Malam itu, lewat dini hari, Annawi terduduk lemas di atas sofa. Di antara dua wanita yang mengasihinya, di dalam rumahnya. Rumah ibunya. Pandangan mata dr. Rama mengisyaratkan beberapa kata yang Annawi hanya bisa mengartikannya dalam satu kata—kasihan. Itu yang ia tangkap. Seandainya yang duduk di atas sofa tunggal di seberangnya itu adalah dr. Danu, mungkin Annawi tak akan bisa lagi menahan air mata.
"Saya harus membawamu pulang. Hanya itu jalan satu-satunya untuk menyelamatkanmu dari bahaya yang lebih besar." Dr. Danu menjelaskan, mencoba memberi pengertian pada Annawi.
"Ann sudah berjuang mati-matian untuk kabur dari rumah sakit agar bisa terlepas dari kendali Ibu. Dan sekarang, Dokter membiarkan Ann bagai dipenjara lagi?"
"Hanya malam ini. Saya berjanji akan membawamu keluar dari rumah itu, Ann."
"Apa ada jaminan kalau Ann bakal tetap hidup besok?" Danu terdiam sesaat. Annawi bisa melihat itu, rupa penuh bimbang berpadu dengan keyakinan. Annawi turun dari tempat tidur, berdiri sedikit terbungkuk. "Tidak ada yang bisa menjamin, 'kan?"
Di luar kamar, dr. Rama sibuk bicara dengan seseorang di telepon genggamnya. Barangkali memberi tahu bahwa ia telah menemukan Annawi.
"Saya berjanji. Untuk membawa kamu keluar dari rumah itu bahkan sebelum sore." Dr. Danu berjalan sebentar mengambil tas ranselnya yang semula tergeletak di atas meja bundar kemudian kembali dengan membawa gawai di tangannya. "Ini. Saya sudah mengaturnya dengan mode getar. Jika kamu kesulitan mengambil map itu, kamu bisa mengambil foto catatan medisnya lalu kirim ke nomor whatsapp saya."
Telapak tangan Annawi ditimpa benda berbentuk pipih yang—sumpah demi apa pun—ia bahkan tidak tahu bagaimana cara menyalakannya. "Dok, ini percuma. Bahkan Ann tidak tahu bagaimana cara menggunakan hape."
"A – apa?"
"Kedengarannya memang aneh. Tapi Ibu tak pernah sekalipun mengizinkan Ann menggunakan hape, menonton siaran tivi nasional apalagi internet." Kepalanya menunduk. Di saat seperti ini, ia baru sadar kalau ternyata ia begitu kolot dalam teknologi. "Apa Dokter masih akan membiarkan Ann berada di bawah kendali Ibu?"
"Ann, seandainya bisa saya yang menggantikan tempatmu, saya tidak mungkin membiarkanmu masuk kembali ke kandang ular." Danu berdiri lebih dekat di hadapan Annawi. Perlahan, ia menyentuh pundak Annawi, kemudian menariknya perlahan ke dalam pelukannya. Kehangatan dada dr. Danu, ternyata mampu menenangkan perasaan Annawi. "Saya akan terus mengawasimu. Jangan takut, Ann. Kamu tidak salah dan ini semua demi kebaikan ibu kamu juga. Saya tahu kamu masih sangat menyayanginya. Hanya saja, ada sebuah sistem yang salah di sini dan yang mampu memperbaikinya hanya kamu. Bagaimanapun, Bu Asti adalah ibu kamu. Hanya kamu yang mampu menyelamatkannya."
Mata Annawi terpejam kuat. Memeras air mata yang turut diliputi dengan isakan tangis memilukan. "Ibulah yang selama ini sakit, bukan Ann."
"Yah, dan kamu harus menyembuhkannya."
"Apa masih bisa?" tanyanya. Annawi melerai pelukan lalu mendongak pada Danu. "Apa Ibu masih bisa sembuh? Apa Ibu akan dipenjara?"
"Kita punya ahlinya di sini, kamu jangan takut. Meski itu tidak sebanding dengan apa yang kamu alami selama ini, tetapi ibumu barangkali sudah sakit sejak lama bahkan sebelum kamu lahir. Ubah posisimu sebagai seorang yang ibu kamu butuhkan, bukan kamu yang membutuhkan ibu. Jika kamu tidak ingin ibumu dipenjara, mungkin kita bisa mengusahakannya. Yang terpenting, kesehatan mental ibumu, Ann. Kasihan dia."
Tidak ada jawaban apa-apa dari Annawi. Rasanya sangat membingungkan. Semuanya terasa sangat tidak masuk akal. Sejak kecil, ia merasakan sakit secara fisik, menggantungkan hidupnya hanya pada ibu, ibu dan ibu. Tak ada sosok ayah dalam catatan kehidupannya. Jauh di dalam inti lekukan peredaran darahnya, Annawi masih sangat menyayangi ibunya. Satu-satunya orang yang sangat ia cintai di dunia ini, mendadak menamparnya dengan kenyataan bahwa kelemahannya selama ini dijadikan sebagai sarana mengais simpati orang lain. Ia tak tahu bagaimana rasio itu dibangun oleh kepribadian ibunya, tetapi—sejauh yang Annawi tahu—ibunya adalah prajurit tangguh yang tak pernah lelah melindungi dirinya. meski dalam artian yang cukup mengenaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENUBA [Tamat]
Mistério / SuspenseAnnawi pernah bertanya pada ibunya mengapa ia dilahirkan dalam keadaan terdoktrin untuk mati perlahan-lahan. Namun ibunya tak memiliki jawaban spesifik mengenai itu. Leukemia yang dideritanya sejak berusia lima tahun jelas menjadi penghambat perkem...
![MENUBA [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/242304939-64-k770067.jpg)