XXX

2.1K 259 43
                                        

Hati-hati kesalahan nama dan typo, koreksi boleh. Harap maklumi ya, suka khilaf ngetik nama soalnya.

* * * * *

Hari-hari berjalan amat cepat setelah acara bridal shower berlangsung. Satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, seminggu, sampai dua minggu berjalan tanpa hambatan yang berarti. Persiapan pernikahan tetap dijalankan dengan lancar dan damai—termasuk pendaftaran pernikahan di kantor KUA. Tak ada senggolan yang berarti karena seringnya Ibu Rima—Nesa dan Ibu Keanu—Indah memiliki pendapat yang sama. Pencarian seragam untuk dua resepsi juga sudah dilakukan. Hunting WO yang ternyata hanya memakan waktu satu hari—Sabtu saat Rima memilih souvenir sudah menghasilkan keputusan WO mana yang akan digunakan. Rima dan Keanu juga merasa cocok dengan taste makanan yang disediakan pihak WO. Gubukan pun sudah dipilih. Saat resepsi pertama, Rima dan Keanu sepakat memilih ice cream, soimay dan bakso. Sedangkan untuk resepsi kedua, menu gubukan yang terpilih adalah dimsum, puding, es kelapa dan sate.

Kini hanya hitung mundur hari menuju ijab-qabul terlaksana, tepatnya 8 hari menjelang pergantian status kedua manusia itu. Dan hari ini menjadi hari terakhir Keanu dapat bertemu dengan Rima. Satu pasang manusia itu sedang asik duduk bersandar di sofa ruang keluarga rumah Keanu. Mengapa Rima berada disini? Alasannya adalah untuk memberikan undangan pada beberapa tetangga yang ia kenal. Hari juga belum larut, jarum pendek masih berada di angka 7. Dan bertepatan pula dengan hari Sabtu dimana selama satu bulan belakangan ini mereka sering menghabiskannya berdua. Tak ada kegiatan berarti. Hanya membicarakan banyak hal, tak terkecuali pekerjaan. Keanu senang saja membicarakan apa yang ia kerjakan pada calon istrinya itu. Apalagi Rima tak pernah menunjukkan raut tak suka. Si perempuan menanggapi apa yang diocehkan oleh Keanu. Tak malu untuk bertanya jika ia memang tak mengerti dengan apa yang Keanu bicarakan. Setidaknya Rima menikmati apa yang mereka lakukan.

"Kamu nggak usah diet ya." Rima mengerutkan keningnya setelah berhasil menoleh pada Keanu. "Buat apa?" Tanya Rima heran.

"Mbak Resa bilang kamu jarang makan."

"Aku makan masih tiga kali sehari. Makananku pun masih nasi dan dengan porsi yang sama. Jadi diet dimananya?" Jawab Rima. "Mas dikerjain Mbak Resa. Dia jahil." Lanjut Rima.

"Bagus kalau gitu." Ujar Keanu dengan tangan yang sudah mengelus rambut Rima lembut. Jangan kaget dengan respon Rima yang diam saja. Selama satu bulan ini, Keanu semakin berani—bahkan si lelaki juga pernah mengecup merembet melumat bibir Rima walaupun tidak sering, si pria semakin sering melakukan skinship. Rima awalnya merasa amat berdebar dan tidak nyaman. Tapi lama kelamaan ia terbiasa dan malah beberapa kali dialah yang menarik lengan Keanu untuk dijadikan tempat sandaran.

"Kata Ibu Mas nggak boleh ketemu kamu sampai hari Hnya." Keluh Keanu. "Kenapa kamu setuju?" Lanjutnya lagi.

"Kan memang begitu aturannya." Balas Rima tenang. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kini Rima telah memundurkan tubuhnya dan bersandar nyaman diantara lekukan lengan dan dada Keanu. Tanpa canggung Keanu melipat lengannya dan membawa Rima semakin merapat ke dekapannya.

"Kan bisa tiga hari aja. Nanti yang antar jemput kamu siapa?"

"Ya Mas Bobby. Sebelumnya kan juga dia, terus sebulanan ini juga ternyata Mas jadwal pulangnya ga nentu."

"Kamu kok santai banget sih sayang? Nggak takut kangen Mas?" Tolong jangan umpati Keanu. Si pria hanya menjadi dirinya yang manja pada calon istrinya itu.

"Nggak usah lebay. Nanti juga ketemu lagi." Kali ini nada acuh terdengar dari suara Rima. Satu yang tak berubah, Rima dan keacuhannya. Jika bukan hal yang berarti atau penting, Rima akan mengabaikan segala hal tak terkecuali Keanu yang notabennya akan menjadi pasangan hidupnya kelak.

end | GRAVITYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang