A reality will kill you

7K 799 103
                                        

"Semuanya kacau hyung. A-aku benar-benar tak bisa mengendalikan diriku. Emosiku, aku merasa aneh dengan diriku!" Taehyung menangis di depan Yoongi. Tubuhnya bergetar hebat mengingat Ia tak bisa menemukan Istri dan juga Anaknya. Yoongi terdiam. Melihat bagaimana kacaunya Taehyung dengan kondisi yang jauh dari kata baik-baik saja. "Berapa kali kau melakukannya dengan Irene?" pertanyaan Yoongi membuat Taehyung terdiam. Ia kembali merasakan, bagaimana peningnya kepalanya hingga Ia beberapa kali memukulnya. Yoongi terkesiap, menarik tangan Taehyung dan menatap adiknya itu tajam.

"Micyeosseo?! Kau ingin membunuh dirimu sendiri?! Tidakkah kau sadar? Semakin kesini kau semakin kacau?!" bentakan Yoongi benar-benar membuat Taehyung diam telak. Ia sadar jika Ia memang kacau. Ia hancur, Ia berantakan. Namun Ia tak tahu penyebabnya. Kenyataan dimana Istrinya juga tengah mengandung dan meninggalkannya. Putranya yang bahkan memblokir nomornya dan meninggalkan semua kartu kredit pemberiannya, membuat Taehyung kewalahan mencari keberadaan Hyeri dan Taekwon.

"Dua kali!" Yoongi menatap Taehyung cukup lama. "Kau yakin?" Taehyung mengangguk untuk kesekian kalinya. Ia memang brengsek, dan bahkan semua teman juga sahabatnya, jauh dari kata baik. Bersetubuh, minum, bergonta-ganti wanita, bukanlah hal yang aneh dalam lingkup kehidupan mereka. Namun tidak untuk Taehyung. Selama dia menghirup udara, selama Ia hidup sampai Ia menemukan Hyeri. Hanya dua gadis yang benar-benar sampai Ia setubuhi. Pertama Irene karena Ia marah dan membutuhkan pelampiasan, kedua Hyeri. Karena Ia teramat sangat mencintai wanitanya itu.

Alasan Taehyung melakukannya dengan Irene? Ia sendiri tak tahu kenapa Ia melakukannya dengan Irene. Setiap kali melihat Irene, Ia seperti merasa harus melakukan sesuatu untuk menghukum gadis itu. Taehyung seperti asing. Sikap baik dan lembutnya menguar begitu saja. Di gantikan sosok monster yang Ia sendiri tak pernah tahu, sejak kapan hadir kembali dalam dirinya. "Hyung, aku memang brengsek. Tapi aku bersumpah, aku hanya melakukannya dua kali. Pertama saat 17 tahun silam, dan kedua saat Irene mendatangiku membawa Sohee. Aku tidak bisa mengendalikan diriku hyung."

"Sepertinya ada yang salah dengan dirimu!"

Cklek..

Pintu ruang kerja Taehyung terbuka lebar. Menampilkan sosok Sekretaris yang setiap pagi memang membuatkan secangkir kafein untuknya. Tepat saat minuman itu di hidangkan, Yoongi menatap cangkir berisi cairan pekat itu, kemudian menatap Taehyung dengan penuh tanda tanya. "Kau minum kopi?" entah hanya perasaan Yoongi atau memang Ia melihat Sekretaris Taehyung sedikit membeku mendengar pertanyaan pria tampan itu. Melihat respon Hanna yang menurut Yoongi sedikit berlebihan, pria itu menatap Hanna sekilas.

"Kau ingin terus berdiri di sini dan mendengar pembicaraan kami?" gadis itu terkesiap. Seolah kesadarannya kembali di ambil alih. Ia menunduk kikuk untuk beberapa kali, lalu melenggang pergi. Tepat saat Hanna menutup pintu, Yoongi dengan cepat meraih remot kontrol ruang kerja Taehyung. Taehyung adalah seorang Presdir, Ia tentu membutuhkan ruangan yang bersifat privasi. Jadi Ia telah mempersiapkannya dengan baik, jauh sebelum para pekerjanya tahu, Taehyung menggunakan sistem A sebagai keamanan ruangannya. Yoongi memencet tombol kedap suara dan kunci otomatis. Hanya berjaga-jaga, karena Ia merasa memang ada yang salah dengan ini.

"Hyung, kau tidak seharusnya kasar pada Hanna." Yoongi menyipitkan matanya. Melirik bagaimana Taehyung duduk dan mulai meraih secangkir kafein itu di tangannya. Sebelum bibir cangkir itu menyentuh bibirnya, Yoongi lebih dulu meraihnya. Pasalnya, kenapa hanya Taehyung yang di buatkan Kopi? Bahkan Ia lebih candu dengan cairan hitam nan pait itu. Setahunya, Taehyung bahkan tak suka kopi. Lalu kenapa pria itu terlihat sangat menyukainya, dan bahkan Hanna memberikan segelas vanila latte untuk Yoongi. Kenapa tidak dua gelas kopi?

"Awsh! Panas hyung!" Taehyung meringis saat cairan itu tumpah mengenai pahanya. Yoongi benar-benar tak main-main saat menarik cangkir itu. Pria itu menghirup aromanya. Ia berpikir. Tidak ada yang salah dengan aroma kopi ini. Lalu kenapa?

INTERLUDE HUSBANDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang