"Ada yang tidak beres dengan anak ini."
Danu langsung mendongak pada Rama yang berdiri di sebelahnya. "Apa maksud kamu, Ram?"
"Aku melihat anak ini menyimpan begitu banyak rasa sakit di tubuh juga jiwanya. Annawi—" Rama memandangi wajah Annawi yang sesekali membuka mata dan sesekali meringis sakit. "—Ya ampun, Nu ... apa yang terjadi padanya selama ini?"
"Itu sebabnya aku membutuhkan bantuan kamu," ujarnya. "Kamu pasti lebih tahu soal psikis yang dialami Annawi. Aku ingin tahu, siapa sebenarnya yang bermasalah di sini. Annawi, atau ibunya."
"Ann tidak salah, Dok," aku Annawi dengan suara getir.
"Ann? Kamu bisa bicara dengan baik?" tanya Danu. Annawi mengangguk, menarik tubuhnya agar bisa duduk. Rama membantu menumpukkan bantal agar membuat punggungnya lebih nyaman. "Ini Dokter Rama, dia dokter spesialis kejiwaan. Dokter Rama akan membantu masalah kamu. Dan sekarang, sudah waktunya kamu bicara, katakan semua yang kamu alami selama ini, Ann."
Annawi memandangi Rama. Bibirnya sedikit gemetar hingga akhirnya ia mengangguk. Danu bangkit dari posisi duduknya di tepi kasur untuk digantikan dengan Rama. Dari sana, Danu bisa melihat paras Annawi yang semula tampak seperti orang yang kehilangan harapan berubah menjadi binar tipis. Ia mendengar keluhan Annawi sebelumnya tentang lambungnya yang sakit, Danu bergegas pergi ke apotek terdekat untuk membeli obat yang diperlukan Annawi selagi Rama mengambil sesi.
Lagipula, ia sudah memercayakan sepenuhnya pada Rama. Hanya dengan cara itu Danu berpikir Annawi bakal bisa selamat. Atau setidaknya, ia bisa menemukan jawaban kebenaran dari apa yang membuat ia bimbang.
Saat ia kembali ke apartemen, Danu melihat Annawi sudah begitu rileks. Sedangkan Rama, dengan paras tampannya itu tak lekang dari wajah tersenyum setiap kali bicara.
"Ann tidak punya dokter khusus selama ini?" Pertanyaan dari Rama itu sempat Danu dengarkan saat ia baru saja kembali dengan membawa air putih dan juga obat yang dibeli.
"Tidak pernah. Ann bahkan hanya menghapal dua nama dokter yang menangani Ann selama ini."
"Jadi kesimpulan dari semua yang kamu ceritakan, ibumu sering berpindah-pindah rumah sakit untuk memeriksamu bahkan ketika kamu tidak merasa sakit. Lalu ibumu akan mengatakan pada dokter apa saja gejala sakit yang kamu alami dan terkadang kamu bahkan tidak mengalami gejala yang ibu kamu katakan?" Annawi mengiakan. "Ibumu suka bereaksi berlebihan jika kamu sakit. Dia selalu mengatakan kalau penyakit ganas kamu harus dikontrol baik-baik sampai-sampai ia membatasi kamu dengan segala macam kegiatan di luar rumah. Apa kamu ingat penyakit apa lagi yang ibumu bilang selain leukemia?"
"Anemia, radang paru-paru, ginjal dan---tapi Ibu lebih sering bicara soal sakit lain yang kemungkinan bakal timbul akibat penyakit leukemia. Dia selalu bilang kalau umurku tidak akan panjang lagi."
"Itu sebabnya ibumu selalu memberimu obat-obatan dan mengatakan kalau dia adalah yang paling tahu soal penyakitmu."
Annawi mengangguk lagi. Danu berdiri mendengarkan kemudian menyela. "Ann tidak pernah diperbolehkan bicara tentang keluhan penyakitnya pada dokter?"
"Sama sekali tidak, Nu. Kemoterapi yang dijalaninya pun tidak pernah di rumah sakit. Semua dilakukan sendiri oleh ibunya. Jika timbul masalah di tubuhnya akibat efek kemoterapi, barulah ibunya akan pergi ke rumah sakit untuk merawat Annawi."
"Jadi menurutmu, Bu Asti yang bermasalah di sini?"
"Aku sudah menerka hal ini sebelumnya, tapi aku butuh bukti lebih akurat agar aku tidak salah diagnosis."
"Apa? Kamu butuh bukti apa?"
"Catatan medis milik Annawi. Itu satu-satunya bukti kuat kita untuk mengarahkannya pada diagnosisku."
KAMU SEDANG MEMBACA
MENUBA [Tamat]
Mystery / ThrillerAnnawi pernah bertanya pada ibunya mengapa ia dilahirkan dalam keadaan terdoktrin untuk mati perlahan-lahan. Namun ibunya tak memiliki jawaban spesifik mengenai itu. Leukemia yang dideritanya sejak berusia lima tahun jelas menjadi penghambat perkem...
![MENUBA [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/242304939-64-k770067.jpg)