Swasta Mita, atau yang artinya matahari terbenam kini sudah menyapa. Sudah hampir beberapa jam ini, keluarga Adiwijaya dan keluarga Lintang tengah berunding akan kejelasan hubungan kedua anak dari kedua belah pihak tersebut.
Hasil bulat telah dicapai, bahwa Lintang tak mau berpisah dengan Garis. Tetapi Lintang mau memberi Bara kesempatan. Membingungkan memang, Lintang juga sendiri bingung dengan statusnya sekarang ini.
“Lintang enggak mau cerai dari kak Garis.”
Ucapan itu lolos begitu saja secara terus menerus dari mulut Lintang. Membuat suasana di dalam ruangan rawat inap Bara jadi menegang.
“Tapi lo udah janji sama gue, Lin. Lo mau kasih gue kesempatan, terus kenapa lo jadi plin plan gini?” sahut Bara kesal sendiri.
“Jangan gertak Lintang, dia enggak suka digituin,” tegur Garis tiba-tiba menyambar.
Bara berdecih, menatap Garis dengan nyalang. “Gak usah belaga serba tahu tentang Lintang, gue jauh lebih dulu kenal Lintang dibandingkan lo, Bang!” tunjuknya pada Garis.
“Sudah! Kalian ini berantem terus, apa nggak capek?” Adiwijaya tiba-tiba saja melerai kedua anaknya itu.
“Kalau kemauan Lintang begitu, bagaimana jika Lintang berpisah dengan Garis saat sudah melahirkan, Lintang setuju?” Sintia dengan lembutnya, mengusap kepala Lintang lembut.
“Gak bisa gitu dong, Mah, kelamaan. Bara pengen cepet-cepet nikah sama Lintang,” timpal Bara protes.
“Bar, ngebet nikah banget sih lo, biarkan Lintang menentukan pilihannya sendiri,” Garis kembali menyambar.
“Bilang aja lo belum ikhlas kalau Lintang lebih milih gue dibandingkan lo, iya ‘kan?” Bara menanggapi sewot.
“Bang, nyadar diri, lo sama gue, sama-sama udah pernah nyakitin Lintang, namun, Lintang sendiri udah bilang tadi di taman, bahwa dia mau kembali sama gue,” tuturnya. Garis membungkam, memang benar adanya.
Adiwijaya dan Ardi saling pandang, sungguh muak rasanya melihat kakak beradik ini berdebat terus.
“Lin, kamu mau pilih kembali sama siapa? Sama Bara, atau sama Garis?” tanya Ardi sebari tumpang kaki.
Lintang diam, ia bingung.
“Lintang, jawab aja Sayang, apapun jawaban kamu, kita hargai kok,” ujar Sintia. Lintang mengangguk samar.
Manik Lintang menatap Bara dan Garis secara bergantian. Kedua kakak beradik itu duduk berdampingan tepat di hadapan Lintang.
“Lintang,” ucapan gadis itu tertahan. Bibirnya bergetar sesaat melihat wajah Garis.
“Gue enggak cinta sama lo, Lin. Selama ini gue Cuma bohong.”
Entah kenapa, perkataan Garis itu selalu saja muncul di dalam pikiran Lintang. Seolah hati dan pikiran Lintang tak setuju jika ia akan memilih Garis. Mengingat, luka yang Garis beri, begitu membuat hati Lintang hancur lebur.
“Lin, ayo dijawab,” Sintia kembali bersuara. Lintang menoleh, lalu mengangguk.
Menghela napas panjang dan kasar, Lintang memejamkan matanya sekilas lalu kembali mengerjap.
“Lintang, ikuti kata mamah aja, setelah Lintang melahirkan, Lintang akan berpisah sama kak Garis, dan kembali sama Bara,” umum gadis itu.
Bara sempat ingin memprotes namun Sintia dengan cepat menahannya dengan isyarat lirikan mata. Seolah Bara tahu, pria itu langsung mengurungkan niatnya itu.
“Yaudah, gue setuju,” kata Bara.
“Gue juga setuju,” tambah Garis lesu. Cowok itu tiba-tiba bangkit dari posisinya dan pergi begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Lintang [SELESAI]
Novela Juvenil[DIHARAPKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Lintang Amoza cuma gadis cupu yang sering jadi bahan bullying di sekolah. Menyukai Bara Aldian Adiwijaya sudah ada di dalam kamus hidupnya, tekadnya untuk mendapatkan Bara membuat Lintang mengubah dirinya, ia yang...
![Garis Lintang [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/248336267-64-k419029.jpg)