Sanjaya merasa jengkel sendiri menunggui Lingga karena memikirkan perbuatan pemuda aneh itu. Sesekali dia memperhatikan keadaan di dalam rumah kayu itu. Juga memandang keluar, sejauh mata memandang terhampar halaman luas yang dipenuhi tumbuhan, ada telaga tak seberapa besar di halaman rumah itu, namun keheranan Sanjaya adalah tempat itu di kelilingi lingkaran tebing batu dan rumah kayu besar itu adalah satu-satunya bangunan di sana.
"Aneh, tempat apa ini?" tanya Sanjaya, keadaan telaga yang bersih membuatnya ingin mandi, dan itu dilakukannya. Selesai mandi dilihatnya langit mulai kemerahan pertanda senja sampai di penghujung, bergegas dia kembali ke ruangan dimana Lingga dirawat. Dan hatinya berdebar senang begitu dilihatnya Lingga telah sadar bahkan telah duduk diatas gedebok pisang itu sambil pandangi dirinya yang bertelanjang bulat, kulitnya telah kembali ke warna semula, kuning langsat, wajahnya yang pucat kembali cerah.
"Sanjaya" ucapnya pelan begitu melihat kehadiran temannya.
"Hei kau sudah sadar" Seru Sanjaya cepat sekali dia menubruk Lingga dan memeluknya. Lingga merasa haru melihat kebahagiaan temannya itu.
"Kita dimana?" tanya Lingga.
"Kita ada di.." belum sempat Sanjaya menjawab satu suara menyahut.
"Huh sudah sembuh rupanya si lepat pisang, ku kira sudah mampus" tampak pemuda aneh telah berdiri di pintu ruangan dengan memanggul keranjang yang berisi aneka sayur juga ayam yang sudah direbus juga beberapa ekor ikan yang sudah dipesiangi.
"Kau..." Lingga berseru tertahan, kedua matanya menatap wajah pemuda di depannya. Begitupula si pemuda aneh. Waktu terasa berhenti sesaat, suasana mendadak hening, hanya ada suara jantung di dada Lingga juga si pemuda yang didengar oleh telinga keduanya masing-masing. Lingga sendiri tidak tau mengapa tiba-tiba dadanya berdebar-debar. Empat mata itu terus beradu, pemuda aneh yang biasanya tak mau kalah dalam adu pandang kali ini entah kenapa cepat-cepat alihkan pandangannya ketika dirasanya ada denyut aneh yang sejuk di relung jantungnya.
"Kalau dia sudah sembuh harap bawa dia membersihkan diri di telaga, setelah itu cari pakaian di kamar tempatmu sebelumnya. Istirahat sampai aku selesai membuat makanan" aneh, biasanya nada suara yang ketus dan dingin mendadak lirih bahkan ada getaran yang tanpa disadari oleh Sanjaya maupun Lingga. Setelah menghembuskan nafas si pemuda aneh itu berjalan menuju dapur.
"Sanjaya dia?" Lingga bertanya seraya terus melihat pemuda itu.
"Dia si caping lebar, dia yang telah menolongmu juga menolongku"
Sanjaya memapah pundak kanan Lingga bangkit dan berjalan menuju ke telaga di halaman depan agak kesamping kiri, sementara tangan kiri Lingga menutupi auratnya.
Sampai di telaga Lingga membersihkan diri, di tepian yang terbuat dari batu, sepertinya memang dipersiapkan untuk tempat mandi. Rasanya segar sekali, gayung batok kelapa itu di cidukkannya ke telaga untuk mengambil air, dan langsung dialirkannya ke tubuhnya. Bahkan di sana ada juga sejenis sabun memancarkan aroma yang harum. Lingga memakainya, sedangkan Sanjaya mengawasi dari jarak lima langkah.
"Sudah berapa lama aku pingsan?" tanya Lingga sambil menggosokkan sabun ke pahanya.
"Mungkin tiga hari dua malam"
"Aku tak yakin aku rasa mungkin 4 hari"
"Entahlah, aku juga sebelumnya dalam keadaan pingsan"
"Apa kau yang menelanjangiku?" tanya Lingga
"Heh, pertanyaan apa itu, si pemuda galak itu yang punya kerja, aku juga ketika pingsan ditelanjanginya awas saja suatu saat aku yang akan gantian menelanjanginya" sahut Sanjaya sambil bersandar kepada pohon kecil.
"Kalau kau sudah menelanjanginya, terus mau kau apakan?" tanya Lingga.
"Kampret, eh anu ah apa ya , digoyanglah?" jawab Sanjaya gelagapan. Lingga tertawa melihatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasywarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
