Pagi-pagi buta, Lintang sudah terlihat mondar-mandir di depan pintu kamar papahnya. Bagaimana pun caranya, Lintang harus segera mengatakan hal ini kepada Ardi. Walaupun nantinya Lintang harus menanggung kemarahan Ardi, tapi ia akan menerimanya dengan lapang dada.
“Ayo Lintang masuk ke dalam, terus bilang sama papah,” gumam gadis itu sebari terus berjalan mondar-mandir.
Lintang rasanya semakin tak tenang, entah kenapa nyalinya tiba-tiba saja ciut. Padahal Lintang sudah rela tak tidur semalaman untuk memikirkan nantinya saat memberitahukan kebenarannya pada Ardi.
Suara decitan pintu terbuka, tiba-tiba saja membuat langkah Lintang terhenti. Gadis itu berjengit kaget saat menoleh, dan mendapati Ardi sudah berdiri di depan pintu.
“Lintang?” Ardi menatap anaknya itu dengan terheran-heran. “Kamu ngapain pagi-pagi di depan kamar papah?” tanyanya.
Lintang gugup seketika, ia refleks menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Menatap Ardi dengan rasa takut yang sudah menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.
“Pah, Lintang mau bicara sama Papah,” ucap gadis itu terbata-bata.
“Bicara apa?”
“Enggak disini, kita bisa duduk di ruang tamu atau di dalam kamar Papah, gimana?” ujar Lintang membuat Ardi melangkahkan kakinya ke ruang tamu.
“Di ruang tamu aja, Lin,” putus Ardi membuat Lintang buru-buru mengikuti langkahnya dari belakang.
Saat sudah sampai di ruang tamu, Lintang duduk sebari menghadap Ardi yang sedari tadi menatapnya datar. Lintang mengambil napas banyak-banyak lalu mengembuskannya perlahan, ia tengah mengumpulkan keberanian extra untuk mengatakan hal ini. Jelas, ini bukan hal mudah untuk Lintang.
“Lin, ayo bicara. Keburu papah mau mandi loh kalo kamu diam aja,” kata Ardi yang sepertinya mulai mendesak.
“Pah, Lintang hari ini gak akan sekolah, dan Papah juga gak akan pergi ke kantor,” tutur Lintang cepat.
Ardi menaikkan kedua alisnya.
“Kenapa begitu?”
“Karena, hari ini kita kedatangan tamu. Bakal ada pernikahan,” ujar Lintang lurus.
“Hah?” Ardi menohok. Sangat bingung dan tak bisa menangkap perkataan yang baru saja Lintang lontarkan. “Pernikahan? Siapa yang akan menikah, Lin?” tanyanya.
Lintang meneguk ludahnya susah payah, dengan berani ia menatap Ardi. “Lintang yang akan menikah, Pah,” jawabnya.
Deg!
Jantung Ardi rasanya ingin copot, kaget bukan main saat mendengar Lintang akan menikah. Karena sedikit tak percaya, akhirnya Ardi tertawa kecil untuk mengurangi rasa kagetnya.
“Ada-ada aja kamu, Lin, kamu ini masih kecil, gimana mau nikah?” Ardi terkekeh lucu, namun tak bisa dipungkiri hatinya gelisah.
“Pah ....” Lintang bersuara parau, matanya mulai memanas. Kepalanya merunduk, sangat malu rasanya mengangkat wajah sekarang ini.
“Lintang, kamu kenapa?” Ardi memegangi kedua pundak anaknya, sangat cemas rasanya melihat Lintang tiba-tiba menangis.
“Pah, Lintang akan menikah hari ini, karena .... Pah, Lintang hamil,” ungkapnya.
Untuk kedua kalinya, jantung Ardi rasanya ingin copot, mungkin ini benar-benar copot. Perlahan pegangan tangan Ardi turun begitu saja dari pundak Lintang. Mendengar ini jelas merupakan sebuah tamparan keras baginya. Lintang masih kecil dimatanya, ia belum cukup umur untuk menikah apalagi mengandung.
Ardi menggeleng tak percaya, “Enggak mungkin. Kamu enggak mungkin hamil, Lin. Kamu masih kecil, sayang!” seruan itu membuat Lintang semakin menangis menjadi-jadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Lintang [SELESAI]
أدب المراهقين[DIHARAPKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Lintang Amoza cuma gadis cupu yang sering jadi bahan bullying di sekolah. Menyukai Bara Aldian Adiwijaya sudah ada di dalam kamus hidupnya, tekadnya untuk mendapatkan Bara membuat Lintang mengubah dirinya, ia yang...
![Garis Lintang [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/248336267-64-k419029.jpg)