Asti pernah berupaya untuk tegar di hadapan semua orang yang iba kepadanya. Menjadi orang tua tunggal dari anak yang menderita penyakit mematikan tak hanya menyedot perhatian banyak orang. Ada hal yang ia tak pernah sangka bahwa ungkapan penuh kasih itu mengalir ke dalam dadanya, merangkul tubuhnya seakan itu jauh lebih besar dibanding cinta seorang pria.
Saat mereka tiba di rumah, Asti mengeluarkan kursi roda untuk membawa Annawi ke dalam. Ia memeriksa Annawi yang masih terduduk lemas di jok depan. Sudah dipastikan anak itu tidak akan sanggup berjalan. Pandangannya menerawang dan wajahnya melunglai. Asti memegang wajah putrinya, kuyu dan tak berdaya. Mulutnya terbuka dan wajah pucatnya masih berada di sana. Dada Annawi naik turun tak teratur. Ia berpikir mungkin putrinya kesulitan bernapas. Secepatnya, Asti langsung mengambil tabung oksigen portable di bagasi kemudian menyumbat lubang hidung Annawi dengan slang penyalur oksigen.
"Ann? Lihat Ibu, Sayang?" Asti menepuk pipi Annawi pelan. Hanya lirikan kecil dari mata sayu yang Asti dapatkan. "Ibu akan bantu Ann turun. Kita sudah sampai di rumah."
Annawi tidak menjawab. Tidak bisa bicara. Asti merapatkan kursi roda ke sebelah Annawi, menggeser tubuh Annawi sampai anak itu duduk dengan baik. Kepalanya jatuh tertunduk saat Asti mendorongnya ke depan pintu. Punggung Annawi terbungkuk, tangannya jatuh di atas pahanya sendiri. Jika dilihat dari jauh, Annawi tak ubahnya seperti orang tua lumpuh yang sekarat. Asti cepat-cepat membuka kunci pintu. Saat ia hendak membawa Annawi masuk, Yani dan beberapa ibu-ibu tetangga datang bagai pasukan yang menyerbu.
"Asti!" panggil Yani. Wanita itu membawa lima orang turut bersamanya. Dan seperti yang selalu Yani tunjukkan, ia langsung menghampiri Annawi. Menyentuh punggungnya lalu berlutut di depan kursi Annawi. "Masya Allah, Nak? Asti Ann kenapa jadi begini?"
Kedipan mata Annawi begitu lambat, antara sadar dan tidak. Jangankan untuk bicara, menengadahkan wajah saja Annawi tampak tak berdaya.
Satu wanita berhijab kuning, satu wanita sebaya Asti yang berdaster batik, dan dua lagi wanita berseragam guru madrasah. Mereka mengerumuni Annawi. Berbagai pertanyaan menerpa Asti dan semuanya hampir sama.
"Ann tidak merespon omongan kami. Tidak seperti biasanya, dokter bilang apa, Bu Asti?" perempuan berseragam guru itu bernama Tari, salah satu tetangga seberang rumahnya yang selalu memperhatikan Annawi.
"Ya ampun, Ann. Tante sedih lihat Ann begini." Wanita bernama Maya—yang mengenakan seragam guru satu lagi— yang usianya sepuluh tahun di bawah Asti bahkan hampir menangis saat mengelus pundak Annawi.
Asti ingin menjawab mereka, tapi ia malah menangis senggugukan. Wanita berdaster yang kerap Asti panggil Mbak Dwi mengelus pundaknya. Menabahkan.
"Sebaiknya kita masuk dulu ke dalam," usul Dwi.
Asti, dibantu dengan Yanti, membaringkan Annawi ke sofa lalu menyelimuti tungkai anak itu dengan kain selimut polkadot. Yani duduk di lantai, bersandar di kaki sofa dengan tangan yang tak lepas dari genggaman anak itu. Sedangkan empat wanita yang ia bawa turut, duduk teratur di atas sofa lain. Dwi duduk di sebelah Asti mendampingi.
"Kalau keadaannya masih seperti ini, kenapa kamu membawanya pulang, As?" tanya Yani.
"Aku terpaksa, Mbak. Seharusnya Ann belum diperbolehkan pulang." Ia mengambil tisu di atas meja lalu menyeka hidungnya yang berair. "Ann mengalami pendarahan malam itu, kalau saja aku terlambat membawanya ke UGD, mungkin Ann tidak akan selamat. Dokter bilang, penyakitnya kambuh lagi. Ann harus operasi pencangkokan sumsum tulang."
"Operasi?" tanya Yani.
Asti mengangguk. Dwi mengelus punggung Asti, air matanya turut jatuh mendengar penuturan wanita itu. "Aku tahu, meskipun itu tidak menjamin seratus persen sembuh, setidaknya usia Ann masih bisa diperpanjang."
KAMU SEDANG MEMBACA
MENUBA [Tamat]
Mystery / ThrillerAnnawi pernah bertanya pada ibunya mengapa ia dilahirkan dalam keadaan terdoktrin untuk mati perlahan-lahan. Namun ibunya tak memiliki jawaban spesifik mengenai itu. Leukemia yang dideritanya sejak berusia lima tahun jelas menjadi penghambat perkem...
![MENUBA [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/242304939-64-k770067.jpg)