29. KITA DAN LUKA

1.9K 298 12
                                        

“Minum dulu, nih!” Ipeh menyodorkan sebotol air mineral dari dalam tasnya pada Lintang.
Lintang mengambilnya, lalu meminumnya pelan.

“Seharusnya, lo cerita sama kita soal ini Lin, kita masih mau berteman kok, walaupun sekarang lo udah hamil,” ujar Ipeh sebari menatap Lintang dalam.

“Gue kangen banget sama lo, gue sempat kaget tadi, tapi setelah lo ceritain semuanya, gue jadi ngerti,” tambah Elsa sebari merangkul Lintang, meluapkan rasa rindunya pada sahabatnya itu.

“Makasih ya, Peh, Sa, aku beruntung banget punya kalian.” Lintang buka suara, menatap Ipeh dan Elsa secara bergantian sebari tersenyum manis.

“Udah berapa bulan kandungan lo, Lin?” tanya Ipeh, sebari mengelus lembut perut Lintang.

“Jalan 6 bulan,” jawabnya, Ipeh mengangguk.

“Sebentar lagi dong lahiran, semoga lancar ya Lin,” ucap Elsa mendoakan.
“Aamiin,” balas Lintang dan Ipeh bersamaan.

“Kak Garis masih nungguin lo di depan rumah, enggak mau disamperin atau diajak masuk?” Elsa kembali berujar, matanya menyelusup kearah luar.

Memang, setelah tadi Lintang berbicara dengan Garis, gadis itu memutuskan untuk pulang saja. Bersama dengan Ipeh dan Elsa, Lintang akhirnya bisa menginjakkan kaki di rumah sekarang, diantar dengan mobil Garis. Makanya, Garis juga sekarang ada di rumah Lintang.

“Biar in di luar, aku enggak mau dia masuk ke rumah aku,” kata Lintang kesal.

“Kenapa sih, Lin? Lo ada hubungan apa sebenarnya sama kak Garis?” Ipeh bertanya dengan tingkat kepo yang tinggi.

Lintang tak langsung menjawab, rasanya ia ragu menceritakan perihal masalahnya pada kedua sahabatnya ini.

“Yaudah, kalo enggak mau dijawab juga enggak apa-apa,” sambung Ipeh saat tahu Lintang enggan menjawab.

“Yang terpenting, sekarang kita udah tau kabar, dan bisa sama-sama lagi sama lo.” Ipeh ikut merangkul Lintang. Ketiga gadis itu berpelukan, dengan mata yang sama-sama berair.

“Tapi sekarang aku udah berbeda, aku sekarang hamil, Peh, Sa,” Lintang bersuara parau. “Aku gagal jaga diri aku,” tambahnya mulai terisak.

“Udah Lin, apa pun keadaan lo sekarang, yang terpenting lo tetap jadi teman kita, iya kan Sa?” balas Ipeh tak kalah terisak, lalu atensinya teralih pada Elsa.

“Iya Lin, apa pun yang udah terjadi sama lo, hanya bisa dibuat pelajaran untuk kedepannya.” Elsa berujar sebari melepaskan pelukannya, tangannya terulur, memegangi punggung tangan Lintang. “Gue sama Ipeh, bakal temenin lo, kita janji itu,” tambahnya.

“AAAAAAA SAYANG BANGET SAMA KALIAN!” Ipeh merengek bak anak kecil, lalu semakin mengeratkan pelukannya.

“Makasih banyak tak terhingga, Elsa, Ipeh,” isak Lintang sangat terharu.
Ternyata, apa yang Lintang takutkan selama ini tak terjadi. Bagaimanapun keadaan Lintang sekarang, Elsa dan Ipeh masih mau menjadi temannya. Dulu, Lintang berpikir bahwa mereka akan menjauhi Lintang, namun nyatanya itu tidak terjadi.

🖤🖤🖤

Suara derum motor yang sengaja digeber menambah ricuhnya area balapan liar siang ini. Tak tanggung-tanggung, Bara mengadakan acara balapan liar dadakan sore ini. Asap yang berasal dari knalpot motor menambah kesan memanas antara dua pembalap. Bara dibalik helm fullface-nya, mengeraskan rahang, seolah tengah siap meluapkan amarah.

Bara marah, saat bayang-bayang Lintang berpelukan dengan Garis terlintas di benaknya. Walaupun Bara sudah berusaha ikhlas, dan berusaha mundur, tetap saja, ia tak terima dengan semua ini.

Garis Lintang [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang