"KEADILAN SOSIAL UNTUK SELURUH RAKYAT GOOD LOOKING!"
Seruan lantang dari seorang gadis berambut ikal, dengan warna kulit sawo matang itu sukses membuat dirinya kini jadi pusat perhatian banyak murid di kantin. Bagaimana tidak jadi sorotan, gadis itu dengan gaya sekenanya berdiri di atas kursi kantin. Matanya yang bulat sempurna mengedar, menatap berani setiap orang yang berjalan melaluinya sambil menatapnya tak suka.
"LO CANTIK? LO AMAN!!" tambahnya kemudian.
"Peh udah Peh, berisik, aku nggak papa kok," ucap Lintang melerai. Gadis itu menarik-narik lengan perempuan yang berteriak tadi, namanya Siti Saripeh.
Panggil saja Ipeh, dia akan menengok.
"Peh, ayo turun!" Ucapan Lintang membuat Ipeh turun dari atas bangku.
Gadis itu kembali duduk dengan semestinya. Sorot matanya mengandung kemarahan yang sepertinya tengah membludak. Ipeh marah, bukan karena apa dan kenapa. Ini semua terjadi sehabis Lintang menceritakan kejadian tadi pagi di koridor. Masih berkaitan dengan syarat Bara, yaitu harus cantik.
Sebagai seorang sahabat yang baiknya sungguh luar biasa dan paripurna, Ipeh jelas tidak terima mendengar bahwa Lintang disebut, kucel, kurang rawat diri, dan lain sebagainya. Ya, walaupun sebenarnya perkataan Bara benar. Namun, Ipeh tetap tidak terima.
"Kamu ngapain sih, teriak-teriak kayak gitu, Peh?" Lintang bertanya sembari mengusap-usap lengan Ipeh.
"Haus keadilan gue Lin, gue pengen dihargain, setidaknya gak sama cowok. Yah, sesama cewek lah. Gue jelek, iya gue ngaku. Gue hitam—"
"Sawo matang," koreksi Lintang memotong.
"Gak ada yang warna kulitnya hitam kecuali arang, Peh!" sahut gadis yang duduk di seberang Ipeh, namanya Elsa Pradita—gadis pemilik gigi kelinci yang jika tersenyum begitu manis.
Namun menurut Ipeh, Elsa adalah temannya yang paling lemot. Ibarat jaringan, ya, jaringan E. Lain dengan Lintang, yang koneksi otaknya 4G.
"Lo kebanyakan marah-marah, cepet tua baru tahu rasa!" cibir Elsa yang langsung mendapat seringai tajam dari Ipeh.
"Nyaut mulu lo Frozen, balik sana ke tempat asal lo, kagak akan kuat lo tinggal di bumi ini. Sayang Tuhan kan? Samperin sana!" Ipeh berbicara asal jeplak, membuat Elsa mendengkus.
"Gak baik Ipeh, gini-gini Elsa temen kita loh," peringat Lintang dengan tenang.
"Lo sayang Tuhan 'kan, Lin?" tanya Elsa pada Lintang.
Lintang mengangguk sambil tersenyum hangat.
"Samperin bareng yuk?" ajak Elsa dengan semangat. Perlahan, senyum Lintang memudar.
Ipeh kontan terbahak mendengar itu. Memang benar, temannya yang satu ini sedikit nyungseb otaknya. "Temen ngajak main? Udah biasa. Temen ngajak ketemu Tuhan? Ini baru luar biasa!" kekeh Ipeh sebari menggebrak meja berkali-kali.
"Loh, emang salah gue ajak Lintang ketemu Tuhan?" Elsa kebingungan, membuat Ipeh terus terbahak sambil memegangi perutnya.
Lintang hanya bisa menghela napas tenang, lalu memegangi lengan Elsa.
"Sa, gak perlu kamu ajak, aku juga pasti bakal ketemu Tuhan kok, tapi nanti. Bukan cuma aku, kita semua yang ada di dunia ini bakal bertemu Tuhan," tutur Lintang dengan sabar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Lintang [SELESAI]
Novela Juvenil[DIHARAPKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Lintang Amoza cuma gadis cupu yang sering jadi bahan bullying di sekolah. Menyukai Bara Aldian Adiwijaya sudah ada di dalam kamus hidupnya, tekadnya untuk mendapatkan Bara membuat Lintang mengubah dirinya, ia yang...
![Garis Lintang [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/248336267-64-k419029.jpg)