29

307 35 0
                                        

Mata Yuna tidak bisa tertutup padahal sekarang sudah jam setengah satu malam. Setiap merem sedikit rasanya kejadian tadi siang masih saja menghantuinya. Akhirnya Yuna memutuskan menuju dapur dan meminum segelas air.

Cahaya bulan masuk lewat jendela rumah yang besar, sehingga walaupun lampu tidak dinyalakan, Yuna masih bisa melihat. Yuna membuka kulkas dan mengecek apakah ada yang bisa dimakan. Sharon sudah mengatakan kalau apa yang ada dikulkas semua boleh Yuna ambil tanpa segan segan.

"Oh! Ada coklat!" Serunya sambil mengeluarkan box berisi coklat bon bon.

Tiba tiba Yuna dikejutkan karena ada yang menyentuh pundaknya. Bahkan box coklat yang sedang ia pegang terlepas dari genggamannya.

"Ray! Ngapain lo!?" Pekik Yuna kesal setelah melihat wajah Ray yang terkena sinar lampu kulkas.

"Lo yang ngapain mau nyuri coklat gue."

"Tante bilang gue boleh ambil apa aja kok!" Ucap Yuna sewot.

"Kecuali milik gue lah. Mana, kembaliin." Ray kemudian mengambil box coklat yang tergeletak dilantai. Tapi Yuna langsung menahan box itu.

"Minta!"

"Nggak!"

"Ray!"

"Yuna!"

Yuna langsung cemberut. Ia akhirnya melepaskan box itu dan membiarkan Ray mengambilnya. Yuna malas berdebat panjang. Ia kemudian melirik lagi kedalam kulkas.

"Dih, langsung ngambek." Sindir Ray.

Yuna tidak memperdulikannya, ia sibuk meneliti isi kulkas.

"Iya deh. Gue kasih coklatnya." Ucap Ray.

"Nggak usah. Udah gak mau." Jawab Yuna datar.

"Jangan gitu dong. Nih!" Ray langsung menyuapkan sebutir coklat masuk ke mulut Yuna. Yuna kemudian menatapnya sinis sambil mengunyah coklat yang baru saja Ray suapkan.

"Ya udah. Sini." Yuna langsung merebut box coklatnya dari tangan Ray.

"Jadi gue yang beli, gue yang tidak makan sebutirpun?" Kata Ray sambil menatap box coklat yang baru saja ia beli tadi siang

Yuna tertawa kecil, "satu butir aja ya." Ia lalu menyodorkan box coklat yang sudah ia buka.

"Ok. Tapi suapin."

"Hah!? Lo masih punya tangan kan?"

"Suapin. Udah dikasih satu box, disuruh nyuapin aja gak mau."

Dengan ogah ogahan Yuna memasukkan sebutir coklat kedalam mulut Ray. Ray pun tersenyum senang sambil mengunyah coklatnya.

"Gak usah nyengir nyengir, mengerikan tau."

"Masa ganteng begini dibilang mengerikan." Kata Ray sambil tertawa.

"Iuh, gue pergi aja deh." Yuna langsung berbalik dan hendak kembali ke kamarnya. Tapi langkahnya terhenti ketika Ray tiba tiba memeluknya dari belakang.

Hampir saja box yang dia pegang jatuh lagi. Jantung Yuna menjadi berdebar debar. "Ray?"

Yuna jadi sedikit salah tingkah karena wajah Ray tepat berada disebelah kanan pipinya.

Ray masih terdiam. Sebenarnya sejak tadi ia sudah menahan diri agar tidak membahas sedikitpun kejadian tadi siang. Ia tau sekarang Yuna pasti tidak bisa tidur karena masih memikirkan cowok brengsek itu. Ray selalu merasa sangat kesal ketika Yuna disakiti.

Andai Yuna memilihnya, Yuna pasti tidak bakalan tersakiti seperti ini. Tidakkah Yuna bisa merasakan betapa tulus perasaannya itu? Sekarang perasannya semakin menggebu gebu, apalagi saat ini Yuna sedang kosong.

Ray merasa inilah kesempatannya. Ia harus selalu berada disamping Yuna, menjaga, dan membuatnya tertawa.

"Ray!" Yuna sejak tadi sudah memanggil manggil Ray, tapi Ray terus diam dan semakin mengeratkan pelukannya.

Ray yang tadi terhanyut dalam pikirannya langsung sadar. Ia kemudian mengelus pelan rambut Yuna yang halus dan lurus.

"Lo gak usah membuang buang air mata lagi untuk cowok brengsek itu." Ucap Ray disamping telinga Yuna.

"Ray! Jangan begitu." Yuna mengingatkan Ray yang habis mengumpati temannya sendiri.

Ray mengerucutkan bibir, "biarin aja. Itu julukan yang pantas untuk dia."

"Heh!"

"Janji ya jangan nangis lagi?" Ray kemudian mengulurkan sebelah tangannya dan mengangkat kelingkingnya sedangkan tangan yang satunya masih melingkar memeluk leher Yuna.

Ternyata Ray bukannya bodoh atau tidak peka. Ia tau Yuna menangis tadi. Yuna senang diberi perhatian seperti ini. Sejak dulu ia tidak pernah merasakan punya seorang kakak laki laki. Walaupun Ray hanya beda beberapa bulan dengannya. Mungkin beginilah rasanya punya kakak laki laki yang selalu mengkhawatirkan adik perempuannya.

Yuna lalu menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Ray. "Iya iya." Ucapnya sambil tersenyum, Ray bisa melihat sedikit senyum Yuna dari sudut samping kanan.

Senyum Ray juga ikut mengembang melihat itu dan karena Yuna mau berjanji padanya. "Ya udah, setelah makan coklatnya tidur ya!" Ray mencium cepat pipi Yuna sebelum melepaskan pelukannya, lalu ia dengan cepat naik menuju kamarnya karena takut Yuna bakal ngomel.

Aksi Ray itu membuat Yuna kaget setengah mati. Jantungnya yang semula sudah berdebar debar sekarang semakin berpacu cepat hingga rasanya siap meledak. Ini pertama kalinya ada laki laki selain papa atau keluarganya yang mencium pipinya. Bahkan waktu pacaran dengan Joo juga tidak ada kejadian seperti ini.

Yuna kemudian memegang dadanya dan menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya.

"Tenangkan dirimu Yuna! Ray pasti sudah menganggapku seperti keluarganya sehingga tidak segan segan menciumku seperti yang biasa ia lakukan ke mamanya."

Tidak sedikitpun terlintas dipikiran Yuna kalau Ray masih menaruh perasaan padanya. Dari awal Yuna hanya merasa perasaan Ray hanyalah perasaan dangkal yang dengan cepat bisa menghilang. Apalagi sekarang Sharon dan Yuna sudah seperti ibu dan anak, sehingga itu berarti Yuna harus menganggap Ray sebagai kakaknya.







{27/12/20}

Thank you udah baca sampai episode ini ☺ jangan lupa
vote👇 and komen 👇 yaa~

MISSION [ Completed Or Not Completed ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang