XIX

1.7K 263 14
                                        

Keempat manusia itu berjalan acak meninggalkan meja yang sejak 93 menit lalu mereka tempati. Setelah menyelesaikan sholat Isya berjamaah, mereka memang memutuskan untuk pulang. Anak-anak Ghea, Fhatya dan Windi sudah memberenggutkan wajahnya karena sudah terlalu lelah.

"Thanks a lot untuk hari ini guys! Semoga pertemuan depan, Keanu dan Rima udah resmi ya."

"Ya udah pasti. Kita bakal ketemu pas Keanu lamaran lah." Rico membalas salam perpisahan dari Robbi.

"Maksud gue juga gitu Bapak."

"Makasih udah bersedia hadir ya Rima." Lisa menyela perdebatan konyol diantara Rico dan suaminya. "Semoga kamu nggak ngerasa takut sama mereka." Lanjutnya dengan selera humor yang rendah.

"Aku juga Mbak, terima kasih udah di sambut." Rima sudah menanggalkan sapaan formalnya pada keenam Mbak di depannya. Setelah 30 menit obrolan mereka terlewat, Rima menjadi agak terbiasa dan mengikuti saran dari Lisa untuk menanggalkan panggilan formalnya. Yang lainnya tentu saja menyetujui, karena menurut mereka Rima itu menggemaskan. Lurus sekali anaknya.

"Kamu hati-hati ya, kalo Keanu nakal, tendang aja kepalanya." Ghea yang berdiri di sebalah Rico yang menggendong putrinya ikut berkomentar. Well, Ghea tidak sedatar itu. Perempuan yang telah memiliki putri berusia 6 tahun itu ternyata mampu merasakan nyaman saat mengobrol dengan Rima. Ghea menerimanya dengan cepat seperti mereka memang kawan lama.

"Kejem banget Mbak." Keanu ikut berkomentar.

Sejak mendudukan bokongnya di alas tempat duduk makan lesehan tadi, Keanu tak juga melunturkan senyumnya. Dirinya amat senang—salah, tapi bahagia. Rima bukan hanya mampu beradaptasi dengan Ibunya yang tidak seperti kebanyakan orang, tetapi Rima juga mampu beradaptasi dengan keluarga dari abang-abangnya. Walaupun awalnya canggung dan kikuk, tapi Keanu tahu Rima mampu mengatasinya dan mendapatkan kenyaman tak lama kemudian.

"Sekali lagi makasih ya. Hati-hati di jalan." Kali ini Daniel yang mengucapkannya. Tangan kiri si pria yang tidak menggendong putranya membukakan pintu penumpang depan untuk istrinya.

"Sip, hati-hati juga." Balas Hanan.

Mengikuti abangnya, Keanu menyentuh punggung Rima dan mengarahkannya ke mobil miliknya. Membukakan pintu untuk Rima, lagi— Keanu meletakkan tangannya berjarak dari kepala Rima untuk menghindarkan benturan pada kepala si perempuan saat memasuki mobil. Setelah memastikan Rima telah mengenakan safebelt dan duduk dengan nyaman, Keanu berjalan masuk ke posisi mengemudinya.

Dalam perjalanan, Rima terlarut dalam lamunannya. Otaknya sibuk memikirkan segala yang telah terjadi, tepatnya setelah Keanu hadir di kehidupannya. Banyak yang berubah, pikir Rima. Sebelum Keanu datang dengan manuver kencangnya, Rima hanya bertemu dengan Resa, Bobby dan Erin. Tapi setelah di ajak berjalan beriringan dengan Keanu, hanya dalam kurun waktu 10 hari Rima sudah bertemu dengan lebih dari 20 manusia lain—tidak terhitung para nasabah. Bukankah sungguh menakjubkan?

Keadaan yang selalu bisa Rima kendalikan nyatanya berbalik memunggunginya saat Keanu hadir. Biasanya Rima selalu mampu mengendalikan situasi sekitarnya. Dia akan berdiri pada kakinya sendiri tanpa campur tangan orang lain bahkan kedua orang tuanya. Tapi lihat sekarang kamu gimana Rim.. gundah Rima di dalam hati.

Tapi bukan salah Keanu dong, kan kamu yang ngasih kesempatan untuk mengenal lebih jauh sosok Keanu. Malaikatnya kembali mengingatkan.

Helaan nafas Rima yang kedua kalinya berhasil menarik fokus Keanu—karena yang terdengar kali ini lebih kencang dan pasrah.

"Ada apa?" Rima menoleh ke sumber suara. Memandangi Keanu dengan lurus.

Berpikir, apa yang mau kamu tanyakan lagi? Batinnya.

end | GRAVITYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang