31

317 27 0
                                        

"Kamu masuk kamar saja! Gak usah memcampuri urusan orang tua!" Bentak seorang pria paruh baya yang membentak putrinya sendiri.

Anna masih terdiam ditempat dengan tubuh gemetaran sambil menangis. Melihat anaknya itu tidak beranjak pergi, semakin naik emosi pria itu.

"Kenapa anak ini membangkang!? Ini karena kamu tidak mengajarinya dengan benar! Kerjanya keluyuran saja!" Kali ini bentakannya tertuju pada istrinya yang tengah berdiri dihadapannya dengan raut wajah jengkel karena mencium aroma minuman keras yang kuat dari mulut suaminya.

"Jangan membentakku! Lagipula ini semua karena dirimu tidak becus menjadi seorang ayah dan suami!"

"Apa!? Berani sekali kamu pada suamimu!" Tangannya terulur lalu menarik rambut panjang hitam legam wanita dihadapannya itu. Sampai wajahnya mendongak keatas saking kerasnya jambakan yang dilakukannya.

"Hentikan! Dasar pria gila!" Segera sang istri mundur beberapa langkah menjauhi suaminya yang sudah kehilangan kesadaran karena mabuk.

Suaminya memang peminum berat. Hampir setiap hari ia minum minuman keras 2 sampai 3 botol sekaligus. Ia hanyalah seorang pekerja lepas yang tidak selalu bisa mendapat kerjaan. Saat tidak ada kerjaan, pria itu bukannya membantu mengurus rumah dan anak, tapi malah sibuk minum minum sendiri dan kadang berjudi.

Semua uang yang didapatkannya diambil dari dompet istrinya. Tidak pernah sekalipun ia bertanya darimana uang itu berasal. Baginya yang penting mendapatkan uang lalu menggunakan uang tersebut untuk minum dan berjudi.

Wanita itu sangat tidak tahan melihat kondisi suaminya. Sejak kedua mertuanya meninggal saat anaknya baru berusia 6 tahun, suaminya mulai kehilangan semangat hidup dan tidak lagi memedulikan istri dan anaknya. Awalnya ia memiliki toko yang penghasilannya lumayan, warisan dari  orang tuanya, tapi tidak bisa dikelola dengan baik dan akhirnya bangkrut.

Sang istri yang sudah tidak tahan dengan keadaan suaminya setelah 2 tahun lebih bersabar itu awalnya hanya berencana menghibur diri dan pergi ke klub malam. Tetapi baru juga dua hari kesana, ia sudah dapat menarik hati seorang pria dengan wajahnya yang cantik. Akhirnya ia memutuskan berhubungan dengan pria tersebut. Awalnya hanya satu, tapi seiring berjalannya waktu, sudah beberapa pria yang ia kencani. Kalau satu sudah mengakhiri hubungan mereka, ia bakal menunggu pria lain datang dan mengencaninya.

Sedangkan anaknya, Anna? Mamanya sudah tidak memerhatikan dan memberinya kasih sayang yang layak lagi. Mamanya sering meninggalkannya sendiri dirumah bersama papanya yang menakutkan bagi Anna. Kadang kalau papanya sudah mabuk berat dan baru saja kalah berjudi, tidak menutup kemungkinan Anna mendapatkan imbasnya. Jadi saat waktu pulang sekolah tiba, ia pulang kerumah dan langsung masuk ke kamarnya.

Saat itu Anna masih dalam usia yang terlalu muda untuk menerima keadaan keluarganya yang sangat hancur. Setiap malam ia menangis sendiri didalam kamar dengan angan angan kedua orang tuanya bisa kembali bersama, bukannya sibuk dengan urusan masing masing dan memberinya banyak perhatian.

Sampai suatu hari, saat Anna sudah berumur 10 tahun, papanya meninggal. Papanya meninggal karena suatu hari ia sedang berjalan menuju rumah temannya yang berada tidak jauh dari rumah mereka untuk menagih uang hasil kemenangan judinya. Ia minum banyak dengan perasaan senang karena untuk pertama kalinya menang judi setelah hampir 4 tahun berjudi.

Saat berjalan menuju rumah temannya itu, ia menari nari sempoyongan tidak jelas sepanjang perjalanan saking senangnya dan karena pengaruh mabuk. Sehingga tidak sadar, ia bejalan berbelok sampai kejalan raya dan kemudian tertabrak mobil truk yang sedang melaju disamping trotoar.

Papa Anna yang tiba tiba saja berjalan sempoyongan keluar trotoar membuat sopir truk terkejut dan terlambat ngerem. Alhasil, papa Anna tertabrak keras dan langsung tidak bernyawa.

Walau papanya memang sudah berubah menjadi pria menyeramkan dimata Anna, tapi ia tetap bersedih dan menangis atas kepergian papanya. Setelah pemakaman selesai, kehidupannya tidak ada yang berubah kecuali keberadaan papanya yang biasa ada diruang tamu sambil minum sudah tidak ada. Mamanya tetap sering keluar rumah dan tidak memedulikannya.

Akhirnya saat masuk SMP, Anna sudah mulai terbiasa dengan keadaannya. Ia masih bersyukur bisa hidup layak dan mamanya masih ada. Mamanya sering memberinya uang jajan yang jumlahnya tidak sedikit dan terkadang mereka makan bersama dalam satu meja makan, walau tidak ada pembicaraan khusus didalamnya, tapi Anna sudah sangat senang.

Beberapa hari masuk SMP, Anna sudah mendapatkan seorang teman perempuan yang duduk disebelagnya. Anaknya bernama Giselle. Ia baik, ramah, dan cantik. Awalnya hanya Giselle yang menjadi temannya. Anna bukan tipe yang mudah bergaul, ia cukup pemalu dan suka takut takut memulai duluan pembicaraan.

Giselle yang supel langsung bisa akrab dengan kedua anak cowok yang duduk tepat didepan mereka berdua. Kedua anak cowok itu bernama Joo dan Ray. Joo anaknya sangat friendly dan penuh kehangatan, sehingga Anna langsung suka kepadanya, tapi bukan suka dalam artian cinta. Sedangkan Ray lebih dingin dan irit bicara, tapi sebenarnya ia baik.

Setahun lebih Anna menghabiskan masa SMP dengan ketiga sahabatnya itu. Suatu hari saat ia hanya berdua dengan Giselle, tiba tiba Giselle membahas masalah yang sebenarnya belum pernah Anna pikirkan.

"Anna, lo ada suka sama seseorang?" Tanya Giselle dengan antusias.

"Suka? Aku suka sama kalian semua kok." Jawab Anna polos.

"Ih! Bukan suka itu yang gue maksud. Maksudku suka cinta."

"Suka cinta?"

"Iyaa! Itu saat dimana lo merasa terus ingin tau lebih banyak tentang cowok tersebut. Ingin lebih banyak melakukan sesuatu bersamanya." Jelas Giselle.

Anna kemudian mengangguk angguk mendengar itu. Tapi ia masih tidak tau mau menjawab apa, jadi ia malah melemparkan pertanyaan balik untuk Giselle. "Hmm gitu... kalau kamu suka siapa?"

Pipi Giselle langsung merona dan ia tersipu malu sambil tersenyum lebar. "Jangan kasih tau siapa siapa ya! Gue suka sama Joo." Jawab Giselle dengan menahan nahan senyumnya sambil memukul pelan lengan Anna.

Anna cukup terkejut mendengar itu. Ia tidak sangka Giselle mempunyai perasaan seperti itu terhadap Joo.

"Jadi, kalau lo suka siapa?" Kemudian Giselle bertanya kembali.

Anna kemudian berpikir cukup lama. Sebenarnya ia masih tidak begitu paham mengenai suka cinta. Tapi kalau suka cinta itu seperti yang dikatakan Giselle, saat merasa ingin lebih dekat dan akrab dengan seseorang, mungkin ia merasa begitu terhadap Ray. Setahun lebih mereka berteman tapi hanya Ray yang masih tidak begitu akrab dan banyak bicara dengan dirinya.

Selain itu ia merasa kalau Giselle menyukai Joo, berarti memang lebih baik ia menyukai Ray, sehingga mereka bakal menjadi 2 pasangan. "Kurasa mungkin Ray..." jawabnya kemudian.

Giselle langsung terlihat senang mendengar jawaban Anna. Ternyata sahabatnya itu juga sedang jatuh cinta, sama seperti dirinya, itu berarti mereka berdua bisa saling mendukung dan berjuang bersama. Anna pun ikut senang melihat Giselle yang tampak senang dengan jawabannya.

Saat hampir kenaikan kelas 9, Giselle dan Anna sedang duduk di pinggir lapangan sekolah sambil menonton teman sekelas mereka yang masih pengambilan nilai olahraga. Kemudian Giselle memulai percakapan yang bakal mengubah semuanya.







{29/12/20}

Thank you udah baca sampai episode ini ☺ jangan lupa
vote👇 and komen 👇 yaa~

MISSION [ Completed Or Not Completed ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang