Pagi-pagi sekali, Lintang harus terperanjat bangun dari tidur lelapnya. Bukan karena jam alarm membangunkannya, namun karena suara pecahan kaca dari lantai bawah sukses mengejutkannya.
Sambil mengucek matanya, Lintang perlahan bangun dari posisi semula. Langkahnya yang pendek, perlahan berhasil keluar. Hal pertama yang ia lihat adalah, percekcokan kedua orang tuanya.
Dilihatnya ke arah jam dinding, jarum jam baru saja berarak di angka 06.15 namun lihat, sepagi ini kedua orang tuanya sudah ribut. Hal biasa memang. Namun apakah pantas, ribut sepagi ini?
"Aku mau cerai, aku enggak bisa terus tinggal sama laki-laki temperamental kayak kamu, Mas!!!" seru Vena.
"Cerai?" Ardi menatap sang istri tajam. "OKE KITA CERAI! AKU UDAH MUAK PUNYA ISTRI TUKANG KELUYURAN KAYAK KAMU!"
"AKU KERJA MAS! BUKAN KELUYURAN!" tentang Vena keras.
"Kerja apa kamu, Vena? Kerja jadi wanita penghibur, iya?!!" tuduh Ardi seenaknya. Sukses membuat Vena terpancing emosi yang lebih membludak dari sebelumnya.
"Aku enggak pernah kerja kayak gitu, Mas!! Kamu kenapa sih, selalu fitnah aku?! Apa salahnya kalau aku kerja?!" Vena menangis keras. Emosi dan air matanya menyeruak bersamaan.
"KERJA ITU BUKAN TANGGUNG JAWAB KAMU, VENA! TANGGUNG JAWAB KAMU ADALAH MENGURUSI AKU DAN LINTANG! BIAR AKU YANG CARI UANG!!!" Ardi memegangi kedua pundak istrinya dengan sorot mata kalap.
"Aku capek, Mas. Hidup aku monoton kalau cuma jadi ibu rumah tangga!" Vena menepis kasar. Tidak berminat untuk disentuh sedikit pun oleh Ardi.
"EMANG DASAR ISTRI KURANG AJAR KAMU!!" Ardi yang hilang kendali, langsung mengangkat tangannya dan ...
PLAK!
Kekerasan pun terjadi. Vena terdiam seribu bahasa saat tangan kekar Ardi berhasil menamparnya dengan gerakan sempurna. Setetes air mata Lintang jatuh, tak tega melihat sang mama ditampar oleh papanya sendiri.
Dada Lintang berdenyut nyeri. Sapaan manis setiap pagi yang dulu selalu ia dapati, kini pupus dan berganti. Pertengkaran jadi pengganti. Umpatan kasar, kekerasan, harus Lintang tonton dengan mata telanjang.
"Aku benci kamu, Mas. Aku benci kamu!" Dada Vena naik turun, dengan emosi yang masih menguasai, wanita yang sudah berpakaian rapih itu melenggang pergi begitu saja.
Langkahnya tertatih, air mata terus jatuh silih berganti seiring dengan langkahnya. Pipinya panas, Vena bisa merasakan itu. Namun, rasa sakit di pipinya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
Rasa sakit, yang setiap harinya Ardi torehkan. Minimnya kepercayaan, menjadi awal kehancuran. Selama ini, Vena selalu berusaha menjadi mengejar apa yang ia mau. Menjadi wanita karier, adalah keinginannya. Namun, keinginannya tidak sejalan dengan pemikiran Ardi yang sempit. Yang selalu menjadikan Vena pemaham sekte, wanita harus berada di rumah dan bergelut di dapur. Tidak, Vena tidak ingin seperti itu.
Pada intinya, pemikiran tidak sejalan jadi awal. Dan perpisahan, nyatanya akan jadi jalan keluar.
🖤🖤🖤
Sudah 1 jam penuh, Lintang menangis pilu di dalam kamar mandi. Sengaja ia menangis di tempat ini. Bukan karena apa kenapa, menangis di kamar mandi seolah sudah jadi kebiasaannya. Ditemani dengan air shower yang jatuh membasahi sekujur tubuhnya, Lintang terus menangis tergugu.
Kata, perceraian. Terus terngiang di telinganya. Lintang tidak mau, ia tidak akan sanggup jika kedua orang tuanya bercerai.
"Kenapa Tuhan, kenapa papa sama mama berantem terus?" Isakan Lintang menggila. Air hujan dalam dirinya terus keluar, tanpa mampu ia cegah lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Lintang [SELESAI]
Fiksi Remaja[DIHARAPKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Lintang Amoza cuma gadis cupu yang sering jadi bahan bullying di sekolah. Menyukai Bara Aldian Adiwijaya sudah ada di dalam kamus hidupnya, tekadnya untuk mendapatkan Bara membuat Lintang mengubah dirinya, ia yang...
![Garis Lintang [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/248336267-64-k419029.jpg)