#28 Who is Jaehyun's Crush

144 16 12
                                        

Taeyong hanya melamun meski saat ini ia tengah membuat demo dari lagu yang ia buat. Pernyataan Jaehyun benar-benar terus terngiang di telinganya. Bahkan ia sampai memukul meja dan membuat Jungwoo terkejut.

"Hyung, kau baik-baik saja?"

"Apa Jaehyun pernah mengatakan dia menyukai seseorang?" tanya Taeyong, membuat Jungwoo mengernyit. Pasalnya, pertanyaan soal hal ini benar-benar tak pernah menarik perhatian leader dari NCT itu.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Aku hanya penasaran saja," jawab Taeyong senatural mungkin. Ia tak mau terlihat cemburu atau apapun. Apalagi Jaehyun mengatakan jika ia akan mendekati Rini.

"Dia tidak pernah bercerita soal itu. Kau tanyakan saja sendiri."

Taeyong ingin sekali marah. Ia kesal karena Jaehyun mengatakan jika ia berniat mendekati Rini. Ditambah lagi dengan Jungwoo yang tak mau memberitahunya. Namun, ia tak mau menunjukannya.

"Apa kau dan Jaehyun menyukai orang yang sama?"











"Bisakah kau berhenti tersenyum? Aku takut."

Rini terus menatap gelang yang melingkar di tangannya. Ia terus tersenyum lalu mencium gelang tersebut hingga membuat Sol-ah berpikir jika sahabatnya sudah gila.

"Aku mendapat jackpot."

"Maksudmu?"

"Aniyo." Rini ingin sekali menceritakan soal gelang itu. Namun, ia ingin menyembunyikan kedekatannya dengan Taeyong agar Sol-ah tak menggodanya.

"Apa tanggal pernikahanmu sudah ditentukan?" tanya Sol-ah sekenanya, membuat Rini menghembuskan napasnya kesal.

"Kau pikir aku kemari hanya untuk menikah? Aku kemari untuk mencari uang," ujar Rini dengan kesal. Meski begitu, ia tetap senang karena Taeyong memberikan gelang itu padanya. Memang bukan barang yang baru. Namun, Taeyong mengatakan jika gelang itu sudah menemaninya sejak lama. Itulah kenapa gelang itu tetaplah berharga untuknya.

*
*
*

Taeyong bergumam lalu melempar pulpen yang sejak tadi ia pegang. Setelah Jaehyun mengatakan hal itu, ia malah menjadi tak fokus untuk segala hal. Bahkan untuk menulis lirik saja, ia sudah melakukan banyak sekali kesalahan hingga di kamarnya sudah dipenuhi dengan bola-bola kertas.

"Astaga! Betapa berantakannya kamarmu." Doyoung benar-benar heran sebab selama ini Taeyong paling anti dengan kamar atau dorm yang berantakan. Namun kali ini kamarnya benar-benar dipenuhi oleh kertas.

Bukan hanya itu saja. Ini kali pertama Doyoung melihat Taeyong seperti ini. Padahal Taeyong jarang memperlihatkan soal kekesalannya. Apalagi dengan membuat kekacauan di kamarnya sendiri.

"Apa terjadi sesuatu?"

"Apa Jaehyun pernah bercerita padamu soal seseorang yang dia sukai?"

"Entahlah, dia tidak pernah mengatakan soal itu. Kenapa Hyung tiba-tiba menanyakannya?"

Astaga! Kenapa aku malah jadi bodoh? Bukankah terlihat jika aku takut tersaingi? Taeyong merutuki dirinya sendiri. Mungkin hari ini sudah hampir seluruh member NCT ditanyakan hal serupa olehnya. Ia harap tak ada yang sadar jika ia ingin klarifikasi soal Jaehyun.

"Lupakan." Taeyong memilih untuk kembali menulis. Namun, ponselnya tiba-tiba saja berbunyi sebagai pertanda sebuah pesan berhasil masuk.

RinRin
[Kau sudah makan?]
[Aku masak terlalu banyak di dorm. Apa kau mau?]

"Hyung, kau mau ke mana?" tanya Doyoung saat Taeyong terburu-buru meraih jaketnya dan pergi. Bahkan tanpa merapikan kamarnya terlebih dahulu. "Jadi aku yang harus membereskannya?"













"Makanlah yang banyak." Rini menyajikan soto yang baru saja matang. Asap halus itu masih mengepul, membuat seorang pria yang menerima mangkuk itu tersenyum.

"Haechan, tadinya aku ingin meminta Mark ke sini. Hanya saja menurutku sotonya tidak akan cukup," ujar Rini.

Sol-ah tersenyum lalu meletakan ponsel milik Rini. Ya, pesan yang Taeyong terima ternyata bukan Rini yang mengirimkannya. Sol-ah merasa ada yang kurang saja jika Rini hanya mengajak Haechan tanpa mengajak Taeyong.

Rini bukannya tak mau mengajak Taeyong ke sana. Ia hanya merasa canggung apalagi setelah kejadian tadi siang. Ia hanya tak mau jika Taeyong mengetahui soal perasaannya sebab ia merasa tak sebanding dengan pria Lee itu. Rini rela jika harus terus menyimpan perasaannya.

"Ini benar-benar enak. Bagaimana kau membuatnya?"

"Resep rahasia. Padahal rasanya tak sama seperti soto yang kubuat di Indonesia," jawab Rini.

"Kalau begitu ajak aku ke sana. Aku juga ingin memakan ini di sana," ujar Haechan yang kembali mengisi mulutnya.

Rini senang saat Haechan menyukainya. Padahal ia sangat yakin jika lidah Haechan mungkin akan mengatakan jika rasa dari soto benar-benar tidak cocok untuknya.

"Sol-ah, apa kau tidak akan memakannya?"

"Aku menunggu seseorang."

"Ey, apa kau menunggu Wooseok? Kau bilang dia mendapat tugas malam," ujar Rini, membuat Sol-ah menggeleng.

"Tunggu saja. Ini bukan Wooseok."

"Ah ... Baiklah. Aku akan makan duluan saja," ujar Rini yang kemudian menyajikan soto tersebut untuk dirinya sendiri. Masakan Indonesia memang membuat dirinya kembali merindukan Ibunya. Ia jadi memikirkan apa Ibunya sudah makan atau belum.

Rini meraih ponselnya lalu mengetikan pesan singkat untuk Ibunya. Namun, dahinya mengernyit saat mendapati pesan yang terkirim pada Taeyong. Padahal ia sama sekali tak merasa sudah mengirim pesan itu.

Suara bel tiba-tiba saja terdengar.

"Oh? Aku rasa tamunya sudah datang." Sol-ah berjalan menuju pintu untuk menyambut Taeyong, membuat mata Rini mengikuti pergerakan Sol-ah. Hingga akhirnya matanya membulat saat mendapati sosok tak asing di matanya.

Kerjaan Sol-ah nih pasti. Rini bukan berusaha menjauh. Ia hanya tak ingin hidup dalam angan-angannya saja karena ia tahu, menyukai Taeyong tak akan berujung balasan. Ia bahkan berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri jika ia ada di sana untuk bekerja.

Taeyong melepas masker serta jaket tebalnya.

"Oh, Hyung." Haechan melambaikan tangannya lalu menunjukan mangkuk miliknya yang sudah tak lagi terisi penuh. "Masakan Rin sangat enak. Kau harus mencobanya."

Rini terus menatap Taeyong. Ia sebenarnya tak berniat membuat pria itu datang ke sana. Namun, Sol-ah yang jahil justru mebggunakan ponselnya untuk meminta Taeyong ke sana. Alhasil, ia harus berpura-pura sekarang.

"Akhirnya kau datang. Duduklah, untung saja soto ini masih panas."

Sol-ah berusaha menahan tawanya saat Rini berusaha untuk terlihat natural. Padahal Rini sama sekali tak menunggu Taeyong datang.

"Ini akan membuat otakmu jernih, Hyung. Rin, apa kau tahu? Seharian ini. Eum ... Sepertinya hanya saat siang saja. Hyung bertanya pada setiap orang soal siapa yang disukai Jaehyun Hyung."

Taeyong menghembuskan napas berat. Bukankah seharusnya itu menjadi rahasia saja? Namun, Haechan malah membongkarnya.

"Benarkah? Wah ... Apa kau menyukai seseorang, Taeyong-ssi?"

"A-aniyo. Kau salah paham. Aku hanya butuh inspirasi untuk membuat lagu soal menyukai seseorang."

Rini sangat gemas pada Taeyong. Ia malah merasa jika Taeyong adalah anak SD yang bertanya soal cinta pada orang dewasa. Namun, ia yakin jawaban Taeyong adalah sebuah kebohongan. Apalagi Taeyong terus saja menundukan wajahnya.






TBC🖤

16 Jan 2021

Best partCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang