Beep ... Beep ... Beeeeeeeepppppp
''DOKTER CEPAT DOKTER!!!'' Teriak Rian dan Rion semakin menjadi membuat dokter dan suster disana langsung masuk ke ruangan Ara dengan tergesa.
Keluarga Pratama pun langsung keluar dari ruangan dengan berat hati.
''Mas hiks... anak kita mas hiks.... putri kita gak akan hiks.... pergi kan mas hiks... hiks.'' Ucap Dini kepada Mahen yang sedari tadi memeluknya.
''Putri kita kuat sayang. Dia pasti kuat.'' Lirih Mahen menguatkan sang istri.
''Pih Ara Pih hiks... hiks.... Aku belum sempet ajak dia main Pih hiks... aku belum hiks.... hiks belum sisirin rambutnya Pih hiks.... Ara gak boleh pergi Pih hiks hiks...'' ucap Mamih Putri dengan terus memukul Papih Adrian yang sedari tadi memeluknya.
''Cucuku hiks... hiks.... cucu kesayangan ku hiks... '' Lirih Oma Ranti yang sedang terduduk lemas di kursi di depan ruangan ditemani oleh Opa Zaki disampingnya.
Sedangkan, para Kakak Ara hanya terdiam masih shock atas apa yang mereka lihat.
'Ara nggak mungkin pergi secepat ini bukan?'
'Dia nggak boleh pergi.'
'Bahkan aku belum menyapanya.'
'Ara kamu harus kuat'
'Ara jangan tinggalkan kami. Kumohon'
'Jangan pergi please'
'Bertahanlah kumohon'
Batin mereka bertujuh yang sama-sama mengkhawatirkan kondisi sang adik yang selama ini mereka tunggu.
Bagaimana mereka bisa melepaskan adik mereka pergi begitu saja ketika mereka baru bertemu. Bahkan sekedar bertegur sapa pun belum pernah.
'Kami akan mencarimu dan tidak akan kami lepaskan sedetikpun.'
'Dan kau harus rasakan sakit yang lebih dari yang Ara rasakan.'
Batin semua laki-laki keluarga Pratama. Dan mereka pun sudah menyusun rencana jahat di otaknya. Rencana untuk membalas apa yang sudah mereka perbuat selama ini.
Setelah menunggu satu jam akhirnya dokter keluar dengan wajah yang lega.
''Bagaimana dok keadaan putri saya?''
''Apa adikku baik-baik saja?''
''Apa dia selamat?''
Tanya mereka bersamaan membuat dokter kebingungan ingin membalas pertanyaan yang mana.
''Putri Tuan dan Nyonya baik-baik saja.'' Ucapan dokter pun terpotong oleh seseorang.
''APA YANG BAIK-BAIK SAJA DOK?! KAU LIHAT BUKAN TADI ADIK SAYA KEJANG-KEJANG DAN dan.. '' Ucap Bara denga lirih di akhir kalimat serta tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.
Ya, Bara adalah orang yang memotong ucapan dokter tadi.
''Tenang dulu nak. Dokter belum selesai menjelaskan.'' Ucap Papih Adri menenangkan Bara.
''Baik saya lanjutkan. Sebelumnya saya ingin memberitahu bahwa nona sudah melewati masa kritisnya. Keadaanya pun sekarang sudah membaik. Dan kita tinggal menunggu nona bangun saja.
Untuk kejang-kejang tadi itu adalah hal yang wajar bagi orang yang koma. Dan untuk kejadian tadi, memang tadi nona sempat kehilangan detak jantung nya namun setelah kami melakukan kejut jantung beberapa kali, akhirnya detak jantungnya kembali normal.'' Jelas dokter dengan tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Very Possesive Brother
Short StoryDilarang mendekat untuk PLAGIATERS. °°°°°°°°° Hidup selama 13 tahun bersama keluarganya ini jauh dari kata bahagia dan harmonis. Gadis lucu nan cantik ini setiap harinya diisi oleh rasa sakit baik fisik maupun mental oleh keluarganya. Namun, suatu...
