31. LEMBARAN BARU

2.1K 304 44
                                        

Marsya gaje:
Garis
Hari ini sibuk?
Kita jalan yuk?
Garis!
Kamu pasti kangen aku
Pasti!
Gar, aku tunggu kamu
Nanti aku sharelock rumah aku

Garis berdecak sebal melihat banyaknya notifikasi pesan masuk dari Marsya. Jelas, Garis tak suka. Ia risih, tak tanggung-tanggung, Garis langsung melemparkan ponselnya. Tak peduli jika nantinya akan rusak. Garis tak peduli.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu kamar, membuat pandangan pria itu teralih.

“Masuk, enggak dikunci,” kata Garis. Karena ia malah untuk bangun, jadilah seperti itu responsnya.

Ceklek!

Pintu terbuka, mata Garis langsung disuguhi sosok Adiwijaya yang berdiri tegap di ambang pintu. Mau tak mau, Garis bangkit berdiri.

“Kenapa enggak sekolah?” Pertanyaan itu lolos dari mulut Adiwijaya. Jujur, inilah pertanyaan yang Garis tak mau dengar. “Jawab!” suruh Adiwijaya.

Garis meneguk ludah. “Garis, mau jagain Bara,” jawabnya susah payah.

“Jagain Bara? Di rumah?” Adiwijaya menggeleng tak mengerti dengan pemikiran putra sulungnya ini.

“Kalau mau jagain Bara, di rumah sakit! Bukan disini!” tegasnya.

“Oke, Garis pamit.” Setelah mengatakan itu, Garis menerobos pergi begitu saja dengan langkah cepat.

Hari ini Garis benar-benar tak ingin debat dengan papahnya. Ia lebih baik mengalah, lebih baik pergi saja.

🖤🖤🖤

Suara derap langkah kaki yang terdengar bersahut-sahutan itu membuat fokus Bara, Sintia, dan Garis yang memang tengah berada di dalam ruangan teralih ke ambang pintu.

Saat kenop berbunyi terbuka, dan pintu terbuka lebar, saat itu juga senyuman Bara dan Sintia merekah. Mendapati Lintang berdiri disana, tidak sendiri, bersama Ardi di sampingnya.

“Lintang!” Sintia senang, ia berjalan menyambut kedatangan gadis itu.
Lintang tersenyum, lalu dengan sopan ia menyalami punggung tangan Sintia.

“Hai, Tante,” sapa Lintang membuat Sintia tak merespon dengan perkataan, melainkan dengan pelukan.

“Mamah kangen sekali sama Lintang. Kenapa sekarang panggilnya, tante? Lintang lupa?” Sintia berucap sebari terus memeluk Lintang, mengelus lembut rambut bersurai hitam itu.

“Lintang enggak pernah lupa sama Mamah,” kata Lintang kembali menyebut dengan Sintia dengan panggilan mamah.

Sintia tersenyum bahagia karena akhirnya bisa melihat Lintang, dan mendengar suara gadis itu. Ia melepaskan pelukannya, memperhatikan Lintang dari atas hingga bawah.

“Kandungan kamu sudah besar, sebentar lagi kamu akan melahirkan,” ucap Sintia terisak. Ia mengelus lembut perut Lintang, mendamba sang cucu dengan setia.

“Anak Bara dan Lintang, cucu mamah,” lanjutnya.

“Lintang, papah tunggu di luar ya.” Suara berat dari Ardi tiba-tiba saja terdengar, Lintang menoleh kearah sang papah, lalu mengangguk.

Tak lama Ardi keluar, Garis berjalan menghampiri Lintang dan juga Sintia. Cowok itu menatap Lintang dalam saat sudah sampai di hadapannya.

“Makasih udah mau datang,” ucap Garis. Lintang hanya balas mengganggu

Bara tertegun melihat itu, ia tak menyangka bahwa Lintang datang karena permintaan Garis. Bara pikir, Lintang datang karena khawatir, namun nyatanya gadis itu ke rumah sakit hanya permintaan Garis.

Garis Lintang [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang