Dua puluh empat

606 185 21
                                        

Malam itu rasanya seluruh kemampuan Annawi untuk menguasai situasi seketika merentang. Ia hanya mampu mengandalkan pendengaran saat ibunya berupaya mengambil kembali hatinya. Malam sudah hampir menjelang fajar saat Annawi merasa seluruh tubuhnya sakit. Obat yang diberikan dr. Danu hanya menahan rasa sakitnya sementara. Perutnya terasa perih dan lapar, tetapi ia tak punya sedikit saja nafsu untuk menelan makanan.

Sepulangnya Rama, Yani dan Dila dari rumah mereka, ibunya menyuruh Annawi untuk tidur. Ada perisai yang seolah Annawi nalarkan kemungkinan-kemungkinan buruk bila ia menuruti keinginan ibunya. Ia tak sekuat itu melawan, tidak akan sekuat itu. Tidak pula ia harus turut mengikuti iklim permainan ibunya.

"Boleh, Ann tidur di kamar Ibu?" pintanya.

Ia mendapat tatapan penuh tanya dari Asti. Tak mengapa, Annawi sedikit gugup tapi ia bisa mengatasinya. Satu-satunya cara untuk mengambil map riwayat medis itu hanya dengan masuk ke kamar ibunya.

"Kenapa Ann tiba-tiba ingin tidur di kamar Ibu?" tanya Asti penuh selidik.

"Apa tidak boleh?"

Ibunya tersenyum, membelai pipinya yang masih terlihat pucat. "Tentu saja boleh, Sayang. Ayo, biar Ibu papah Ann ke kamar."

Gawai yang ia dapat dari dr. Danu masih disimpan baik-baik di dalam saku jaket. Dr. Rama sudah mengajarinya bagaimana cara menggunakan fitur kamera dan juga aplikasi pesan. Itu adalah hal perdana yang pernah Annawi lakukan sepanjang hidup. Ia tak pernah tahu ternyata teknologi bisa sebegitu canggih.

Lengan kanan ibunya merangkul tubuh kecilnya yang tak sanggup berjalan tanpa dibantu. Annawi bisa berjalan, hanya saja ia memang benar-benar butuh penopang dan ia tidak berbohong saat ini. Ibunya membantunya berbaring.

"Ibu akan ambilkan pakaian ganti untuk Ann tidur."

"Tidak usah, Bu. Pakaian ini belum begitu kotor dan lagipula, Ann kedinginan." Jaket yang melekat adalah media terbaik untuk menyembunyikan benda penting itu.

"Oke. Tidurlah, Ann pasti sangat lelah."

Selimut menutupi tubuhnya sampai batas dada. Ibunya turut berbaring dengan posisi miring di sebelah, memandangi wajahnya dan menepuk-neluk lengannya seperti balita yang dininabobokan. Annawi menoleh, memandangi wajah ibunya yang seharusnya, dan seandainya, Annawi tak pernah tahu soal penyakit mental yang selama ini bersarang di dalam jiwa ibunya. Ia tidak dapat melihat dengan jelas seperti apa rupa ibunya akibat penglihatannya yang payah. Rasanya ingin menangis. Kepercayaan yang selama ini ia anut dalam-dalam tentang sosok seorang ibu, berangsur luruh dan melerai entah ke mana.

"Kenapa Ann lihatin Ibu begitu?" bisik Ibunya. Dengan jemari yang masih menepuk-nepuk ringan lengannya.

"Ibu sangat mencintai Ann. Benar, 'kan?"

"Tentu saja Ibu mencintaimu. Ann adalah anak Ibu, satu-satunya buah hati Ibu. Bagaimana mungkin Ibu tidak mencintai Ann?"

Ann berpikir, apa ibunya harus mencintai dengan cara menyakitinya? Segala yang tampak dari luar bagaikan raga yang dengan sempurna rela mengorbankan apa pun demi dirinya. Akan tetapi, jauh di dalam sana---di dalan jiwa ibunya---Annawi tak dapat mengenali ibunya. Sesuatu yang mengerikan menggerakkan pikiran ibunya. 

"Bu, seandainya Ann punya ayah, apakah Ibu akan tetap mencintai Ann dengan cara seperti ini?" Yang dimaksud Annawi dengan mencintai dengan cara seperti ini, adalah mengenai cara ibunya memperlakukan ia sebagai seorang pesakit. Itu terlalu menyakitkan bagi Ann. Namun lagi-lagi ia tidak bisa mengungkapkannya secepat itu. Mungkin nanti. Nanti, jika ibunya tau di mana letak kesalahannya sendiri.

"Ayahmu, tidak pernah mencintai Ibu, Ann. Kalaupun Ayah ada, Ibu akan tetap mencintai Ann dengan cara seperti ini. Mengasuhmu, merawatmu dan memberikan penghidupan yang layak untuk Ann." Detik itu juga, Annawi menangis. Ia tak lagi sanggup membendung air matanya yang sejak tadi tertahan. Bibirnya bergetar, pipinya basah dan di saat itu pula, jemari ibunya ada untuk menyeka air matanya.

Ibu benar-benar sakit, ungkapnya dalam hati. Apa yang dikatakan dr. Rama membuatnya dapat melihat purwarupa tidak biasa milik ibunya.

"Kenapa Ann menangis?" tanya sang ibu. "Ada yang sakit? Bagian mana yang sakit, Sayang? Hum? Katakan pada Ibu."

Awalnya, Annawi merasa takut berada dekat dengan ibunya setelah apa yang ia alami. Namun, melihat ibunya seperti ini, Annawi tidak tahu harus menyalahkan siapa. Telapak tangan ibunya terasa hangat di pipinya. Ia menggeleng, menyentuh punggung tangan ibunya seakan ingin memeluknya saja. Matanya terpejam sesaat, bulir air mata megah keluar dari sudut matanya. Bagaimanapun, wanita yang sudah tampak tua itu adalah ibu kandungnya.

"Ann tidak sakit, Bu. Ann ... justru sangat mengkhawatirkan Ibu."

"Sayang, Ibu akan baik-baik saja selama Ann ada di sisi Ibu."

Pernahkah kau menyadari, seseorang yang selalu berada di sisimu dan tampak sangat tulus ternyata punya maksud lain yang bisa meracunimu kapan saja? Mereka akan bersanding denganmu, menyokong kebutuhanmu tetapi mendadak ia mendorongmu jatuh ke dalam jurang. Annawi baru menyadari, bahwa ternyata selama hidupnya, ia sudah duduk di tepi jurang yang kapan saja dapat dengan mudah menjerumuskannya masuk ke sana.

***

Ann tidak benar-benar tidur ketika ibunya sudah tertidur pulas. Ia sudah memastikan itu.Perlahan dan dengan sangat hati-hati, Annawi bangkit dan turun dari tempat tidur. Mengeluarkan gawai yang semula tersimpan di saku jaketnya kemudian dengan gerakan seringan mungkin, Annawi membuka laci dari meja rias ibunya.

Derik suara laci yang terbuka berusaha Annawi redam sebisu mungkin. Ia melirik ibunya, masih tertidur dan masih sangat pulas. Satu tangannya menaruh map itu di atas meja rias setelah sebelumnya ia memindahkan benda-benda menyudut ke dinding cermin. Annawi membuka fitur kamera. Satu per satu, Annawi memotret kertas hasil lab dan juga catatan dokter mulai dari yang paling lawas. Matanya yang buram tak dapat melihat pola kertasnya dengan maksimal. Ia hanya menggunakan intuisi praktis. Beruntung pencahayaan di kamar ibunya cukup baik sehingga Annawi tak perlu lagi menyalakan flash kamera.

Ibunya bergerak, mengubah posisinya yang semula miring menjadi telentang. Annawi menutup map itu cepat-cepat. Diam sebentar. Dibukanya lagi map itu setelah memastikan bahwa ibunya tidak terbangun. Ia memperoleh setidaknya dua puluh tiga kali jepretan. Menyimpan kembali map itu ke dalam laci lalu dengan langkah hati-hati, Annawi berniat untuk kembali ke kamarnya.

Itu rencana selanjutnya. Kembali ke kamar dan mengirimkan semua hasil fotonya ke Danu. Pintu ia buka pelan-pelan sembari memasukkan kembali gawai ke dalam saku.

"Ann?" tiba-tiba saja, suara ibunya menerjang. Halus dan tak bernada.

Annawi menegang di atas kakinya sendiri. Mau tak mau menoleh ke arah ibunya yang sudah terduduk. Memandangi dirinya dengan rambut yang menutupi sebagian wajah.

"Mau ke mana?" tanya ibunya.

Kegugupan seketika membaluri isi kepalanya. "Ann ... ingin buang air kecil, Bu. Ann juga haus."

"Kembali lah tidur. Bukankah Ann sudah memakai diapers?" Annawi terdiam. Menelan salivanya yang terasa mengganjal. Wajah ibunya, sejenak terlihat mengerikan bila menatapnya seperti itu. "Kembali tidur. Biar Ibu ambilkan minum untukmu." Annawi dihampiri ibunya. Kedua bahunya dipegang untuk dituntun kembali ke tempat tidur. "Jangan banyak bergerak, kata dokter kamu harus bed rest selama beberapa hari. Apa diapersmu penuh?" Annawi menggeleng masam. "Ya sudah, lakukan apa yang dokter katakan. Ibu akan kembali sebentar lagi."

Ketika ibunya keluar, Annawi mengeluarkan gawai kemudian dengan cepat mengirimkan gambar ke Danu. Meski nyatanya, dari 23 gambar yang ada, Annawi hanya mampu mengirimkan 3 gambar sebab ia tak begitu pandai menggerakkan jarinya dengan cepat.

"Ternyata sudah jam lima pagi."

Gawainya terjatuh ke lantai. Suara geletak terdengar. Ibunya mematung dengan tatapan curiga seketika itu juga. Namun tumit Annawi, ternyata bergerak lebih cepat dan mendorong benda itu masuk ke dalam kolong.

MENUBA [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang