5. PACARAN

1.8K 271 9
                                        

LOKER 04: BARA ALDIAN ADIWIJAYA

Dengan keberanian penuh, Lintang menyelipkan secarik kertas di dalam loker Bara. Secarik kertas yang berisi ungkapan hatinya, ini merupakan agenda wajib dan rutin Lintang setiap hari. Namun, karena hampir 2 bulan tidak sekolah di SMA Mars, agenda rutinnya sementara lumpuh.

Sambil menghela napas, Lintang memejamkan mata. Berdoa di dalam hati, agar Bara membaca surat ini.

"Lagi ngapain?"

Suara berat itu, tiba-tiba menyapa telinga Lintang. Suara yang begitu familier, yang sukses membuat ia bergidik takut. Dalam hati, Lintang merutuki dirinya sendiri karena tak hati-hati, ini kali pertamanya ia ketahuan. Tidak usah menerka lagi, Lintang yakin bahwa orang di belakangnya sekarang adalah Bara.

"Balik badan! Gue udah tau lo siapa!" titah cowok itu, Bara.

Sambil meniup beberapa helai rambutnya di kening, Lintang akhirnya memberanikan diri untuk membalikkan badan. Ia menunduk, tidak berani menatap Bara.

"Gak usah nunduk, angkat wajah lo, Lintang. Gue pengen liat," suruh Bara pada Lintang.

Dengan banyak pertimbangan, akhirnya Lintang memberanikan diri untuk mengangkat wajah. Seketika, raut wajah Bara berubah. Bara menatap Lintang dengan terkagum-kagum. Lintang benar-benar sudah berubah, padahal baru dua bulan yang lalu Bara menantangnya untuk berubah cantik. Tapi kini, gadis cupu yang sering dicaci maki itu kini berubah layaknya bidadari.

"Bara, sekarang Lintang udah berubah. Cantik gak?" tanya Lintang malu-malu.

Bara bergeming. Entah harus menjawab apa pada Lintang.

"Cantik," jawab Bara kemudian.
Lintang tersenyum lebar, menampakkan jajaran gigi putihnya pada Bara.

"Jadi, Bara mau dong jadi pacarnya Lintang?"

Bara bergeming lagi. Cowok itu berdeham, menenggelamkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dengan sengaja, Bara membungkukkan badannya. Menyejajarkan wajahnya dengan wajah cantik Lintang. Tidak sampai disitu, perlakuan Bara yang sukses membuat jantung Lintang berpacu kencang, cowok itu kini beralih memegangi kepala Lintang dengan satu tangan yang Bara keluarkan dari dalam saku celana. Lintang mengerjap beberapa kali.

"Lo udah memenuhi syarat sebagai pacar gue, maka dari itu ... sekarang, lo jadi pacar gue," ucap Bara dengan tegas namun begitu memikat.

Seketika sekujur tubuh Lintang menghangat mendengar itu, ia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak memeluk Bara. Lintang menerjang tubuh Bara, memeluk cowok itu erat.

"Lintang sayang Bara!!!" kata Lintang.
Bara meneguk ludah, ia tidak menyangka Lintang akan agresif seperti ini.

Kedua tangan Bara masih menggantung, namun tidak lama, Bara balas memeluk Lintang. Cowok itu menyimpan dagunya di pundak Lintang, memejamkan matanya membiarkan wangi tubuh gadis itu menguar dan menggelitik hidungnya.

"Lintang janji, apa pun yang Bara minta, Lintang bakal kasih. Asalkan, Bara enggak ninggalin Lintang." Gadis itu memeluk leher Bara erat.

"Iya, Lin. Gue enggak akan ninggalin lo," bisik Bara.

Untuk kali pertamanya, Lintang mendapatkan pelukan pertamanya dengan Bara. Rasanya sangat hangat, Lintang suka posisi seperti ini. Posisi dimana, ia dan Bara dekat. Sedekat nadi. Kini apa yang Lintang mau, berhasil ia dapatkan.

Menjadi pacar Bara. Ya, kini Lintang melepas masa singlenya. Kini Lintang Amoza sudah punya pacar, dia Bara Aldian Adiwijaya, pacar sekaligus dunianya.

🖤🖤🖤

Beberapa hari berjalan, berita bahwa Bara dan Lintang berpacaran, kini sudah menyebar luas ke seantero SMA Mars. Banyak dari para murid mendukung, dan tidak banyak juga yang mencibir. Kini, Lintang mendapatkan tahta tertinggi di PASMARS. Bahkan, Bara memberikan pengumuman terbuka, bahwasanya sekarang, Lintang Amoza adalah Ratu PASMARS.

Menjadi pacar Bara, merupakan anugerah tersendiri bagi Lintang. Hari-hari Lintang berubah, yang tadinya monoton, kini lebih berwarna.

Semakin hari, Lintang semakin lupa daratan. Ipeh dan Elsa, kini dikesampingkan. Kini Lintang lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah bersama Bara dan anak PASMARS lain.

"Mau minum?" Bara menyodorkan sebuah minuman isotonik bening pada Lintang.

Lintang mengambilnya dengan baik. "Makasih, Bara," ucapnya. Bara mengangguk sambil tersenyum.

"Ck, si Lintang ngapain sih gabung sama cowok-cowok di basecamp PASMARS. Gak etis tau, dia cewek sendirian." Ipeh mencibir pelan.

Tanpa Lintang dan anak PASMARS lain ketahui, ternyata oh ternyata, Ipeh dan Elsa kini mengintip gerak-gerik Lintang. Sudah beberapa hari ini, Lintang berubah. Benar-benar berubah. Bara, adalah satu-satunya alasan Lintang berubah. Kini, pertemanan Lintang, Ipeh, dan Elsa, terhalang sekat.

"Lintang berubah, gue gak suka!" Elsa cemberut sedih.

🖤🖤🖤

Tepat pukul 20.30 malam, Lintang baru saja menapaki kaki di ubin rumahnya. Tidak biasanya ia pulang semalam ini, semenjak berpacaran dengan Bara beberapa hari terakhir ini, Lintang melewati batas kenormalan seorang anak bahkan seorang murid untuk pulang ke rumah. Lintang selalu diajak nongkrong oleh Bara.

Hanya untuk sekedar duduk-duduk di sebuah tempat tongkrongan daerah Jakarta Selatan. Lintang berani ikut nongkrong dan pulang malam, itu  karena kedua orang tuanya akhir-akhir ini sering pulang larut, baik Ardi maupun Vena belum mengetahui perubahan sikap Lintang yang berubah akhir-akhir ini.

Jika keduanya tahu, sudah bisa dipastikan maka Lintang akan mendapatkan hukuman. Ya, mungkin hanya sekedar omelan semata yang akan terus Vena lontarkan selama tujuh hari, tujuh malam.

Brak!

Lintang membanting tubuhnya yang penat ke atas kasur empuknya. Ia meregangkan kedua otot tangannya sambil menguap. Hari-hari yang dilaluinya bersama Bara sedikit melelahkan. Namun tak ayal, itu juga menyenangkan untuk Lintang. Bersama dengan Bara, Lintang melihat dunia luar dengan mata terbuka. Lain dengan Lintang yang dulu, yang lebih sering mengurung diri di kamar.

Dulu, Lintang berkutat dengan banyaknya buku-buku. Kini tidak lagi. Lintang sepertinya, sudah mulai biasa, hidup sedikit bebas seperti ini.

Tring!

Bara:
Bsk kan libur sekolah, bsk malam ke kelab yuk?

Lintang langsung bangkit dari posisinya, dengan raut wajah semringah karena mendapati pesan dari Bara. Hingga tak lama, jemarinya dengan lihai bergerak mengetikkan balasan.

Anda:
Yuuuu

Bara:
Bsk gw jemput ya, selamat malam! Ily.

"Bara so sweet banget sih, typing-nya, typing ganteng!" gumam Lintang mesem.

Setelah menutup aplikasi chatting di ponselnya, Lintang kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Ia menatap putihnya langit-langit kamar. Bayangan wajah Bara terlihat muncul disana. Lintang tersenyum begitu manis.

"Lintang enggak nyangka, bisa jadi pacar Bara dan sekarang kita pacaran." Lintang bermonolog, sekaligus itu jadi epilog perkataannya hari ini. Karena sedetik setelahnya, Lintang langsung memejamkan matanya dan terlelap tidur.

Garis Lintang [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang