Yani dan Dila menderapkan langkah cepat menuju rumah Asti. Danu ikut bersama mereka. Dari dalam rumah, Danu melihat petugas medis membawa brankar keluar. Annawi diikat di atasnya. Tubuh anak itu mengejang kuat. Asti menjerit histeris, luruh air mata di wajahnya saat mendampingi putrinya yang dimasukkan ke dalam ambulans.
Danu tercengang melihat pemandangan itu. Yani dan Dila bertanya pada Asti, tentang apa yang terjadi pada Annawi. Bahkan tidak ada satu kata pun dapat keluar dari mulut wanita itu untuk memberi tahu selain gelengan dan tangisan frustrasi. Dila berdiri di samping Danu, gadis itu menutup mulutnya saat melihat ujung kaki Annawi masih saja mengentak-entak tak karuan di atas brankar.
Begitu Asti masuk ke dalam ambulans bersama petugas medis, pintu ditutup. Sirine kembali dinyalakan dan kendaraan itu pun menghilang dari hadapan mereka.
"Annawi kenapa?" Dila menangis terisak hingga tak sadar menjatuhkan keningnya ke pundak Danu.
"Kita harus susul mereka ke rumah sakit sekarang!" usul Yani.
Danu pun menyetujui. Mereka kembali ke rumah Yani, mengambil beberapa keperluan sederhana lalu membawa dua wanita itu menyusul ambulans. Kecepatan barangkali tak bisa menyamai, tetapi Danu berusaha untuk tidak terlambat. Saat mereka tiba di UGD, Asti sudah terduduk menunduk di kursi tunggu ruang UGD.
Kedua wanita yang dibawa Danu menghampiri Asti bagai besi yang bertemu kutub magnet. Duduk di kedua sisi Asti, menerpa wanita itu dengan ungkapan turut prihatin.
Sementara Danu belum berani bertanya, ia ingat betul seperti apa amukan Asti saat mendapati Annawi menemuinya. Meski pada satu garis yang sama, Danu membuat banyak terkaan. Ada teori umum yang mengatakan bahwa kemarahan biasanya ditumpangi oleh pelampiasan. Bagaimanapun, apa yang sesungguhnya dialami Annawi masih mengganjal di benaknya. Sesuatu seolah sedang tersimpan dengan sangat rapih.
"Ann mendadak kejang-kejang." Asti mengisak, tangannya lembab dan air mata sulit berhenti mengucur. "Aku tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini. Ya Tuhan selamatkan Annawiku ...."
Sejujurnya, Danu sangat sedih melihat seorang ibu menangisi keadaan anaknya. Ia juga punya ibu, barangkali akan menunjukan sikap yang sama, yang secara alamiah takut kehilangan anak. Akan tetapi, hatinya masih saja terusik oleh sikap Asti yang mengintimidasi Annawi. Seakan-akan, ia tak sengaja menduga bahwa kritisnya Annawi akibat ulah ibunya sendiri.
Yani memeluk Asti, Dila mengelus punggung Asti lalu melirik Danu yang tanpa sadar bagai ditohok oleh ujung belati. Ia pun membuang muka. Ketika ponsel di sakunya berdering, Danu melihat nama Farid muncul di layar. Ia sedikit menjauh, mencari tempat yang sedikit lebih hening.
Pertanyaan dari Farid langsung terhunus begitu Danu menyapa. "Om lihat foto yang kamu kirim, Nu. Apa itu sebenarnya?"
"Om, coba Om ingat baik-baik, soal hasil cek darah pasien yang Om periksa waktu itu."
"Annawi? Bukankah ini anak yang tadi siang kamu bilang mengidap leukemia?" Danu mengiakan. "Pantas Om merasa pernah berjumpa dengan ibunya, ternyata dugaan Om tidak salah."
"Aku membaca, kalau Annawi hanya mengidap mononukleosis, apakah hasil tesnya sudah valid?"
"Ada keanehan waktu Om mengatakan pada ibunya bahwa anaknya hanya mengidap mononukelosis, ibunya tidak percaya, ia terus saja mendiagnosis bahwa anaknya mengidap leukemia berdasarkan ciri yang ditemukannya di tubuh si anak. Om sudah menganjurkan untuk melakukan aspirasi sumsum tulang jika memang ibunya masih ragu. Tapi, anjuran Om ditolak."
"Setelah itu, apa Bu Asti berencana melakukan tes ulang ke rumah sakit lain?"
"Om tidak tahu, Danu. Hanya saja, Om merasa aneh. Kebanyakan ibu, akan merasa lega bila mendapat hasil tes darah anaknya tak seburuk yang mereka kira, tetapi Bu Asti—diagnosis Om malah disangkal terus-terusan, seolah dia paling tahu tentang kondisi anaknya."
KAMU SEDANG MEMBACA
MENUBA [Tamat]
Mistério / SuspenseAnnawi pernah bertanya pada ibunya mengapa ia dilahirkan dalam keadaan terdoktrin untuk mati perlahan-lahan. Namun ibunya tak memiliki jawaban spesifik mengenai itu. Leukemia yang dideritanya sejak berusia lima tahun jelas menjadi penghambat perkem...
![MENUBA [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/242304939-64-k770067.jpg)