Dua puluh sembilan

855 213 61
                                        

Saat Annawi berusia tujuh tahun, ia pernah bermain hide and seek bersama ibunya di halaman depan dan di dalam rumah. Saat giliran ibunya yang berjaga, Annawi akan berlari kemudian mencari tempat persembunyian. Di bawah kolong mobil, di balik sesemak, di kolong kursi atau meja, tetapi ibunya selalu berhasil menemukannya. Membuatnya terkejut dan terpaksa menyerah. Akan tetapi, ia pernah berhasil membuat ibunya kelimpungan saat Annawi bersembunyi di atas loteng. Plafon di dapur bisa dibuka dengan mudah. Annawi menggunakan tangga portable lalu ikut menaikkan tangga tersebut ke dalam loteng agar tidak ketahuan. Kaki dan tangannya bertumpu pada rangka-rangka plafon.

Tentu saja dia berhasil. Satu jam ibunya mencari-cari sampai menangis. Memanggil-manggil namanya berulang kali. Annawi hanya terkikik di dalam sana dan menganggap itu hanyalah trik ibunya agar ia menyerah. Ia bahkan tidak akan menyerah jika bukan karena suara ramai orang-orang yang mencarinya muncul. Ternyata, Annawi membuat hampir satu RT heboh.

Kali ini, Annawi berharap ibunya tidak mudah menemukannya lagi. Justru berharap agar ibunya mengerahkan para warga untuk mencari keberadaannya. Maka ia bisa bersuara dan meminta tolong. Membeberkan semuanya, membuat semua orang percaya. Jika saja ia punya tubuh yang sedikit kuat untuk berjalan dan mencari bantuan, Annawi tak mungkin membiarkan tubuhnya terperangkap di dalam gubuk itu.

Tubuhnya gemetar kedinginan, bibirnya sulit untuk mengatup. Tempat itu hanya berukuran tiga kali tiga meter. Annawi duduk di atas tumpukan karung berisi pupuk. Lantai di dasar kakinya berupa tanah kasar bercampur kerikil dan sedikit lembab. Terus terang ia jijik, tidak pernah terbiasa dengan tempat kotor. Hujan yang mengguyur lambat laun menambah intensitas. Atap bocor dan mengenai ujung kaki. Annawi menggeser tubuhnya untuk mendapatkan tempat yang lebih nyaman. Setelahnya, ia memeluk lututnya sendiri untuk menghangatkan.

"Ann! Ini Ibu, Nak ... kamu di mana?"

Darah di dalam dadanya seakan melonjak naik. Annawi terkesiap mendengar sayup-sayup teriakan ibunya di antara suara rintisan hujan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menutupi tubuhnya.

Karung-karung pupuk, akhirnya ia susun dengan susah payah. Tenaganya yang ringkih dikuat-kuatkan untuk membuat benteng tinggi dua baris. Sepuluh karung digeser dan diseret, giginya mengerat mengerahkan kekuatan. Napasnya tersengal, suara ibunya tedengar semakin dekat. Ia mengangkat satu karung terakhir untuk diletakkan di bagian atas baris ke dua. Annawi berjongkok, kakinya terlipat dan rasanya sungguh tersiksa bersembunyi di tempat yang sempit menghimpit.

Ada celah sebesar dua sentimeter di antara barisan kesatu dan kedua karung untuk tempatnya mengintip. Suara ibu yang melaungkan namanya tidak lagi terdengar. Senyap dan hening kecuali rintisan hujan yang mengguyur atap gubuk. Annawi menelan salivanya, menahan bibirnya yang gemetaran diiringi dengan napas memburu yang membaluri dada.

Senyap.

Annawi mengintip meski penglihatannya buram. Lubang-lubang kecil pada dinding tepas bambu memperlihatkan bayangan jika ada orang yang berada di luar. Ia menarik napas dalam - dalam. Tidak ada suara langkah siapa pun terdengar, Annawi cukup lega.

Namun tidak, ketika tiba-tiba sebuah bayangan muncul dan sebelah mata seseorang muncul di lubang dinding sebesar uang logam. Annawi terkejut, membekap mulutnya dan sebisa mungkin menahan napasnya agar tetap tenang.

Pintu yang terbuat dari seng digebrak-gebrak agar terbuka. Kunci pengait sebesar jari telunjuknya hampir terlepas. Air mata Annawi menderas, kakinya yang terlipat semakin sakit. Pintu tidak lagi digedor. Diam selama beberapa detik. Ia mengambil udara sebanyak mungkin, tetapi tersentak ketika tiba-tiba dinding tepas itu terbelah. Dibacok menggunakan cangkul. Kemudian ditendang dan roboh ke dalam.

MENUBA [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang