Kembali masuk ke tempatnya bekerja setelah beristirahat total kemarin—tak mengambil cuti lain karena ia merasa sudah amat lebih baik, Rima datang dengan senyum cerah seperti biasanya. Salah satu yang ia tekankan untuk terus dilakukan. Rima merasa ia wajib memberikan senyuman pada siapapun, terlebih tugasnya berada di garis depan dan berhadapan langsung dengan pelanggan yang dalam pekerjaannya berarti nasabah. Ia harus memberikan senyum dan sapaan ramah bagi nasabah yang datang, tak boleh mencampurkan kehidupan pribadinya ke dalam pekerjaan. Rima sangat anti mencampurkan urusan pekerjaan dengan pribadi. Karena itulah Pak Erick juga tak segan membantunya. Rima selalu memberikan performa yang prima. Tak pernah ada keluhan untuknya di tahun-tahun setelah masa pelatihannya terlewatkan. Perempuan itu memang benar-benar menikmati apa yang ia kerjakan sehingga menghasilkan output yang bahkan melebihi ekspetasi. Dirinya sering mendapatkan penawaran kenaikan jabatan atau di pindahkan ke cabang lain yang lebih besar. Tetapi Rima selalu menolak. Yang menjadi jawabannya selalu sama, ia sudah menyukai dan menikmati pekerjaan serta suasana ditempatnya sekarang—menepis jauh orang-orang yang suka bergosip tentangnya di belakang, orang-orang disini profesional dalam rentang jam kerja. Ditambah juga letak cabangnya yang tak terlalu jauh dari rumah dan mampu di jangkau dengan kendaraan umum tanpa perlu bersusah payah.
"Terima kasih Bu, Hati-hati di jalan." Ucapnya dengan kedua tangan yang menyatu di depan dada. "Selamat siang Bu, boleh di bantu formnya." Melanjutkannya dengan memulai lagi pada nasabah baru yang mengantri, Rima menerima sodoran form dan buku tabungan dari si nasabah. "Setor tunai ke tabungan milik Ibu pribadi ya." Rima mendapat jawaban Ya dengan cepat. "Setorannya sebesar lima juta lima ratus lima puluh ribu. Saya hitung terlebih dahulu ya Bu." Kembali duduk dan meletakkan uangnya pada mesin penghitung uang di antara dirinya dan Rosa, Rima mengetikkan segala informasi di depan layar kompoternya. Lalu kembali menoleh ke arah mesin dan mengambil uang yang telah setelai terhitung.
"Sudah betul ya Bu." Melanjutkan kegiatannya, Rima mencetak debit pada buku tabungan si nasabah dan memberikan stampel tanggal disana. "Saldonya susah tercetak ya Bu." Rima menunjuk satu baris debit baru, "Terima kasih." Berulang, Rima meneruskan melayani tiap pelanggan yang seperti tak ada habisnya. Penghujung hari dalam kurun satu minggu alias hari Jum'at.
"Rima.." Rima menoleh ke arah Rosa yang memanggilnya tepat saat ia berniat mendudukan bokongnya di kursi. Antrian teller kosong, tetapi berbeda dengan CS yang penuh. Jam sudah memasuki angka 12, hanya ada pegawai perempuan dan satu satpam ditempatnya sekarang. Karena memang sudah memasuki waktu sholat Jum'at.
"Nanti makan siang bareng yuk." Mengerutkan keningnya bertanya-tanya apa gerangan yang membuat Rosa sampai menyampaikan ajakan makan siang bersama. Bukan—bukan karena berarti mereka tak pernah makan siang bersama, tetapi karena jam istirahat mereka bergantian, Rima jarang sekali makan siang bersama dengan Rosa dan juga Rosa lebih sering menghabiskan makan siangnya dengan Jeje—yang gosipnya calon suami si perempuan. "Mbak tau kamu mulai nggak nyaman banget ya sama Pak Yusuf? Sorry ya nguping kemarin. Niatnya nggak mau dengerin, tapi suara kamu lantang dan tegas banget." Mendengar itu, Rima mengkerutkan keningnya dalam. Apa benar suaranya mampu terdengar sampai luar?
"Nggak usah dipikirin. Kalo memang kamu nggak suka ya nggak perlu di paksa. Lagiankan kamu emang bener udah nolak, ya Pak Yusufnya aja yang masih semangat." Menangkap arti yang berbeda pada kernyitan kening Rima, Rosa berusaha menenangkan Rima yang sebenarnya tidak perlu. "Jadi, makan siang bareng?"
"Boleh Mbak." Jawab Rima akhirnya, jaga-jaga supaya Yusuf tak mengikutinya. Dan Rima serta Rosa kembali fokus ke depan saat ekor mata keduanya melihat siluet yang mendekat.
"Selamat siang..." sapa Rima yang memang memiliki nasabah lagi.
* * * * *
KAMU SEDANG MEMBACA
end | GRAVITY
FanfictionRasanya terlalu sulit mengabaikan perempuan sesempurna dia kan? -Keanu Abraham Available pdf. Cover berasal dari pinterest.
