XXII

1.8K 252 16
                                        

Gambaran rumah Keanu. Yang pasti nggak kayak Rima dan Resa yang tinggal di perumahan bersubsidi alias KPR, Keanu bangun rumahnya di kawasan komplek perumahan biasa—kayak contoh berada di dalam gang atau rumah-rumah biasa yang tiap desain dan typenya beda. Tergantung luas tanah dan keinginan pemilik.

* * * * *

"Mau nambah nasinya?" Keanu kembali melayangkan tanya pada Rima yang sejak pesanan mereka datang hanya duduk dengan tenang.

"Nggak Mas, saya udah kenyang." Keanu berusaha tak menampakkan raut mendungnya. Memang sejak percakapan seputar kamu pesan makan dan minum apa, sapaan Rima telah kembali. Si perempuan sudah mampu mengatasi serangan jamaah dari Keanu.

"Mas boleh ngomong?"

Astagfirullah. Baru reda. Ngada-ngada aja deh Bapak satu ini. Geram Rima di dalam hati. Kemana sapaan sayanya? Kenapa harus Mas?!

"Hmm.." Rima membalasnya hanya dengan deheman. Berusaha tak mengeluarkan suara atau dirinya akan ketahuan jika sedang berusaha menahan diri akibat serangan baru Keanu.

"Kita mulai dari hilangkan saya." Ujar Keanu. Tangannya sudah ia celupkan pada mangkuk kecil yang berisi air dengan irisan jeruk nipis. "Mas akan membahasakan diri Mas dengan Mas." Rima mendengarkan dengan tangan satunya yang bersih merogoh ke dalam tas miliknya. Berniat mengambil pack kecil tissue basah yang selalu ia bawa bersama tissue kering. "Kamu juga coba untuk belajar menggunakan aku. Terdengar lebih baik dari pada saya." Lanjut Keanu yang matanya masih menatap lurus Rima. Tak memperdulikan tangan perempuan yang duduk di depannya tengah bersusah payah merogoh tas.

"Kamu cari apa?" Tanya Keanu setelah mendapati Rima menundukkan kepalanya, membuat tatapan keduanya yang beberapa detik lalu saling bertukar kini terputus.

"Tissue." Ujarnya bersamaan dengan berhasilnya misi mengeluarkan tissue dari dalam tas.

Mengangkatnya, Rima menyodorkan pack tissue basah itu ke arah Keanu. "Terima kasih." Rima membalasnya dengan senyuman singkat.

"Lalu,.." Keanu melanjutkan, tangannya juga sibuk membersihkan sisa-sisa dari air cuci tangan seadanya di dalam mangkuk. "..Mas berencana menghubungi orang tua kamu nanti saat di rumah. Apa Ibu dan Ayah kamu ada jam malam untuk menelpon?"

"Nggak ada, Ibu kalau denger telpon ya di angkat. Kalau nggak ya nggak bakal di angkat." Balas Rima jujur.

Keanu mengangguk beberapa kali. "Mas akan menyampaikan sekali lagi niat Mas dan mencocokan jadwal kedua orang tua kamu."

"Syukur-syukur senin Ibu dan Ayah kamu lowong." Rima mengerutkan keningnya tak setuju.

"Kemarin sa—" Rima menghentikan kalimatnya saat Keanu ikut menatapnya dengan kening berkerut. Terjeda beberapa detik, Rima menyadari maksud kerutan kening si pria. Berdehem, Rima mengulangi kalimatnya. "Kemarin aku baru aja cuti. Nggak bakal bisa ngajuin lagi. Lagi pula nggak etis banget, baru masuk sehari masa udah ambil cuti lagi."

"Cuti hak semua pegawai."

"Memang, tapi kayak yang saya bilang, nggak etis aja kalo saya ambil cuti lagi padahal sudah dapat empat hari minggu lalu." Jawab Rima. "Maksudnya aku." Ralatnya cepat.

"Rabu tanggal merah." Keanu kembali berujar.

"Emang iya?" Keanu mengangguk sekali dan mengambil ponselnya yang telungkup di atas meja. Tangannya sudah bersih. Rima yang sudah merasa amat kenyang ikut menghentikan makannya. Masih tersisa dua suap nasi, tapi perut Rima sudah terasa penuh. Mengikuti langkah Keanu, Rima lebih dulu membasuh tangannya. Pertama ke mangkuk milik Keanu, baru setelahnya ke milik ia yang masih bersih. Memainkan jeruk yang berada di dalam mangkuk, sodoran ponsel Keanu menghentikan kegiatannya.

end | GRAVITYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang