XIV

1.9K 289 6
                                        

"Sering-sering ya main ke Jogja, Bude seneng banget pas denger Rima lagi disini." Perempuan dengan hijab panjang yang menutupi kepalanya tengah mengantarkan kepulangan Rima dan Keanu di depan pelataran rumahnya. "Rima ini memang pendiem banget Mas Keanu, maklum ya. Di acara keluarga juga Rima sama pendiemnya."

"Ya Bude." Keanu hanya mampu mengeluarkan dua kata.

"Duh semoga cepet-cepet jadi ya Mas Keanu. Ini loh si Rima udah lama banget sendiri sejak pisah sama Mas Bobby." Rima mendengus malas mendengar kalimat penuh perhatian yang disampaikan Budenya.

"Ya Bude. Kalau begitu, kami pamit."

"Iya, makasih loh repot-repot bawain Bude bingkisan. Sayang banget Pakde nggak bisa pulang dulu dari tempatnya kerja. Anak-anak Bude juga masih pada di sekolah." Keanu mengangguk-angguk mengerti.

"Pamit Bude, assalamualaikum." Keanu yang lebih dulu mencium punggung tangan perempuan sepatuh baya baru setelahnya di ikuti oleh Rima yang wajahnya sudah tersetel datar.

"Waalaikumsalam, hati-hati yo." Keanu meletakkan telapak tangan lebarnya pada lekukan pinggang Rima. Membawa si perempuan mendekati mobil bagian penumpang depan dan membukakan pintu.

"Awas kepala." Ujar Keanu yang diabaikan oleh Rima. Setelah berhasil duduk, ia dengan segera memasang safebeltnya sendiri. Dan itu semua tak lepas dari perhatian Keanu. Si pria menyadari sejak 10 menit kedatangan mereka di rumah kerabat dari Ayah si perempuan, Rima mulai mengeluarkan shieldnya. Memasang wajah datar dan sulit di gapai yang mampu membuat Keanu sedikit gusar. Bagaimana tidak, selesai makan siang di pusat perbelanjaan tadi, wajah Rima masih ramah. Mereka masih saling melemparkan senyum bahkan sampai di mobil saat perjalanan pun lancar dengan obrolan singkat tetapi tidak menegangkan.

Bergerak gesit, Keanu menutup pintu milik Rima dan memutari bagian depan mobilnya untuk masuk kedalam kemudi.

"Kamu mau mampir kemana?" Keanu mengeluarkan suaranya. Tak betah dengan kesunyian di dalam mobil padahal satu setengah jam lalu mereka masih mengorbil di dalamnya.

"Nggak tau." Balas Rima yang memang lebih memilih memainkan ponselnya—karena ia juga baru saja mendapatkan pesan dari Erin.

Membaca pesan yang baru saja masuk, Rima mengetikkan balasan dengan cepat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Membaca pesan yang baru saja masuk, Rima mengetikkan balasan dengan cepat. Lalu balasan cepat dari Erin menunjukkan bahwa perempuan itu nenunggu balasan dirinya. Tanya KENAPAAAAA?!! yang dikirimkan Erin mampu menciptakan senyum geli Rima. Sahabatnya ini selalu mengerti Rima. Mendengarkan apa yang menjadi keluh-kesahnya. Memberikan masukan tanpa memaksa—secara langsung, dan selalu berada disisinya di kondisi apapun.

Rima kembali mengetikkan balasan, masih dengan senyum kecil yang menghiasi sudut bibirnya. Dan semua itu tak lepas dari lirikan Keanu. Si pria beberapa kali memang menolah guna memeriksa Rima.

"Kamu chattingan sama siapa?" Jiwa keposesifan Keanu muncul.

"Erin." Balas Rima jujur dan singkat. Terlalu malas membuat drama.

end | GRAVITYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang