Hai, berjumpa lagi setelah sekian purnama tidak update. Langsung aja, tanpa berbasa-basi lagi. Inilah dia ... bab ke-37:
°
°
°
Di pagi hari yang sama, perasaan Allen sangat berantakan. Walaupun lelaki itu berusaha fokus pada sesuatu, nyatanya dia tidak bisa. Bayang-bayang Ye Na menghantui pikirannya.
Kemudian, Allan meraih ponsel yang semalam ia matikan. Saat baru saja menyala, lelaki tersebut dikejutkan dengan banyaknya notifikasi panggilan. Itu dari Serim.
Allen Ma langsung mengecek chat dari sahabatnya. Kemudian ia terduduk di lantai. Netranya mengeluarkan air mata kebahagiaan. Ye Na setuju untuk merasuki raga Sakura. Dengan begini, mereka bisa bersama lebih lama lagi.
Saking senangnya, ia pun menelepon Hitomi. Akan tetapi, bukam gadis itu yang menjawab. Allen pun bertanya, "Hiichan nginep di rumah lo?"
"Iya, dia baru aja makan. Kusuruh ganti baju," balas Min Hee.
Allen menyahut, "Hiichan baik-baik aja, 'kan? Enggak luka atau apa gitu."
Min Hee tertawa lepas, "Memangnya, aku akan membiarkan dia terluka? Lagipula, ada Hyeongjun di sini. Oh ya, apa kau mau mampir? Nanti sore, kami mau makan barbeque."
"Aish. Gue cuma mau ngabarin kalau Sakura sama Ye Na siuman. Masa kritisnya udah lewat," tolak Allen Ma. Ia tidak berminat untuk bergabung dalam acara mereka. Kebetulan, hari ini ia punya janji dengan Jo Yuri.
Lelaki bersurai coklat tersebut ikut bersyukur. Bagaimana pun, kedua orang itu adalah penyemangat Hitomi. Kesembuhan mereka pasti membuat pacarnya senang bukan kepalang.
"Nanti aku bakal kasih kabar ke Hitomi. Mungkin nggak dalam waktu dekat ini. Soalnya, Hiichan kayak ga punya tenaga gitu. Kalau kukabarin, mungkin dia malah langsung ke rumah sakit," ucap Min Hee.
Allen Ma mengerti. Hiichan adalah tipe orang yang mementingkan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Kadang, ia berpikir kalau Hiichan terlalu baik. Namun, itu adalah salah satu sisi positifnya yang membuat Allen nyaman.
"Oke, thanks. Btw, Hiichan ga boleh makan makarel. Nanti malah sakit perut," pesan Allen sebelum menutup panggilan.
Min Hee sedikit kaget mendengar penuturan kawannya. Apakah hubungan Allen dan Hitomi lebih dekat dari yang ia perkirakan? Dia sungguh tidak menyangka bahwa orang secuek Allen Ma bisa menghapal kebiasaan Hitomi.
"Oi, denger ga, sih?" sindir Allen. Min Hee jadi gugup dan menjawab, "Denger, kok. Cuma kaget aja."
"Kirain suara gue kekecilan atau hp gue rusak," balas Allen tanpa menaruh curiga.
"Kalau rusak, ya beli yang baru," tanggap Hyeongjun. Kebetulan ia melintas di dekat Min Hee.
Allen pun mengerucutkan bibir, "Beliin, sini."
"Oke, tapi pakai uangmu. Aku ga mau habisin duit buat wakil ketua kelas yang tajir melintir," tukas Hyeongjun.
"Jadwal piket lo kurubah, tau rasa," ujar Allen, lantas memutus sambungan.
"Heh, jangan ngadi-ngadi, Miskah! Aku maunya piket sama Min Hee. Woy! Ih, malah dimatiin. Besok kalau diganti beneran, kukasih bogem mentah!" heboh lelaki tersebut.
Min Hee hanya tersenyum, lantas merangkul pundak Hyeongjun, "Biarin aja, Hyeong. Paling cuma bercanda."
"Beneran, nih?" tanya Hyeongjun sembari menatap netra sahabatnya.
Lelaki bersurai coklat mengangguk, membuat hati Hyeongjun jauh lebih tenang. Maklum, ia mudah panik dan emosian. Berbeda dengan Min Hee yang menyembunyikan segala sesuatunya dalam senyuman.
***
D
i sisi lain, Taeyoung terbangun setelah mendengar suara mesin kendaraan yang dinyalakan. Pelakunya bukan lain ialah pengemudi truk yang sedang memanaskan kendaraannya di rest area.
Lelaki tersebut jadi teringat dengan kejadian tadi malam. Ingatan tentang kematian Miyawaki Sakura, hingga Honda Hitomi yang pingsan.
"Hei, Kkura. Hiichan bahkan masih memikirkanmu setelah kau bertindak jahat padanya. Apakah dirimu tidak merasa malu?" gerutu Taeyoung dalam hati. Netranya sibuk menatap langit, menikmati mega putih yang berarak di sana.
Kalau saja ini hari sekolah, dia akan bergegas pulang. Namun, sekarang adalah hari libur nasional. Taeyoung bisa bersantai sedikit di rest area.
Ketika tidak sengaja melihat saklar, lelaki tersebut teringat akan ponselnya. Ia segera mengecek benda elektronik tersebut. Syukurlah sisa baterainya masih banyak.
Sebuah notifikasi pesan dari Hitomi menarik perhatiannya. Tanpa ragu lagi, ia membukanya. Hiichan memberi kabar bahwa dia sudah jadian dengan Min Hee.
Degup jantung Taeyoung berhenti sejenak. Rasa sesak tiba-tiba melanda. Entah kenapa, dia ingat akan senyuman manis gadis satu itu.
"Apa aku cemburu?" tanyanya dalam diam. Taeyoung tidak berani bersuara. Dia bahkan tak sanggup untuk memberi ucapan selamat bagi Hitomi.
KAMU SEDANG MEMBACA
[Hiatus] Emerald Whisper
Fanfiction[Update Sabtu/Minggu] Hitomi, siswi SMA yang menyukai rekan sekelasnya. Akankah cintanya dibalas pula? Atau ada orang lain yang akan merebut hatinya?
![[Hiatus] Emerald Whisper](https://img.wattpad.com/cover/242041249-64-k85293.jpg)