Setelah melewati malam indah dengan jantung yang hampir saja copot, paginya Lintang kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Ya, sekolah. Jujur saja, sepanjang jalan pulang sampai semalaman, Lintang masih bingung harus menjawab apa soal ungkapan Garis semalam.
Lintang tak tahu, sampai detik ini ia mencintai siapa.
Hanya ada dua opsi, Lintang masih mencintai Bara atau Lintang sudah mulai mencintai Garis?
Entahlah, Lintang sendiri tak tahu soal perasaannya. Untuk saat ini, Lintang tak terlalu memikirkan perihal cinta, ia lebih mementingkan anak dalam kandungannya.
“Lin, gue tunggu di mobil,” ucap Garis sebari keluar dari kamar.
Lintang hanya mampu mengangguk, gadis itu kini tengah mengelap lensa kacamatanya. Dengan gerakan gesit, gadis itu memakainya dan menyandang tas gendongnya di bahu. Buru-buru gadis berkacamata itu turun dari kamar, dan berlari kecil untuk masuk kedalam mobil.
Brak!
Lintang menutup pintu cukup keras, membuat Garis yang tengah melamun langsung tersentak.
“Ngegas amat,” cibir Garis membuat Lintang nyengir.
“Terlalu semangat,” kata Lintang, sebari membenarkan posisi kacamatanya.
“Lo masih bisa liat ‘kan walaupun gak pake kacamata?”
Lintang mengangguk. “Iya.”
“Mending lo gak usah pake kacamata, buka aja,” titah cowok itu.
“Kenapa? Aku jelek banget ya kalo pake kacamata?”
“Enggak, bukan gitu. Lo cantik mau pake kacamata atau nggak juga. Tapi, lebih baik lepas kacamata, biar cantiknya nambah.” Garis melepaskan kacamata yang bertengger di hidung mancung gadis itu.
Lintang terdiam, tak bisa menghentikan gerak tangan Garis. Setelah melepaskan kacamata tersebut, Garis bersedekap dada sebari menatap Lintang.
“Ini baru Lintang, yang walaupun cupu penampilannya tetap cantik,” ujar Garis jujur.
Lagi dan lagi, rasanya jantung Lintang akan copot, belum lagi sepertinya ada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.
“Kita berangkat sekarang Kak,” ucap Lintang membuat Garis mengalihkan etensinya ke depan.
“Oke, kita berangkat,” putus Garis sebari menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya.
🖤🖤🖤
Sesampainya di SMA Mars, seperti biasa dan sesuai perjanjian. Garis dan Lintang akan sama-sama menjauh agar tak ada yang curiga. Dengan langkah santai, Lintang berjalan di koridor kelas sebelas, bergerak menuju ke kelasnya.
Baru saja menginjakkan kaki di ambang pintu kelasnya, Lintang langsung disambut jeritan histeris serta pelukan hangat dari kedua sahabatnya. Dari Elsa dan juga si ratu keadilan, Ipeh.
“LINTANG! LO KEMANA AJA?!” teriak Ipeh sebari terus memeluk tubuh Lintang erat.
“GUE KANGEN BANGET SAMA LO LINTANG AMOZA!” tambah Elsa tak kalah teriak.
Lintang hanya bisa diam, belum bisa berkata apa pun karena pelukan Ipeh dan juga Elsa begitu erat, bahkan Lintang hampir kesulitan bernapas. Belum lagi, sepertinya anaknya tergencet.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Lintang [SELESAI]
Teen Fiction[DIHARAPKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Lintang Amoza cuma gadis cupu yang sering jadi bahan bullying di sekolah. Menyukai Bara Aldian Adiwijaya sudah ada di dalam kamus hidupnya, tekadnya untuk mendapatkan Bara membuat Lintang mengubah dirinya, ia yang...
![Garis Lintang [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/248336267-64-k419029.jpg)