Rekan

30 6 0
                                        

Hanya karena sebuah tendangan keras dari samping, suster berbaju compang-camping itu terlempar ke tembok. Kepalanya mengucurkan darah segar. Melihat darah yang sedemikian banyak itu, Min Hee jadi mual sendiri.

Melihat kawannya memegangi perut, lelaki yang barusan menendang wajah buruk di suster pun menepuk bahu Min Hee, mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

Lalu, lelaki berhoodie hitam itu menantang si suster untuk berkelahi. Dengan sebuah erangan, suster itu pun maju, menyerang si pria.

Tapi, serangan itu bisa ditangkis dengan mudah. Bahkan, lelaki itu membalas dengan melancarkan tendangan di perut sang suster. Lulutnya tepat mengenai ulu hati, membuat hantu itu terhuyung ke belakang.

"Teruslah mencari ribut, dan anakmu akan selalu kepikiran," ujarnya.

Mendengar suara yang ia kenal, Hitomi menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Baru menyadari bahwa suster itu benar-benar hantu. Cepat-cepat ia berteriak ketakutan seraya menghambur ke pelukan Min Hee.

Lelaki berhoodie hitam itu hanya menoleh sekilas, memastikan tak ada hantu lain yang mengganggu.

"Tahu apa kau tentang anakku?!"

Saat ia akan kembali fokus, kakinya sudah ditendang si suster, membuat lelaki itu terjerembab ke depan.

Saat si suster akan menancapkan pisau tajamnya, seorang lain berkemeja biru menendang punggung rapuhnya. Membuat hantu itu terlempar ke tengah lorong.

"Lo gapapa?" tanya si kemeja biru

"Ga, gue gapapa. Thanks," balas si hoodie hitam.

Setelah si kemeja biru membantunya bangkit, tersingkaplah wajah si hoodie hitam. Wajah yang dikenal Min Hee dan Hitomi.

"Dengar ya, tiap kali kau membuat keributan, anakmu itu merasa bersalah. Penyakitnya kambuh. Apa kau nggak kasihan?"

"Benar, pergilah dengan tenang," tambah si kemeja biru tanpa ragu

"Diaaaaam!" teriaknya frustasi

"Lo itu yang diem! Gue sumpel baru tau rasa,"

"Mau lo sumpel pakai apaan, heh?"

"Tikus bagus kayanya,"

"Kenapa nggak kecoa sekalian? Cocok tuh buat teman hidup, eh teman mati maksudnya," kelakar si kemeja biru

"Bocah kurang didikan!" teriaknya keras-keras sambil berusaha menyerang.

Dengan mudah, keduanya menahan lengan busuk si suster. Lalu, sama-sama menendang perutnya. Tiga kali.

Setelah tiga kali, si lelaki berhoodie hitam menendang dada kiri sang suster yang sejak awal sudah berdarah. Akibatnya, darah merah pun tersembur.

"Ups, maaf. Nggak sengaja, sus,"

"Oi, balik aja ke kuburmu sana. Siapa tau ada yang mau ketemu,"

"Anakku, ...," ujarnya lirih dengan tatapan kosong. Dalam sekejap, sosok itu pun menghilang. Meninggalkan rasa lega di hati kedua lelaki itu.

Min Hee hanya mampu tersenyum kaku sambil mengacungkan jempol kanannya. Habis itu pingsan, deh. Walah, walah.

***

Siapa coba yang nolongin Min Hee sama Hitomi? Coba tebak, he he.

[Hiatus] Emerald WhisperCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang