🍁 Kehilangan
Setelah sesi pertanyaan tadi, aku pun di perbolehkan keluar untuk kembali ke dalam sel tahananku.
Dalam doa sepanjang jalan menuju sel tahanan, aku berharap bisa cepat mendapatkan remisi agar bisa bebas dari tempat ini.
Kupercepat langkahku, agar bisa lekas sampai dan cepat melihat malaikat kecilku. Betapa bahagianya saat aku sampai, kulihat Arsen tengah tertidur pulas sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.
Setiap melihat wajah Arsen, bibir ini tidak bisa berhenti mengembangkan senyuman, wajah yang mengemaskan membuatku selalu rindu dan dia 'lah yang menjadi penyemangat dan sumber kebahagiaanku.
***
Selama di penjara kami di berikan pekerjaan oleh lembaga lapas, agar kami saat keluar dari penjara. Kami bisa mempunyai keahlian, setidaknya tahu apa saja yang bisa menguntungkan untuk diri kita di lingkungan masyarakat nanti.
Salah satu pekerjaan untuk tahanan wanita adalah bekerja dan belajar menjahit, serta menyeterika pakaian. Ya, setelah kita membuat pakaian yang di jahit sendiri tadi. Kami wajibkan untuk menyeterika baju itu.
Di siang ini aku kebagian tugas untuk menyeterika pakaian, seperti biasa aku mengajak Arsen. Karena jika tidak di ajak, tidak ada yang menjaganya, karena semua tahanan mempunyai tugas masing-masing.
Saat memandang putraku sambil bekerja, tiba-tiba kulihat Arsen terus menangis, padahal tadi tidak apa-apa. Aku mencoba menenangkan, tapi Arsen malah makin menangis.
Aku ingat betul, saat kutinggal Arsen sebentar bersama Mila, malaikatku masih ceria. Jikalau Arsen lapar, dia tidak akan menangis seperti sekarang ini. Lalu tiba-tiba Arsen muntah.
Aku mulai panik, kenapa Arsen muntah? Seingatku aku hanya memberikan dia bubur, dan tidak pernah memberikan macam-macam makanan, yang pantang di berikan pada anak balita.
Tapi ini, saat kulihat di pakaian Arsen yang kena muntahan. Terlihat ada roti yang membuatku merasa aneh, siapa yang memberikan roti pada Arsen.
"Sayang, kenapa kamu Sayang? Apa ada yang sakit, Nak. Tolong kasih tahu Ibu."
Aku berbicara sendiri, sambil mengingat ini 'kan siang apa mungkin Arsen kegerahan, karena saat ini kami ada dalam ruangan yang cukup banyak orang.
Mulai kubuka bajunya Arsen, dan betapa kagetnya saat aku melihat ada lebam di tubuh putraku.
"Sayang! Kamu kenapa, Nak? Siapa yang melakukan ini padamu?"
Saat aku mulai panik, Arsen muntah lagi. Tubuhnya tiba-tiba kejang.
Aku ketakutan, dan berteriak minta tolong. Beberapa sipir yang berjaga mulai berdatangan, dengan cepat membawa Arsen ke ruang kesehatan.
Saat aku mau mengikuti sipir yang menggendong Arsen, aku di halangi karena tidak di perbolehkan untuk ikut.
Aku terus memberontak, melawan yang menghalangiku untuk pergi ke ruang kesehatan. Di tengah rasa putus asaku, ketika tidak di perbolehkan melihat keadaan malaikat kesayanganku membuatku semakin khawatir.
Mataku menerawang, lalu pandanganku jatuh pada wanita muda yang biasa menjaga Arsen, kudatangi Mila yang mulai terlihat gugup.
"Kenapa dengan Arsen? Kenapa dia tiba-tiba muntah dan di dalam tubuhnya ada lebamnya? Katakan cepat! Kamu kasih makanan apa pada putraku, hah?!" tanyaku mulai tidak sabaran.
"Aa--aku tidak tahu, bukannya, Kakak adalah Ibunya. Kenapa mesti bertanya padaku?" jawab Mila dengan ekspresi gugup.
Saat aku sedang berdebat dengan Mila, teman sekamar yang sudah kuanggap kakak langsung menjambak Mila.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Cinta sena Anjani
Fiksi UmumSebuah insiden kecelakaan, membawa kehidupan Sena Anjani ke dalam titik terendah. Kehilangan putranya yang baru beberapa tahun ia lahirkan, membuat ia hampir gila. Kesedihan Sena, bertambah ketika tunangannya yang ia lindungi tega mengkhianati cinta...
