Pendekar Cakram

1.6K 107 1
                                        

Lingga dan Abhinaya tiba di penginapan, mereka berdua langsung masuk ke kamar. Ternyata Sanjaya dan Asta sudah menunggu kedatangan mereka.

"Wah ku pikir kau hilang disambar demit" gurau Sanjaya.

"Maaf aku ada urusan sedikit untung saja seorang malaikat tampan menolongku" ucap Lingga sambil melirik Abhinaya.

"Cepat bereskan barang-barang kalian, kita keluar penginapan sekarang juga" Abhinaya beri perintah. Semuanya mematuhi perintah itu. Namun baru saja mereka keluar penginapan setelah membayar semua biaya penginapan mereka berempat telah dikurung dua lusin pasukan desa yang dipimpin seorang tua gagah berpakaian bagus, dialah Ki Sedatuh kepala kampung Desa Bangir, disampingnya berdiri sang putera Cakranata.

Pemuda bernama Cakranata langsung menunjuk Lingga Putra.

"Dialah romo yang telah menyerang ananda dan melumpuhkan empat prajurit desa"

"Tunggu apalagi tangkap para pengacau ini" perintah Ki Sedatuh.

Selusin pasukan bergerak sedangkan selusin sisanya berjaga-jaga jangan sampai keempat pemuda itu kabur.

"Kau lihat akibat perbuatanmu tadi, kita malah membuat Desa ini kacau" tutur Abhinaya, dia sangat malas jika buang-buang waktu harus berurusan dengan orang-orang kecil ini. Dalam pikirannya dia hanya ingin keluar dari desa ini secepatnya. Maka Abhinaya keluarkan kipas hitam yang selalu disimpannya dibalik baju dan rompinya. Kipas dibuka dan langsung dikibaskan ke depan, satu gelombang sederas topan mementalkan selusin prajurit yang tengah bergerak sambil menghunuskan tombak dan pedang. Selusin prajurit itu jatuh bergedebukan ditanah meski tidak mengalami luka sedikitpun namun selusin prajurit itu rasakan tubuh kaku tidak bisa digerakkan, mereka hanya bisa mengerang karena rasa lemas disekujur tubuh mereka.

Ki Sedatuh juga Cakranata terkesiap melihat selusin prajurit bisa langsung dirobohkan hanya dalam satu serangan. Abhinaya tutup kipasnya dan menimang-nimang senjatanya itu.

"Hahahaha seorang pendekar besar ternyata suka melawan bangsa kunyuk murahan" tiba-tiba terdengar suara tawa disertai hinaan yang jelas ditujukan pada Abhinaya  dari belakang barisan prajurit pengaman desa. Terdengar suara berkesiuran, dari belakang barisan pengaman desa melesat dua benda bundar bergerigi kehitaman dengan kecepatan luar biasa menuju Abhinaya.

Kedua bola mata Abhinaya terkesiap kaget. Dalam kagetnya karena diserang tiba-tiba begitu, Abhinaya lakukan gerakan kayang untuk menghindari serangan itu dengan memusatkan titik bobotnya di kedua kaki, saat kedua benda bundar bergerigi yang melesat seraya berputar itu lewat diatas dadanya Abhinaya hantamkan tangan kanan yang memegang kipas ke badan bagian bawah cakram bergerigi itu.
"Trang trang" dua benda itu terpental ke atas berputar-putar laksana koin yang dilemparkan.

Asta cepat ketuk petinya membuat dua buah pedang melesat dari dalam petinya yang segera ditangkap dengan kedua tangan, cepat sekali Asta melesat kearah cakram yang terpental itu, lalu trang trang di babatnya cakram itu dengan pedangnya membuat cakram tajam itu melesat berbalik ke arah  datangnya serangan.  Asta rasakan tangannya bergetar hebat. Ketika dia mendarat ke tanah kakinya sedikit limbung.

Abhinaya sendiri melihat kulit luar jari-jarinya ada yang lecet akibat menghantamkan kipasnya ke badan cakram tadi. Abhinaya dan Asta cepat ambil posisi menjaga Lingga.
Terdengar suara tepukan tangan keras menggema.

"Hebat hebat, tak percuma kalian berdua menjadi anggota Tiga Pendekar Terbuang. Jika saja teman kalian yang satu itu masih hidup pasti Tiga Pendekar Terbuang akan sulit dikalahkan"
Satu sosok berjubah coklat disertai sulaman benang emas muncul, seorang pria paruh baya gagah dengan kumis dan jenggot tipis menghias wajah. Rambutnya yang hitam sebahu mulai diselipi uban. Namun wajahnya masih mengambarkan kegagahan sekaligus kekejaman walau mulai berkerut sedikit.

ASMARA BERDARAH (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang