Seorang gadis bersurai merah muda tengah kebingungan karena mencari rumah seseorang. Dia terus mondar-mandir sedari tadi.
"Apakah ini benar? Kata Akashi-kun rumah Aomine-kun berwarna biru, namun rumah ini berwarna abu-abu." Gadis itu berbicara pada dirinya sendiri sambil terus melihat ponselnya.
Dia berhenti mondar-mandir kala melihat sosok yang dicarinya keluar dari rumah yang ia maksud tadi dengan membawa sekantung sampah, lalu membuang kantung itu di tempat sampah yang ada.
"Aomine-kun!" Panggilnya cukup keras sehingga dapat didengar oleh pemuda itu.
Aomine terkejut dengan kehadiran mantan kekasihnya di depan rumahnya. Padahal sekarang dirinya tak ingin melihat wajah gadis yang telah membuat lubang besar di hatinya itu.
Dengan terpaksa, Aomine melangkahkan kaki menuju pagar rumahnya dan membukanya agar Momoi dapat masuk.
"Ini." Momoi menyodorkan sebuah payung bewarna biru tua yang kemarin Aomine tinggalkan di cafe, dan langsung diterima oleh pemiliknya.
"Apa yang kau lakukan di rumahku?" Tanya Aomine setelah mereka duduk di ruang tamu.
"Tentu saja aku khawatir karena kau tidak masuk sekolah hari ini." Jawab Momoi dengan muka sedikit kesal.
"Aku hanya sedikit tidak enak badan." Jelas Aomine acuh. Dia berusaha terlihat senormal mungkin di depan gadis merah muda itu walau sebenarnya Aomine tak ingin melihat wajahnya.
"Karena kehujanan kemarin?" Tanya Momoi lagi.
"Ya."
"Astaga, apakah kau sudah sembuh sekarang? Apakah tidak ada yang menemanimu di sini?" Momoi terus bertanya sembari memasang wajah khawatir yang berlebihan -menurut Aomine.
"Aku sudah sembuh berkat seseorang kemarin." Jawab Aomine sambil membayangkan wajah Kagami yang melembut saat mengobatinya. Dan tanpa sadar, ia mengulas sebuah senyuman.
"Seseorang? Siapa?" Tanya Momoi.
"Kau tak perlu tau." Jawab Aomine dingin.
Hati Momoi terasa diiris ketika mendengar jawaban dingin dari orang yang masih dicintainya hingga detik ini. Memilih mengabaikan rasa sakit itu, Momoi membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah hoodie bewarna navy dari dalam sana.
"Ini, aku sudah mencucuinya loh. Terimakasih ya." Ucap Momoi disertai senyuman manis.
Jantung Aomine kembali berdebar tak karuan melihat senyum Momoi yang dulu menjadi senyuman favoritnya.
Flasback On
"Ini, aku sudah mencucinya. Terimakasih ya." Ucap Gadis bersurai merah muda dengan senyuman manis sembari meneyerahkan sebuah jaket dari kekasihnya yang kemarin ia gunakan karena hujan. Jaket itu pun diterima dengan senang hati oleh Aomine.
"Hei Satsuki." Panggil Aomine ketika mereka sedang makan di sebuah restoran.
"Hm?" Tanya Momoi dengan makanan yang memenuhi mulutnya.
"Sering-seringlah tersenyum seperti itu." Perintah Aomine.
Setelah menelan makanan yang berada di mulutnya, Momoi dengan bingung bertanya, "Kenapa?"
"Aku menyukainya."
Flashback Off
"Teringat masa lalu, eh?" Suara lembut Momoi membuat Aomine kembali ke kenyataan dan berusaha menetralkan degup jantungnya yang tiba-tiba menjadi dua kali lipat lebih cepat.
"Dalam mimpimu." Jawab Aomine lalu berdiri hendak meninggalkan ruang tamu untuk menyegarkan kerongkongannya terasa kering.
"Mau kemana, Aomine-kun?" Momoi mengekori Aomine bak anak ayam dengan induknya.
Ace dari Kiseki no Sedai itu membuka kulkas dan mengambil sebuah minuman, lalu menuangkannya ke dalam gelas, kemudian ia meneguknya hingga tandas. Setelah meletakkan gelas itu di meja, Aomine berbalik hendak mencari Momoi, namun mantan kekasihnya itu tidak ada di belakangnya.
"Bukankah tadi dia mengekoriku?" Tanya Aomine kepada diri sendiri.
Bruk
"Aww!"
Suara benda terjatuh disusul rintihan Momoi dari dalam kamarnya membuat Aomine segera bergegas memasuki kamar dan mendapati Momoi yang terduduk di lantai dengan koleksi majalah Mai-chan nya yang berserakan di lantai.
"Apa yang kau lakukan?! Astaga Mai-chan ku!" Aomine langsung berjongkok untuk membereskan majalah laknatnya yang berserakan di lantai, dan meletakkannya kembali di atas lemarinya.
"Apa-apaan ini? Kau membaca majalah yang seperti ini? Bukankah kau itu masih dibawah umur?" Tanya Momoi yang sudah berdiri dan kini sedang duduk di tepi ranjang Aomine.
"Jika iya lalu kenapa?" Nada sinis terdengar dari kalimat Aomine barusan.
"Astaga Aomine-kun, berhentilah membaca majalah yang seperti itu!" Perintah Momoi.
"Tidak mau." Jawab Aomine cepat.
"Apa bagusnya majalah itu, Aomine-kun?" Tanya Momoi.
"Jauh lebih bagus daripada dirimu."
Momoi tak lagi bersuara. Dia merasa direndahkan oleh orang terkasihnya. Hatinya sangatlah rapuh. Tak bisa dipungkiri bahwa setelah kejadian antara dirinya, Aomine, dan Kuroko beberapa tahun lalu membuat dia belajar bahwa sebuah cinta tak dapat dibagi menjadi dua. Jika memang bisa, mungkin salah satunya hanya perasaan suka, bukan cinta. Dan kini, Momoi sadar bahwa dia hanya mencintai Aomine. Ya, hanya Aomine seorang. Namun pria itu malah membuat hatinya terasa ngilu dengan ucapannya yang sangat tajam.
Tak sadar air matanya mengalir begitu saja tanpa permisi, tanpa aba-aba, dan tanpa keinginannya. Merasa sakit hati dengan ucapan Aomine, gadis itu berlari meninggalkan rumah mantan kekasihnya tanpa pamit.
Aomine terkejut kala melihat gadis yang dahulu dicintainya telah pergi dengan air mata. Mata pemuda itu membulat. Ada perasaan bersalah di hatinya. Tak seharusnya ia berkata seperti itu bahkan jika dirinya membenci Momoi.
Menghela napas pasrah, Aomine menidurkan dirinya di atas ranjang lalu memejamkan matanya, berharap agar mimpi indah dapat mengurangi beban pikirannya.
^o^
Haii~
Akhirnya bisa up lagi! o(* ̄▽ ̄*)ブ
Ceritanya makin gaje gak sih? ╯︿╰
Yaudahlah biarin, yang penting up aja wkwk.
Vomment-nya ditunggu~
KAMU SEDANG MEMBACA
AhoBaka
FanfictionWelcome~ Hanya kisah cinta para anggota Kiseki no Sedai yang rumit dengan Kagami dan Aomine sebagai tokoh utama. . . Pairing: AoKaga AoKise KagaKuro AkaKuro AoMomo KuroMomo . . (c) Fujimaki Tadatoshi Semua gambar diambil dari Pinterest . . Enjoy~
