VIII

1.7K 275 10
                                        

"Rima! Buka dong! Kamu udah 24 jam loh nyuekin Mbak! Kamu ngambeknya keterlaluan deh!" Resa tak hentinya menggedor-gedor pintu kamar Rima. Ya sejak ia di pulangkan oleh Keanu, Rima terus mengunci dirinya di dalam kamar. Tak bersedia bertemu atau berbicara dengan Resa atau Bobby. Bahkan telepon kedua orang tuanya ia abaikan. Hanya Erin yang masih ia respon.

"Dek! Aku aduin Ibu loh ya! Buka nggak!" Masih tetap di abaikan, kali ini Resa membawa pisau dari dapur Rima dan menusuk-nusuk pintu jati kamar adiknya itu. "Mbak bisa loh hancurin pintunya!"

Rima yang tetap tenang di dalam kamarnya tak menggubris. Dirinya malah asik mengunyah makanan yang berada di mulutnya dengan salah satu mangkuk kertas dari restaurant terkenal di atas pahanya. Ya untuk makan pagi, siang, malam dan cemilan Rima membelinya via online. Setelah memastikan di rumahnya tak ada Resa ataupun Bobby, Rima akan berlari cepat menghampiri makanan yang telah ia pesan dan kembali mengunci dirinya di dalam kamar. Amat berterimakasih pada pendiri jasa berbasis online, Rima tak akan mati kelaparan di dalam kamarnya.

"Rima!!"

"YANG!" Rima mendengar satu lagi suara. Milik Bobby yang amat ia kenali. "KAMU APA-APAAN BAWA-BAWA PISAU GITU?" Rima tak mampu menahan kekehannya saat tahu tingkah absurd apa yang dilakukan kakaknya di balik pintu.

"AKU GEREGETAN MAS! RIMA BELUM MAU KELUAR! KALAU DIA SAKIT GIMANA?!" Tatapan Rima jatuh pada mangkuk diatas pangkuannya. Dan senyum bangga menghiasi wajah kecilnya. "Kalau dia sakit gimana? Kan dua hari lalu dia baru pulih."

"Biarin aja Rim, jangan peduliin. Kamu harus bertindak tegas supaya Mas dan Mbak nggak lagi ikut campur." Rapal Rima pada dirinya sendiri.

"Lagian bisa-bisanya mereka ngizinin orang asing deketin aku! Ibu sama Ayah sama aja! Mas Bobby dan Mbak Resa emang gila!" Gemas Rima menusuk sadis ayam di atas nasinya.

"Kabur aja kali ya? Cuti akukan belum pernah di pake. Alasannya recovery pasti di acc cepet sama Pak Erick." Ujar Rima lagi. Sepenuhnya mengabaikan keributan di balik pintu kamarnya yang terkunci. "Tapi nggak profesional banget." Lanjut Rima berbicara sendiri. "Tapi aku harus jauhan dari orang-orang yang berpotensi memberikan rasa nyaman." Mengkerutkan hidungnya, Rima memindahkan mangkuk kertasnya dan beralih menyambar ponselnya. Mencari kontak Erin dengan cepat, Rima mengetikkan idenya beberapa saat lalu. Dan tak membutuhkan waktu lama, balas dari Erin ia terima.

Malas mengetik pesan, Rima memilih menyambungkan telpon pada nomor ponsel Erim.

"Halo Rim."

"Gimana? Mau nggak?" Tembak Rima langsung.

"Dadakan banget. Lo dapat acc emang?" Rima terkekeh pelan mendengar jawaban dari Erin. "Belum sih, tapi gue yakin pasti di kasih."

"Ya paling 3 hari nggak bisa seminggu." Balas Erin. "Yaudah gue tetep ajuin, tapi kalo ternyata lo di acc duluan, berangkat duluan aja nanti gue nyusul."

"Oke. Lo maunya kemana?"

"KHIREIMA JUDITH!!"

"Ya ampun, Mbak Resa masih teriak-teriakan depan kamar?" Rima kembali memberikan Erin tawa, kali ini menertawakan kelakukan Resa. "Gue terserah ikut aja. Cuma grandmamma minta kunjungan nih. Lo mau?"

"Manchester banget? Jauh banget Erin. 3 hari mana cukup."

"Lo kan ngajuinnya seminggu. Kalau di approved kenapa nggak kesana aja? Udah lama juga Lo nggak ketemu grandmamma." Rima mengangguk-angguk mengerti. "Gue sih yakinnya di acc, Lo nggak pernah pake cutikan? Izin sakit aja nggak kecuali yang kemarin. Selama ini kerjaan Lo juga oke banget. Mumpung masih pertengahan tahun, bukan awal atau akhir tahun. 5 tahun kerja, evaluasinya selalu bagus, approved lah pasti."

end | GRAVITYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang