Pada saat hidupmu dihimpit begitu besar rasa bersalah, di saat kesulitan memenuhi ruang kendali tubuhmu, rasanya tak ada yang lebih menyakitkan dan lebih menakutkan ketimbang mendengar hidup seseorang yang sangat kaucintai bakal berakhir dalam waktu singkat. Tiga bulan, satu bulan, dan bisa jadi hanya beberapa minggu. Maka akan tiba suatu momen di mana kau tidak akan beranjak ke mana-mana demi bisa melihatnya bicara, tersenyum, berjalan menghampirimu lalu mengatakan sesuatu yang menyenangkan. Menunggu kapan saatnya ia bisa menjadi seseorang yang bisa kauandalkan.
Ada begitu banyak mimpi dan juga rencana yang sudah dipikirkan Asti jauh-jauh hari. Jauh sebelum buah hati yang menjadi satu-satunya penyelamat hidupnya mengalami hal yang tak pernah ia bayangkan.
Saat Asti menatap wajah Annawi yang tertidur di dalam pangkuannya, ia merasakan kabut berputar-putar di permukaan wajah anak lima tahun itu. Sendu dan tak berdosa. Mata Annawi terpejam, bibirnya yang mungil dan juga kulit pipinya yang halus pucat itu seolah berubah menjadi cermin yang menayangkan tampilan berbayang. Tentang masa kanak-kanaknya yang bakal terkuras, menghindari masa-masa keemasannya bersama anak-anak yang lain. Pesta ulang tahun akan menjadi sesuatu yang ironi, sekolah sudah pasti menjadi ancaman yang sulit dilaluinya, crispy snack bagaikan racun dan akan selalu menjadi racun sepanjang hidupnya.
Taksi membuat tubuhnya bergoyang akibat jalanan yang tak mulus. Asti menciumi wajah anaknya yang masih tertidur. Tubuh Annawi hangat dan rambut panjang berkilau nakalnya akan menjadi sesuatu yang sangat ia rindukan. Separuh hatinya gelisah, ia masih tak dapat percaya dengan apa yang ia dengar. Annawi terlihat begitu sehat, bagaimana mungkin purwarupa kematian sudah menunggunya di depan dalam waktu yang tak akan lama lagi. Itu bukanlah wajah yang terdoktrin untuk mati perlahan-lahan. Demam berhari-hari dan tangisan yang selalu terdengar di telinga Asti sebelum ia memutuskan untuk membawa sampel darah anaknya ke lab rumah sakit seumpama cara yang ia sesali.
Ia memeluk tubuh Annawi erat, membawanya lunglai dalam gendongan ketika turun dari taksi. Di sana, beberapa langkah di hadapannya, di beranda depan rumahnya, sanak saudara dan juga para tetangga yang biasa bercengkerama dengannya berdiri hampir serempak menyambut kedatangan Asti.
Wajah Asti muram dan matanya bengkak sebab air mata. Asti menciumi wajah anaknya yang masih tertidur. Pertanyaan mereka memenuhi isi kepala, menerpanya bagai deburan ombak. Seorang wanita yang ia kenal sebagai adik dari ayahnya bertanya, "Apa kata dokter? Annawi baik-baik saja, 'kan?" Asti terdiam, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Annawi. Hal yang cukup membuat mereka semakin khawatir.
Tak ada kata yang sanggup Asti ucapkan selain duduk dan menenangkan diri. Ia mengambil secarik kertas hasil tes laboratorium yang sudah dibacakan dokter, menunjukkannya pada mereka yang tak mengerti apa arti istilah-istilah medis yang tertera di sana.
Lalu bibir Asti terbuka, bergetar dan tertekan hanya untuk mengucapkan satu kata. "Leukemia."
Kemudian di saat yang sama, enam orang yang mengelilinginya memegangi dada, terkejut setengah mati dan tak percaya. Mereka berlutut dan membelai anak perempuan yang masih tertidur dalam pangkuan ibunya. Ungkapan keprihatinan membanjir dan Asti tak tahu apa yang membuatnya begitu merasa aman.
***
Welcome to my story
Genrenya psikologi thriller
Bakal bikin kalian penasaran sampai akhir dan aku cuma mau bilang
SELAMAT MEMBACA
Jangan lupa bintang dan komennya
KAMU SEDANG MEMBACA
MENUBA [Tamat]
Mystery / ThrillerAnnawi pernah bertanya pada ibunya mengapa ia dilahirkan dalam keadaan terdoktrin untuk mati perlahan-lahan. Namun ibunya tak memiliki jawaban spesifik mengenai itu. Leukemia yang dideritanya sejak berusia lima tahun jelas menjadi penghambat perkem...
![MENUBA [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/242304939-64-k770067.jpg)