
Annawi memeluk tubuhnya sendiri, kedua tangannya menyilang dan mengusap-usap pundak juga wajah. Ia bingung, Annawi bimbang, apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya sendiri? Rasa takut mengambang ke permukaan udara. Annawi melangkah mendekati wastafel dengan langkah limbung. Suara ibunya masih berada di luar sana. Mendesak.
"Jawab Ibu, Ann!" sergah ibunya. "Diam atau bersembunyi tidak akan menyembuhkan penyakit. Ann butuh pertolongan Ibu." Kenop berputar-putar, ketukan pintu masih terdengar memburu. "Baiklah jika itu yang Ann inginkan. Ibu akan gunakan cara Ibu sendiri!"
Tangisan di wajah Annawi berubah menjadi kekesalan yang teredam. Ia melihat wajahnya di cermin: lesu dan merasa bodoh. Tangannya mencengkeram bagian tepi wastafel, dunia serasa bergelombang, cermin di hadapannya tampak berderak-derak. Annawi meringis. Dengan cara apa pun ia tidak bisa mengendalikan zat konyol di dalam kepalanya. Kaki dan tangannya lemas, tak ada yang bisa digunakan untuk menopang hingga akhirnya ia terjatuh. Dagunya membentur tepi wastafel, bibir bagian dalamnya tergigit. Saat ia sudah tergeletak di lantai, Annawi merasakan asin darah melumuri mulutnya. Ia melenguh.
Ia tak dapat bernapas dengan baik. Segalanya tampak bergoyang. Di sana, saat ia melihat pintu, kunci pengait bergeser sendiri. Kenop diputar. Pintu terbuka lebar. Bukan siapa-siapa, nyatanya ia melihat ibunya sudah berdiri di sana. Memandanginya.
"Ya Tuhan!" pekik ibunya saat berlutut di samping Annawi, menyentuh wajahnya. "Pendarahan!" Annawi ingin bersuara, ingin memberontak. Namun sayang, ia bahkan tak dapat menghalangi tangan ibunya yang sudah menyelip di bawah punggung juga pahanya. Tubuhnya mengudara, terkulai di atas lengan kokoh ibunya. "Sabar, Sayang ... Ibu akan obati. Ann bakal baik-baik saja, Ibu ada di sini, Sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
MENUBA [Tamat]
Mystery / ThrillerAnnawi pernah bertanya pada ibunya mengapa ia dilahirkan dalam keadaan terdoktrin untuk mati perlahan-lahan. Namun ibunya tak memiliki jawaban spesifik mengenai itu. Leukemia yang dideritanya sejak berusia lima tahun jelas menjadi penghambat perkem...
![MENUBA [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/242304939-64-k770067.jpg)