Dua puluh

631 203 37
                                        

Annawi sudah tertidur ketika Danu dan Dila hendak keluar dari ruangan untuk pulang. Meski Danu masih merasa tidak puas telah bersikap baik pada Asti, ia tak boleh mengabaikan sopan santun dengan orang yang lebih tua untuk berpamitan.

Begitu mereka sudah keluar kamar, Dila tiba-tiba menghentikan langkah Danu sampai-sampai pria itu terkesiap.

"Mas Danu dengar apa yang dikatakan Ann tadi?" tanya Dila.

"Ya, saya dengar. Ann ... meminta tolong."

Dila mengesahkan napasnya, bersedekap di depan dada bersama raut wajah yang gelisah. "Aku belum pernah mendengar Ann berkata seperti itu. Apa mungkin dia hanya mengigau atau karena pengaruh obat?"

Danu menggeleng. "Saya rasa bukan itu. Tampaknya Ann memang sedang butuh bantuan. Semalam, Ann mendatangi saya dan bertanya soal penyakit leukemia. Itu sedikit aneh, dan itu sebabnya aku bertanya pada kalian tentang yang dialami Ann selama ini. Ditambah dengan kejadian mendadak Ann overdosis, saya sempat berpikir mungkin Bu Asti sengaja melakukannya."

"Mustahil, Mas," sangkal Dila. "Kita tahu Ann memang sakit-sakitan dari kecil, Tante Asti sangat mencintai anaknya, dia bahkan pantas mendapat predikat sebagai ibu terbaik di dunia. Mustahil jika Tante Asti sengaja melakukannya."

"Jika benar Ann mengidap leukemia, seharusnya Bu Asti membawanya ke dokter onkologi yang khusus menangani kasus penyakitnya. Apa kamu tahu di rumah sakit mana biasanya Ann kontrol?"

Dila mencoba mengingat. Danu menunggu, tetapi yang ada hanya gelengan kepala dari Dila. "Aku tidak tahu. Ann atau Tante Asti tidak pernah bercerita."

"Nah, dugaan saya semakin kuat. Dila, saya butuh bant—"

"Dokter Danu? Dila? Kalian masih di sini?" Kata-kata Danu terpotong saat tiba-tiba Asti keluar dari kamar. Menutup pintu perlahan dengan pandangan heran melihat dua orang itu terkejut. "Kenapa kalian terkejut begitu?" tanyanya terus terang.

Dila tersenyum, berusaha menutupi gelagat yang dapat membuat Asti curiga. "Uhm... Tante Asti, kita lagi ngomongin rencana untuk bikin sesuatu yang bisa membuat Ann terhibur. Terus terang, Dila sangat sedih melihat kondisi Ann yang semakin—" Dila menunduk, tak sanggup meneruskan kata-kata.

"Tante sangat terharu, Dil. Terima kasih atas semua kebaikan dan perhatian kamu buat Ann." Asti menyentuh pundak Dila. Lalu beralih  pada Danu. "Maaf atas sikap Ann selama ini, Dok. Saya tahu Ann sudah banyak merepotkan Dokter, dia pasti bicara yang tidak-tidak soal penyakitnya, 'kan?"

Danu belum mau menanggapi, ia hanya mendengarkan. Mencari celah yang bisa ia ungkapkan untuk membuat wanita di hadapannya mengatakan kebenaran.

"Sebulan belakangan ini, Ann sering mengigau, bicara seolah-olah ia ingin mati. Saya tahu seperti apa perasaan anak itu. Saya sudah berjuang sampai sejauh ini untuk mempertahankan hidupnya, tetapi, tampaknya ia ingin menyerah saja. Dia menolak untuk meminum obat, bahkan dia bohong sudah meminum obat." Asti meremas ibu jarinya sendiri, seakan-akan kecemasan sedang menggelayut di dalam dirinya. "Ann sering berhalusinasi. Dia bilang, ayahnya datang menjenguknya, padahal tidak ada siapapun yang datang apalagi ayahnya. Lalu, dia mengaku pernah melihat saya melukai diri sendiri, padahal jelas-jelas Ann melihat ibunya terpeleset dikamar mandi dan membentur bathup sampai kening saya terluka."

"Bu, Asti untuk apa Ibu menceritakan semua ini?"

"Saya hanya ingin bilang, jangan terlalu percaya dengan apa yang dikatakan Ann. Penyakit ganas itu membuat Ann depresi sampai-sampai ia menyakiti dirinya sendiri. Kalau saja saya tidak cepat menemukannya di kamar mandi, mungkin Ann sudah tewas."

"Bu Asti menyelamatkannya, tetapi Ibu malah membuatnya overdosis. Saya rasa itu tindakan yang terlalu ceroboh."

"Saya panik!" sergahnya. Lantas ekspresinya berubah, mungkin tersadar karena suaranya terlalu keras. "Saya panik dan tidak tahu harus melakukan apa untuk membuatnya tenang dan menghentikan pendarahannya."

MENUBA [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang