17. PELUKAN HANGAT

2.5K 357 45
                                        

Setelah pulang berbelanja kebutuhan bulanan, Lintang dibantu dengan Garis memasukkan beberapa kebutuhan ke dalam kulkas. Semenjak kejadian tadi di supermarket, wajah Lintang terus saja tertekuk. Gadis itu terus saja diam, seolah tak menganggap Garis itu ada.

“Lin,” panggil Garis.

“Iya?” sahut Lintang tanpa menoleh. Gadis itu sibuk menyimpan buah ke dalam kulkas.

“Lo lagi bete ya?” selidik Garis membuat aktivitas gerak tangan Lintang terhenti.

Lintang menoleh, “Lagi pengen diam aja,” tampiknya.

Lintang bangun berdiri, menutup kulkas dan berjalan kearah meja makan diikuti Garis di belakangnya.

“Lin, gue suami lo sekarang. Lo bisa cerita apapun itu ke gue,” ujar Garis.

“Aku enggak apa-apa Kak, gak ada yang perlu aku ceritain ke Kak Garis,” ucap Lintang bersikukuh.

Garis duduk di kursi, dengan kedua tangan yang menopang dagu. Ia menatap Lintang dengan tatapan menerka-nerka.

“Bawaan ibu hamil kali ya, Lin?” celetuk Garis membuat Lintang terkekeh kecil.

Maybe,” balas Lintang sebari ikut terduduk. “Makan malam, Kak Garis mau dimasakin apa?” sambungnya bertanya.

“Apa aja, apa yang lo masak, gue makan,” kata Garis.

“Kak Garis, aku mau nanya boleh?”

“Nanya aja, mau nanya apa?” Garis menatap Lintang penasaran.

“Soal, adiknya Kak Garis, yang namanya Baris itu,” ujar Lintang kembali mengungkit.

Gadis terdiam, otak dan hatinya tengah berperang mencari kebohongan apalagi yang akan ia lontarkan pada Lintang.

“Lin, mending jangan bahas itu, bahas yang lain aja gitu,” ucap Garis berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Loh, memangnya kenapa Kak?” Alis Lintang naik serempak.

“Ya, soal adik gue itu sama sekali gak penting,” jelas Garis terbata.

Lintang menghela napas, tangannya perlahan mengulur memegangi punggung tangan Garis. “Jelas penting dong Kak, kan aku sekarang kakak iparnya dia. Aku wajib tahu siapa aja keluarga Kak Garis, termasuk adiknya Kak Garis,” tuturnya panjang.

“Tapi Lin, adik gue sama sekali gak penting. Dia itu Cuma anak seumuran lo, yang bandel dan jarang ke rumah,” ungkap Garis.

Lintang bergeming sebentar, mencerna perkataan Garis yang baru saja terlontar.

“Adiknya Kak Garis bandel?” tanya Lintang memastikan.

Garis mengangguk mengiyakan dengan mantap. “Bandel banget, pokoknya gue gak akan biarin lo ketemu dia. Bahaya buat lo,” katanya.

Lintang jadi semakin bingung, ia menatap Garis dengan datar, perlahan tangannya yang hinggap di punggung tangan pria itu ia lepas dan jauhkan pelan.

“Yaudah kalo gitu,” ucap Lintang pasrah. “Aku ke kamar dulu, baru beres-beres,” tukasnya seraya beranjak bangun dan pergi.

Garis masih terdiam di tempatnya, ia benar-benar tak mengerti kenapa Lintang masih saja mengungkit perihal adiknya.

“Maaf Lin, suatu saat lo juga akan tahu siapa adik gue sebenarnya. Adik gue itu Bara, Lin, bukan Baris,” gumamnya frustrasi.

🖤🖤🖤

Setelah makan malam bersama Ardi, baik Garis maupun Lintang langsung masuk ke dalam kamar. Sedari tadi, keduanya masih belum saling bicara. Saat sudah masuk ke dalam kamar, Lintang merapikan buku pelajaran untuk besok kembali ke sekolah.
Garis menelan ludahnya berkali-kali, jakun cowok itu terlihat naik turun. Matanya urung melihat kearah lain selain melihat ke arah Lintang. Bibir Garis seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi entah apa.

“Ekhem!” Garis berdeham, sukses membuat Lintang menoleh ke arahnya yang berada di sofa.

“Kak Garis batuk?”

“Hah?” Cowok itu terkesiap bingung.

“Enggak! Cek suara doang,” ucap Garis gugup.

“Aku pikir Kak Garis batuk, kalo misalkan batuk langsung minum obat aja,” peringat Lintang tenang.

Garis yang tadinya terduduk di sofa, kini beranjak berdiri dan menghampiri Lintang yang masih sibuk membelakanginya di meja belajar.

“Besok kita sekolah ya, Kak, biar sama-sama gak ketinggalan pelajaran,” pesan Lintang yang masih sibuk merapikan bukunya.

Garis mengangguk paham, walaupun ia tahu Lintang tak akan melihatnya karena memang gadis itu tengah berdiri membelakanginya.

Saat sudah sampai di belakang tubuh Lintang, Garis mendekatinya lagi, mengikis jarak dengan gadis itu. Perlahan tapi pasti, Garis melingkarkan tangan kekarnya itu di perut Lintang.

“Eh?” Lintang terkejut bukan main, saat ada tangan kekar hinggap di perutnya.

Garis memeluknya dari belakang, menyimpan dengan nyaman kepalanya di pundak Lintang. Tepatnya, di samping ceruk leher Lintang terbuka jelas. Lintang mendadak gugup, perutnya memanas seolah ingin meledak. Ini kali pertamanya, ia sedekat ini dengan Garis.

“Maaf Lin,” ucap Garis serak.
Lintang masih diam, ia hanya mampu sedikit menoleh ke samping.

“Maaf karena gue gak bisa jelas in semua tentang adik gue, ke lo. Gue tau, lo kecewa ‘kan?”

“Ng-gak Kak,” ucap Lintang terbata.

“Lo gak bisa bohong, Lin. Gue tau, lo kecewa sama gue.”

“Kak, bisa lepas gak?” pinta Lintang sedikit risih.

Garis langsung melepas pelukannya itu, perlahan Lintang berbalik badan, berhadapan dengan Garis sekarang ini. Tangan Lintang terangkat, menangkup pipi Garis dengan kedua tangannya yang mungil.

“Aku gak pernah kecewa sama Kakak, sampai kapanpun Kak Garis adalah sosok malaikat penolong buat aku,” ujarnya lembut.

“Lin, gue boleh peluk lo enggak?”
Lintang terdiam sejenak, tangannya turun dari kedua pipi Garis.

“Boleh Kak,” ujar Lintang sedikit malu.

Tak mau menyita waktu, Garis langsung menarik tubuh Lintang untuk masuk ke dalam dekapannya. Garis memeluk Lintang dengan erat, menyimpan kepalanya di atas kepala Lintang dengan nyaman.

“Gue akan bahagiakan lo, Lin,” ucap Garis sunguh-sungguh.

Mata Lintang memanas, kedua tangannya masih menggantung tak tahu harus membalas pelukan Garis atau tidak. Tapi, Lintang tak bohong bahwa pelukan Garis begitu hangat baginya. Dengan banyak pertimbangan, kedua tangan Lintang yang menggantung, melingkar di pinggang Garis, gadis itu membalas pelukannya tak kalah erat.

“Aku sayang Kak Garis,” ucap Lintang pelan, persis berbisik.

Walaupun begitu, Garis mendengarnya dengan jelas.

“Gue juga sayang lo, Lin,” balas Garis. Lalu setelah mengatakan itu, ia mengecup kening Lintang cukup lama.

Lintang menegang di tempat saat benda kenyal itu hinggap di keningnya, Lintang memejamkan mata, menikmati pelukan hangat dari Garis. Pada dasarnya, malam ini adalah malam paling indah bagi Lintang, malam dimana pertama kalinya ia memeluk Garis, dan untuk kali pertamanya, Garis menciumnya.

Garis Lintang [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang