31~Khawatir (2)

13.4K 955 8
                                        

Di kediaman Pratama Mommy, Mamih, Rian, Rion, dan Farhan menunggu kepulangan Daddy dan Papih mereka dengan berbincang perihal masalah yang mereka sendiri masih bingung.

Apa kesalahan Ara sampai dia diperlakukan seperti ini. Pikir mereka semua.

Seketika ruang keluarga pun menjadi sepi dan sunyi karena mereka semua sedang sibuk dengan pemikiran mereka sendiri. Hingga sebuah suara menghilangkan kesunyian diantara mereka berganti dengan rasa khawatir.

Praang!

Gdebug!

''Suara apa itu?'' Ucap Rian panik.

''Kamar Ara." Intruksi Rion membuat mereka semua berlari kearah kamar Ara.

''ASTAGFIRULLAH ARA!'' Ucap mereka semua serentak. Mereka semua kaget dengan keadaan adik dan anaknya ini.

Bagaimana tidak. Sekarang posisi Ara sedang duduk dengan muka ditelungkupkan diantara kaki yang terlipat keatas. Dan kaca yang sudah pecah dengan semua peralatan make up Ara tidak berada ditempat semula.

''STOP! Jangan dekati aku hiks.. jangan.. jangan... jangaan.. Jangaan...'' Ucap Ara menghentikan mereka semua ketika mereka ingin mendekati gadis itu.

Mereka seketika merasa sakit melihat anak gadis dan adiknya seperti ini.

''Sayang ini Abang. Bang Ian.'' Ucap Rian lembut dengan gerakan perlahan-lahan mendekati adiknya.

''Abang?'' Lirih Ara dengan tatapan kosong kedepan. Mereka yang melihat itu pun merasa sesak terutama Mommy dan Mamih yang sudah nangis dengan berpelukan.

''Iya sayang ini Abang. Itu Bang Rion sama Bang Farhan. Ada Mommy dan Mamih juga.'' Ucap Rian dengan lembut.

''Mommy.'' Lirih Ara lagi lagi dengan tatapan yang masih kosong.

Rian pun berhasil mendekati sang adik dan memeluknya. Seketika Ara pun menangis ketika merasa ada seseorang yang memeluknya dengan hangat tidak lupa sengan tatapan nya yang masih kosong.

Mereka semua pun berjalan mendekat kearah Ara. Mereka tau dengan kejadian ini Ara akan syok dan membuat psikisnya terguncang meskipun tidak mengarah gila namun trauma yang sudah hilang pasti akan balik lagi.

''Bukan Ara. Bukan. Ara dipaksa. Tolong." Gumam Ara dengan lirih membuat mereka semakin sakit hati mendengarnya.

''Sayang ini Mommy. Ke kamar Mommy yuk biar kamar kamu diberesin dulu.'' Ajak Dini dengan lembut.

Tanpa mendengar jawaban Ara, Rian segera menggendong Ara yang lemas, tanpa perlawanan dan masih dengan tatapan kosong membuat mereka khawatir.

''Sayang.'' Ucap Dini lagi dan segera memeluk sang anak ketika sudah diturunkan diatas kasur oleh Rian.

Tangis Ara pun pecah.

''Mommy hiks.. Mommy kenapa mereka jahat hiks... mereka hiks.. hiks...'' Tangis Ara pun pecah dan kali ini tidak ada tatapan kosong melainkan tatapan sendu dan rasa sakit yang terlihat.

Tap tap tap

Suara orang berlari mengalihkan perhatian mereka kecuali Ara dan Dini yang masih berpelukan.

''Ara mana?'' Tanya Mahen. Yang dijawab oleh mereka semua dengan dagu yang mengarah kepada Ara dan Dini sang Mommy.

Ya, yang tadi berlari adalah Mahen dan Adrian. Mereka langsung menuju ke mansion dan langsung berlari.

''Sayang ini Daddy.'' Ucap Mahen dengan lembut ketika Mahen sudah memeluk Ara dan Dini.

Mereka pun berpelukan dengan Mahen dan Dini yang menenangkan Ara. Sedangkan yang lain hanya bisa melihat mereka dan tidak berbuat apapun.

''Papih tunggu di ruang keluarga.'' Bisik Adrian dengan nada perintah kepada anak-anaknya dan langsung berlalu menuju ruang keluarga dengan Putri sang istri yang berada disampingnya.

Mereka pun, Rian, Rion, dan Farhan segera mengikuti Papih dan Mamih memberi waktu Daddy dan Mommy nya untuk menenangkan anak gadisnya.

''Bisa ceritakan apa yang terjadi?'' Ucap Adrian ketika mereka semua sudah duduk dengan rapih di sofa yang ada di ruang keluarga.

Rian pun menjadi orang pertama yang menceritakan apa yang dia tau disusul dengan Rion dan Farhan.

''Siapa dibalik semua ini?'' Geram Adrian melihat keponakan yang sudah dianggap anaknya diperlakukan seperti ini.

''Tadi kami sempat mencari dan hasilnya kepada lima siswi yang bersekolah disana. Salah satunya mereka kakak tiri princess.'' Jelas Farhan.

''Sialan. Kita kecolongan.'' Hal ini membuat Adrian semakin geram. Bagaimana bisa mereka seceroboh ini hingga mereka kecolongan.

''Cari mereka dan tangkap mereka.'' Titah Adrian kepada orang-orang kepercayaannya yang sudah dia panggil.

''Jangan. Kalian boleh pergi.'' Ucap Rion dan mengusir orang-orang kepercayaan Papih nya yang langsung dituruti ketika sudah mendapatkan izin dari Adrian.

''Kenapa?'' Tanya Adrian dan Putri yang sedari tadi menyimak heran.

''Kita tidak perlu mencarinya.'' Ucap Farhan dengan tersenyum miring.

''Maksudmu?''

''Mereka akan keluar sendiri dengan tangkapan utama nya tanpa perlu kita cari dan membuang tenaga.'' Ucap Rion membuat Adrian dan Putri semakin terheran.

''Ini maksud kalian apa? Mamih tidak mengerti.'' Ucap Mamih.

''Mereka pasti akan melakukan hal lain lagi. Dan kita tangkap mereka disaat mereka beraksi. Feeling ku mengatakan bahwa orang-orang yang selama ini menyiksa princess pun akan hadir.'' Smirk Rian.

''Ah jadi kalian menunggu mereka masuk kedalam jebakan kalian?'' Tanya Adrian yang mulai paham kemana arah pembicaraan anak-anaknya.

''Ya. Dan Satria sudah menyuruh orang memasang CCTV diseluruh sudut sekolah tanpa tertinggal dan tentunya tanpa ada yang mengetahui. Bagusnya CCTV itu akan bisa kita lihat di hp seluruh keluarga Pratama kecuali Ara.'' Jelas Farhan.

''Papih ikut saja rencana kalian. Nanti Papih beritahu rencana ini kepada Daddy kalian. Dan pada saat itu tiba, Papih tidak akan melepaskan mereka barang seinci pun.'' Ucap Papih dengan otak yang dipenuhi berbagai rencana untuk membalaskan amarahnya.

''Hm baiklah. Dan satu lagi ketika nanti Ara sekolah lagi setelah sembuh kita harus stay disekolah dan kita berkumpul diruang rahasia. Ingat tidak boleh siapapun tau kita datang. Dan tentunya Mommy dan Mamih dilarang ikut.'' Ucap Rion dengan senyuman yang tentunya dibalas anggukan oleh sang Mamih karena bagaimanapun jika menolak mereka tetap akan melarangnya.

''Jadi maksud kalian kita pantau disekolah dan saat mereka semua termasuk tangkapan utama kita datang, kita langsung tangkap mereka?'' Tanya Adrian.

''Yap Papih pintaar sekali." Ucap Rion dengen terkekeh.

''Wah Papih sangat tidak sabar menunggu hari itu tiba.'' Binar sang Papih.

''Sabar lah Pih. Bagaimana pun kita sekarang harus bisa mengalihkan perhatian sweety.'' Ucap Farhan.

''Papih setuju itu. Apakah teman-temannya akan datang? Menurut Papih jika teman-temannya datang mungkin akan sedikit mengalihkan perhatian Ara.''

''Pulang sekolah mereka akan kesini.'' Ucap Rian.

Mereka pun melanjutkan perbincangan mengenai rencana yang akan mereka jalani. Rencana yang akan membalikkan keadaan.






°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Huhu semoga kalian ttp suka sama cerita ini ya!

See you next chapter! ❤️

Very Possesive BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang