"Gimana? Setuju?" Aku memperlihatkan hasil render-ku kepada Hardi untuk renovasi interior apartemennya. Aku baru mendapatkan ide sekitar satu minggu yang lalu. Di dalam apartemen Hardi sudah terkesan chic dan mewah. Aku mengganti mewah dengan kesan cozy, mengganti penerangan dan menambahkan wallpaper yang lebih terang. Dibagian dapur, aku membiarkan tetap seperti itu.
Hardi yang masih memelukku mengangguk-anggukkan kepalanya. "Setuju. Setuju." Aku langsung melepaskan diri dan menatapnya kesal. Aku mengulurkan tanganku untuk meminta bayaranku.
"Apa?"
"Bayar!"
Hardi menatapku tidak percaya. "Iya. Astaga, sama calon suami lo masih aja perhitungan."
Aku tersenyum miring. "Business is business." Hardi menarik tanganku lagi dan mendekapku lagi. Melihat betapa manjanya dia padaku, aku jadi mengerti bahwa sebenarnya bentuk kasih sayang Hardi itu dalam bentuk sentuhan. Setiap dia menyentuhku, tidak ada kesan melecehkan sama sekali. Dia menarikku dengan hati-hati atau saat memelukku dia membenarkan posisiku agar nyaman.
"Guling gue," ucapnya tidak tahu malu, membuatku menjitak kepalanya dengan cepat.
"It's means gue gendut?"
"Memangnya guling merepresentasikan gendut? Ada kali guling yang tepos."
"Terus gue tepos?"
"Astaga!" Aku terkekeh dan mengalungkan lenganku di leher Hardi. Hardi tersenyum dan menatapku lama, aku memejamkan mataku saat dia kembali akan menciumku. Tetapi, dia tidak melakukan apapun. Aku membuka mataku dan menatap Hardi yang tersenyum lebar di depanku. Bukan senyum mengejek, tapi.. senyum yang merepresentasikan rasa senang.
Aku berdecak.
Hardi baru mencium pipiku. "Kayaknya kalau kita gini terus bisa jadi bahaya ya, Gi?"
Aku mengangguk. "Setuju." Hardi menatapku lagi membuatku mengalihkan pandangan darinya dan ingin melepaskan diri.
"Mau coba sampai mana bahayanya?" Tanyanya, aku memeletkan lidahku dan melepaskan pelukannya. Aku mencubit perutnya.
"Enggak usah bikin ulah ya, Hardian."
Hardi tertawa dan kembali menarikku. Aku menatapnya aneh. "Nempel mulu ih."
"Biarin."
Aku mempermainkan jari-jari Hardi yang menggenggam tanganku, aku memijit-mijit jari-jarinya kemudian menariknya dengan kuat, membuat Hardi mengaduh kesakitan.
"Eh, masa sih sakit?" Tanyaku tak merasa bersalah.
Hardi membenturkan kepalanya pelan ke kepalaku, membuatku meringis dan mengusap dahiku cepat. "Lo ada kecenderungan kasar ya?" Tanyaku tak suka.
"Ini gemes namanya, Gi."
Tiba-tiba kekesalan menumpuk di dalam dadaku. "Gue enggak suka."
Hardi yang menyadari emosiku langsung membelalakkan matanya. "Maaf, Gi," ujarnya merasa bersalah. Aku menarik napas panjang dan kembali memeluknya.
"Lagi kenapa sih?"
"Hm."
"Lo lagi mens ya?"
Aku menganggukkan kepalaku, berbohong. Hardi mengeratkan pelukannya dan mengusap punggungku lama. "Enggak apa-apa, gue masih sabar," yang membuat rasa bersalah kembali menamparku, aku menatap Hardi lama.
"Kenapa sabar?"
"Karena gue sayang sama lo."
Aku menghela napas dalam. "Berarti kalau udah enggak sabar, berarti enggak sayang?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Allure | ✓
General FictionF-Universe #1 Gianny Andin Jovanca percaya bahwa sebenarnya perempuan dan laki-laki bisa 'hanya' sebatas sahabat. Setidaknya sampai Hardi datang kembali ke kehidupannya dan menawarkan sesuatu yang lain. Masalahnya bukan pada Hardi, tetapi pada dirin...
